Saturday, March 12, 2011

Pilih CIMB Niaga atau Danamon ?

(Bisnis Indonesia)

Keberhasilan PT Bank CIMB Niaga Tbk mempertahankan posisinya sebagai jawara papan tengah dari 10 bank dengan aset terbesar layak diapresiasi. Bagaimana prospek pesaing terdekatnya, PT Bank Danamon Indonesia Tbk?

Kompetisi antarbank papan tengah, yang nilai asetnya berkisar antara Rp100 triliun sampai Rp200 triliun, jelas tidak kalah menarik dibandingkan dengan kompetisi di level lebih tinggi dengan aset di atas Rp200 triliun.

Sampai 31 Desember 2010, hanya terdapat 3 bank dalam kategori itu, yakni CIMB Niaga dengan aset Rp142,93 triliun, Danamon Rp113,86 triliun, dan Panin Rp106,51 triliun. Dari 10 bank terbesar, ketiganya menempati posisi 5,6, dan 7.

Sebelum membahas kinerja CIMB Niaga dan Danamon, mungkin baik kita melihat sekilas sejarahnya. Bank CIMB Niaga awalnya bernama Bank Niaga dan didirikan pada 1955. Bank Niaga mulai mencatatkan sahamnya di bursa pada 1989.

Namun, pada November 2002, Commerce Asset-Holding Berhad (CAHB) yang kini dikenal sebagai CIMB Group Holdings Berhad (CIMB Group Holdings) mencaplok saham mayoritas Bank Niaga dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

Selanjutnya, pada 1 November 2008, LippoBank pun secara resmi bergabung ke Bank CIMB Niaga. Dengan komposisi saat ini, bank yang dipimpin oleh Arwin Rasyid menggabungkan kekuatan di bidang perbankan ritel, usaha kecil menengah dan korporasi.

Sementara itu, Bank Danamon berdiri 1 tahun setelahnya yakni pada 1956 dengan nama PT Bank Kopra Indonesia. Kemudian pada 1976 berubah menjadi Bank Danamon Indonesia. Pada 1989 Bank Danamon akhirnya mencatatkan sahamnya di bursa.

Pada 2003, Asia Financial Pte. Ltd (Indonesia) mengakuisisi Danamon melalui konsorsium Fullerton Financial Holdings, anak perusahaan yang dimiliki oleh Temasek Holdings, dan Deutsche Bank AG yang merupakan pemegang saham pengendali.

Apabila kinerjanya pada tahun lalu dibandingkan, terlihat apabila baik CIMB Niaga maupun Danamon sama-sama menunjukkan peningkatan yang signifikan. Dari sisi neraca laba rugi, kedua emiten juga berhasil membukukan laba bersih di atas 50%.

Laba bersih CIMB Niaga yang sahamnya berkode BNGA tumbuh 62,82% jadi Rp2,54 triliun dari posisi tahun sebelumnya Rp1,56 triliun. Sementara, laba bersih Danamon yang sahamnya berkode BDMN tumbuh 88,18% jadi Rp2,88 triliun dari posisi sebelumnya Rp1,53 triliun.

Peningkatan laba CIMB Niaga terjadi seiring meningkatnya pendapatan bunga bersih sebesar 19,18% menjadi Rp7,33 triliun dari Rp6,15 triliun. Pertumbuhan juga terjadi pada pendapatan operasional perseroan sebesar 5,43% dari Rp1,29 triliun menjadi Rp1,36 triliun.

Akan tetapi, beban operasional perseroan juga meningkat menjadi Rp4,35 triliun dari Rp3,75 triliun. Hal tersebut mengakibatkan laba operasional perseroan tumbuh 51,58% menjadi Rp3,35 triliun dari Rp2,21 triliun.

Adapun lonjakan laba bersih Bank Danamon terjadi seiring peningkatan pendapatan bunga bersih 4,72% menjadi Rp9,91 triliun dari Rp9,46 triliun. Selain itu, pendapatan operasional juga naik 24,32% menjadi Rp3,58 triliun dari Rp2,88 triliun.

Beruntungnya, beban operasional turun 5,6% menjadi Rp9,23 triliun dari Rp9,79 triliun. Hal ini mengakibatkan laba sebelum pajak naik 68,82% menjadi Rp4 triliun dari capaian tahun sebelumnya, Rp2,37 triliun.

Dari sisi intermediasi, jumlah dana pihak ketiga (DPK) CIMB Niaga naik 36,63% menjadi Rp117,83 triliun dari capaian tahun sebelumnya Rp86,24 triliun. Untuk penyaluran kredit tumbuh 25,26% menjadi Rp100,35 triliun dari posisi tahun sebelumnya Rp80,11 triliun.

Adapun, pengumpulan DPK Bank Danamon tumbuh 18,37% menjadi Rp79,48 triliun dari capaian tahun sebelumnya Rp67,14 triliun. Untuk penyaluran kredit naik 25,52% menjadi Rp73,25 triliun dari posisi tahun sebelumnya Rp58,36 triliun.

Dengan membaca angka-angka tersebut, kita akan segera sampai pada kesimpulan, bahwa meski secara ukuran atau nilai CIMB Niaga praktis masih lebih besar, pertumbuhan kinerja yang ditunjukkan Danamon tidak bisa sama sekali diremehkan.

Analis PT Kim Eng Securities Rahmi Marina mengatakan tanpa perubahan strategi bisnis utama perseroan, tahun ini pertumbuhan kredit perseroan masih bisa tumbuh 15%-20%. Angka itu relatif tidak berubah dari posisi tahun lalu.

Namun, tanpa menimbang rumors akuisisi perseroan yang juga dianggap priced in pada harga saham Danamon yang sepanjang tahun berjalan terbuykti menjadi saham berkinerja terbaik di sektor perbankan, Rahmi memperkirakan BDMN dapat tembus Rp7.100 per unit.

Lebih optimistis dari proyeksi itu, analis PT Water Front Securities Isfan Helmy Asad malah berani memprediksi harga saham Bank Danamon bisa melonjak hingga Rp9.500 dan bisa menjadi salah salah satu pilihan utama investor.

"Prospek Danamon cukup bagus. Secara fundamental baik. Funding bagus dan kuat di kredit konsumer. Permodalan juga cukup. Harga sahamnya kalau saya perkirakan bisa sampai Rp9.500 tahun depan," katanya.

Untuk kinerja Bank CIMB Niaga Kepala Riset PT MNC Securities Edwin sebayang menilai pertumbuhan yang terjadi cukup sesuai dengan targetnya yakni pendapatan bunga bersih yang mencapai sekitar Rp7,33 triliun dan laba bersih hampir mencapai Rp 2,56 triliun.

Pada tahun ini perseroan memperkirakan pertumbuhan kredit bisa berada pada kisaran 22% dan harga saham BNGA mampu menembus kisaran Rp1.980 per lembar saham. Edwin juga melihat Bank CIMB Niaga cukup agresif dalam menyalurkan pembiayaan.

Hal ini terlihat dari pertumbuhan kredit perseroan serta rasio pinjaman terhadap simpanan (loan to deposit ratio /LDR) berada pada kisaran 88,04% dengan NPL berada pada kisaran 2,59%. Jadi, apa pilihan Anda?

No comments: