Monday, March 14, 2011

Kejar tayang di industri media televisi


Hari ini, 14 Maret, PT Trans Media Corpora, pengelola stasiun televisi Trans TV dan Trans 7, meneken perjanjian kredit sindikasi senilai US$450 juta dari sembilan bank yakni PT ANZ Panin Bank, BNP Paribas, Citibank N.A, Credit Suisse AG, HSBC Ltd, ING Bank NV, J.P. Morgan Securities Ltd, Royal Bank of Scotland dan Standard Chartered.

CEO Para Group Chairul Tanjung mengatakan sebagian besar kredit itu akan digunakan untuk membayar pinjaman (refinancing) senilai US$350 juta dari empat bank yakni Citibank, JP Morgan, Credit Suisse dan ING Bank.

Pinjaman US$350 juta itu, tuturnya, dikucurkan tahun lalu untuk mengakuisisi PT Carrefour Indonesia. “Jadi sebagian pinjaman, yakni US$350 juta itu untuk refinancing pinjaman yang tahun lalu digunakan mengakuisisi Carrefour,” ujarnya.

Sedangkan US$100 juta sisanya, menurut dia akan digunakan untuk pembangunan studio televisi Trans Media yang baru. “Lokasi di Jakarta, tapi untuk detailnya belum bisa disampaikan karena ini akan jadi kejutan,” jelasnya.

Dia menjelaskan untuk pembangunan studio baru itu akan dimulai pada tahun depan dan diharapkan sudah selesai pada 2013. “Pada tahun ini dilakukan pembelihan tanah, tahun depan pembangunan dan 2013 diharapkan sudah selesai,” jelasnya.

Dia juga tidak mau menyebutkan berapa dana yang dibutuhkan untuk membangun studio baru tersebut. “Kalau kebutuhan dana seluruhnya sangat besar karena ini merupakan komplek yang terintegrasi,” jelasnya.

Dia mengatakan luas studio baru itu diharapkan bisa mencapai 100 hektar dan dibutuhkan dana sekitar Rp10 triliun. Konsep studio itu akan berupa komplek dan akan dinamakan Trans City.

Menurut dia pembangunan studio dilakukan untuk menghadapi persaingan kedepan yang makin kompetitif dan antisipasi era siaran digital. “Pembangunan studio baru ini untuk mengantisipasi era digitalisasi, untuk proses ini kami mempersiapkan diri, sehingga saat era digital kami sudah siap,” kata Chairul Tanjung.

Ya, Trans Corp memang harus pasang kuda-kuda jika melihat persaingan industri media yang kian ketat terutama di segmen televisi.

Februari lalu, perhatian pelaku pasar modal Tanah Air sempat tersita pada rencana aksi korporasi yang melibatkan industri media nasional.

Jelang penutupan pasar pada 21 Februari lalu, investor tiba-tiba berburu saham tiga emiten, a.l. PT Elang Mahkota Teknologi Tbk, PT Indosiar Karya Media Tbk, dan PT Surya Citra Media Tbk.

Pangkal persoalannya adalah laporan direksi Indosiar Karya Media yang disampaikan secara terbuka kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) mengenai rencana penggabungan usaha yang melibatkan Indosiar dengan Elang Mahkota Teknologi, induk usaha Surya Citra Media pengendali stasiun televisi SCTV.

Usai pengumuman itu, harga saham ketiga emiten di pasar reguler naik tajam. Saham Indosiar dengan kode IDKM ditutup naik 6% dari posisi Rp950 ke Rp1.050, sementara saham Elang Mahkota Teknologi (EMTK) melesat 13% dari Rp1.180 ke Rp1.340 dan saham Surya Citra Media (SCMA) bertengger Rp3.800, naik 8,57% dari level harga sebelumnya Rp3.500.

Abaikan saja soal reaksi kenaikan harga emiten itu. Yang menarik adalah kelanjutan dari seluruh proses yang diumumkan tersebut. Manajemen Elang Mahkota resmi menyatakan pembelian 27,24%, setara 551,71 juta lembar saham PT Prima Visualindo- satu pemegang saham utama Indosiar.

Nilai transaksi pembelian saham stasiun televisi tersebut mencapai Rp496,54 miliar atau Rp900 per lembar saham. Belum tuntas transaksi yang melibatkan dua keluarga pengusaha papan atas, Sariaatmadja pemegang Elang Mahkota Teknologi dan Salim di Indosiar, melintas keluarga Aburizal Bakrie.

Lewat kelompok bisnis media yang berkibar melalui bendera PT Visi Media Asia, Grup Bakrie ini mengumumkan rencana penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) Visi Media Asia paling lambat tahun ini.

Mengendalikan dua stasiun televisi free on air Antv lewat PT Cakrawala Andalas Televisi dan PT Lativi Media Karya dengan stasiun andalannya TvOne, serta satu jaringan televisi kabel Channel [V] Indonesia, kelompok bisnis ini mencoba peruntungannya di lantai bursa.

Di luar bisnis penyiaran televisi, Bakrie juga memiliki portal berita online Vivanews.com di bawah bendera PT Viva Media Baru. Memang belum dipastikan target dana yang diperoleh dari IPO ini.

Kabar yang beredar Visi Media Asia mengincar modal segar tak kurang dari Rp1 triliun untuk mengembangkan bisnis medianya. Grup Bisnis Indonesia pun disebut-sebut siap melantai di bursa.

Meski kiprahnya di pasar modal tak mentereng, emiten media yang tercatat namanya di BEI banyak dikendalaikan oleh sejumlah nama besar pengusaha papan atas Tanah Air. Paling akrab di telinga publik tentu nama PT Media Nusantara Citra Tbk, grup media milik Hary Tanoesudibyo.

Kelompok ini mengendalikan tiga stasiun televisi RCTI, Global TV, dan MNC TV, serta satu media cetak Seputar Indonesia, termasuk portal berita online Okezone.com. Tak hanya berhenti di situ, Hary Tanoe juga tengah bersiap melepas 25%-30% kepemilikan di PT MNC Sky Vision melalui skema IPO paling cepat kuartal III/2011.

MNC Sky Vision ini merupakan penyedia jaringan televisi kabel bermerek Indovisioon dan Top TV yang menguasai 78% pasar televisi berjaringan di Indonesia. Pada 2010, kelompok usaha dengan kode saham MNCN ini membukukan pendapatan hingga Rp4,99 triliun dengan laba bersih sebesar Rp748 miliar.

Di luar itu MNCN, terdapat pula nama PT Mahaka Media Tbk, penerbit harian umum Republika. Perseroan dengan kode saham ABBA ini merupakan kelompok usaha yang tergabung dalam Mahaka Grup, milik Thohir bersaudara. Baru-baru ini, majalah Forbes menempatkan Garibaldi Thohir sebagai orang terkaya nomor 10 di Indonesia dengan jumlah harta mencapai US$5 miliar.

Selanjutnya, penerbit Majalah tempo dan Koran Tempo, PT Tempo Inti Media Tbk.

Inilah pasar modal. Nama besar dibaliknya belum tentu menjadikan sahamnya menjadi buruan utama dan masuk kelompok saham papan atas di papan bursa, meski tak sedikit pula yang mencoba peruntungannya.

Dalam sebuah sesi diskusi yang digelar Asosiasi Analis Emiten Indonesia (AAEI) akhir tahun lalu, saham industri media tak termasuk yang direkomendasi layak koleksi. Prospek saham yang dinilai menarik tahun ini masih seputar saham sektor pertambangan, perkebunan, konstruksi, dan properti.

Tentu alasannya logis, tren kenaikan harga komoditas tambang dan perkebunan di pasar internasional berpeluang mendongkrak kinerja emiten yang bergerak di sektor tersebut. Sementara emiten konstruksi dan properti, lebih diuntungkan dengan proyeksi nilai belanja infrastruktur pemerintah yang tahun ini lebih dari Rp100 triliun.

Akan tetapi, bukan berarti industri media ini pantas diabaikan begitu saja. Pendapat pelaku pasar, industri media yang tercatat di lantai bursa menunjukan kinerja yang cukup positif tahun lalu. Vice President PT Erdikha Elit Sekuritas M. Reza mengungkapkan pertumbuhan laba bersih per lembar saham (earning per share) industri media beberapa waktu terakhir cukup bagus di kisaran 30%-50%.

Pada dasarnya kinerja saham industri media jauh dari sentimen negatif, seperti isu kenaikan harga BBM, perubahan suku bunga perbankan maupun fluktuasi harga komoditas. Kinerja emiten ini lebih bergantung pada kesetiaan pemirsa maupun pembacanya dan belanja iklan.

Melihat survei perusahaan informasi dan media global, The Nielsen Company tentu pasar boleh merespons secara positif. Riset yang dilakukan lembaga itu mencatat belanja iklan 2010 mencapai angka Rp60 triliun. Dari nilai tersebut, 60% di antaranya terserap oleh industri televisi, sementara suart kabar dan tabloid masing-masing 34% dan 3%. Dengan asumsi pertumbuhan tahun ini sekitar 15%, belanja iklan 2011 diperkirakan mendekati Rp70 triliun.

Tentu ini kabar baik bagi pelaku industri media. Ketika buruan investor pada saham sektor pertambangan, kontruksi, perkebunan begitu kuat, tak ada salahanya melirik saham emiten media, meski dari sisi rasio harga saham terhadap laba bersih per lembar (PE) masih tergolong tinggi.

(thanks to Gita Arwana Cakti & Stefanus Arief Setiaji/Please read Bisnis Indonesia Newspaper)

No comments: