Posts

Harapan Baru untuk Anies-Sandi, Pemimpin Baru Jakarta

Image
Penantian itu menuju akhir. Jika tak ada halangan, hari ini (16/10) Presiden Joko Widodo akan melantik Anies Baswedan dan Sandiaga Uno selaku pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta periode 2017-2022.



(http://kabar24.bisnis.com/read/20171016/15/699790/ketemu-presiden-jokowi-kata-anies-baswedan-lebih-banyak-guyonan)
(http://kabar24.bisnis.com/read/20171016/15/699793/anie-baswedan-pidato-singkat-di-serah-terima-jabatan)

Kita tahu bersama, pemilihan kepala daerah DKI 2017 begitu panas dan membuat masyarakat di ibukota terbelah sikap. Pro kontra gonta-ganti bermunculan, dan tentu saja masih menyisakan hingga kini.

Tanpa itu pun, sebenarnya mengurus DKI bukanlah mudah. Jakarta atau sering disebut J-Town dan Big Durian memiliki kompleksitas persoalan yang tak mudah. Gubernur silih berganti, persoalan lama belumlah sepenuhnya teratasi.

Apresiasi tetap harus diberikan kepada para pemimpin DKI sebelumnya seperti Sutiyoso, Fauzi Bowo, Joko Widodo, Basuki Tjahaja Purna…

Memahami Hubungan Anak Milenial, Pulsa, dan Game Online

Image
Dua bulan lalu, setiap disuruh, dia selalu minta upah. “Bi, Rp30.000 ya,” kata Ale, anak saya.



Uang sebanyak Rp30.000 itu bukanlah untuk dia jajan, apalagi untuk tabungan. Uang sebanyak itu untuk anak Sekolah Dasar, menurut saya sih sudah demikian banyak. Maklum dulu zaman saya SD, uang jajan hanyalah Rp25-Rp100.

Itupun kadang-kadang kalau gak bawa bekal dari rumah. Bahkan saya pernah beberapa kali ke lapangan tenis, bantuin mengambil bola. Lumayan dulu bisa dapat Rp150 dari ibu-ibu dan bapak-bapak yang main tenis.

Kini, cerita uang jajan dengan nilai ratusan rupiah jelas hal yang muskil. Bagi Ale, uang Rp30.000 itu nilai harian biasa. Kecil bahkan.

Namun, bagi Ale, uang senilai Rp30.000 bukan dia minta secara tunai. “Pulsa ya,” ujarnya.

“Mau uang Rp50.000 atau pulsa Rp50.000,” kata saya, coba menawar. Siapa tahu, dia memilih uang tunai Rp50.000, biar nanti Rp30.000 jajan, terus Rp20.000 disimpan untuk tabungan.

“Pulsa Rp50.000,” jawab Ale, tegas dan yakin.

Yap, zaman anak sekarang, p…

Jangan Hanya Andalkan Bunga Murah

Terjepit dan serba salah. Kondisi itu menggambarkan situasi di industri keuangan saat ini, suku bunga tinggi dikritik, suku bunga melandai dan cenderung rendah pun tetap saja menuai keluhan.

Sejatinya, pergerakan suku bunga perbankan memang harus disikapi secara hati-hati. Dalam hal ini kebijakan suku bunga berada di tangan Bank Indonesia selaku otoritas moneter yang berfungsi menjaga nilai rupiah.

Ketika nilai rupiah terhadap barang dan jasa naik atau terjadi inflasi, suku bunga bank yang tinggi diharapkan dapat menarik kembali uang beredar ke dalam sistem keuangan. Begitu pula sebaliknya, bunga rendah diperlukan untuk menggerakkan ekonomi.

Dalam tataran praktis, suku bunga yang ditetapkan Bank Indonesia sebagai acuan bagi perbankan menetapkan suku bunga bagi penempatan dana simpanan maupun penyaluran dana pinjaman.

Dalam 2 bulan terakhir, suku bunga acuan telah dipangkas sekitar 150 basis poin (bps). Di bank umum, respons terbesar terjadi di pemangkasan suku bunga deposito sebesar…

Beri Napas Untuk Perbankan

Seperti belum berubah tiap tahun. Lagi-lagi persoalan ekspansi kredit perbankan yang belum optimal kembali menjadi sorotan.

Berbagai persoalan seakan masih menjadi penghambat bagi bank untuk menyalurkan dana yang dihimpunnya, kembali kepada masyarakat sebagai pinjaman kredit. Biar bagaimanapun kredit perbankan masih menjadi penopang ekonomi nasional.

Bahkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam berbagai kesempatan selalu menyuarakan pentingnya memaksimalkan fungsi intermediasi perbankan. Terutama, kala pembangunan infrastruktur begitu berharap dari uang bank.

Tahun ini, pemerintah berharap kredit baru dari perbankan bisa mencapai Rp370 triliun untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 5,2%. Bahkan tahun depan, target kredit perbankan dinaikkan Rp113 triliun hingga mencapai Rp483 triliun untuk mendukung pertumbuhan 5,4%.

Namun, fakta itu belum berubah. Kredit yang disalurkan perbankan pada tahun ini seakan seret, terganjal, belum terserap, dan berbagai alasan lain.

Data Otoritas Jasa K…

Jangan Sampai Ketinggalan Zaman

Image
Bel peringatan itu kembali berbunyi. Kali ini, bunyi nyaring berasal dari berita penutupan toko milik beberapa peritel besar yang menjadi bahan pembicaraan para pelaku bisnis, terutama di sektor ritel dan industri terkait.



Di satu sisi, penutupan toko boleh jadi sebagai strategi bisnis perusahaan ritel untuk mencari lokasi-lokasi baru yang prospektif untuk ekspansi usaha. Sebaliknya, penutupan toko bisa dikarenakan kinerja tak sesuai harapan.

Saat ini banyak toko dan gerai penjualan yang berada di lokasi yang semula dianggap prospektif, belakangan mengalami kemunduran karena sejumlah alasan. Keputusan bisnis pun dibuat, daripada merugi, lebih baik memang ditutup.

Sejumlah faktor yang disinyalir menjadi sebabnya yakni turunnya daya beli, konsumen yang menahan belanja, atau persaingan ketat di sesama peritel, khususnya setelah hadirnya platform ritel online, dan lainnya.

Bagi sebagian pihak, inilah sebuah keniscayaan di era digital. Kenyataan yang harus dihadapi para pebisnis kini bukan…

Menanti Suku Bunga Kembali Murah

Image
Sejak penggunaan BI 7-Day Repo Rate sebagai suku bunga acuan berlaku mulai 19 Agustus 2016, tercatat hanya tiga kali posisinya berubah menjadi lebih rendah.

Tepat setahun lalu, pada 22 September 2016, Bank Indonesia memangkas BI 7-DRR sebesar 25 basis poin dari 5,25% menjadi 5,00%. Selang sebulan kemudian, acuan bunga ini pun kembali terpangkas 25 bps menjadi 4,75%.

Setelah itu, posisi 4,75% bertahan hingga Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 21-22 Agustus 2017 memutuskan untuk menurunkan BI 7-DRR menjadi 4,50%.

Bank sentral juga memotong suku bunga deposit facility 25 bps menjadi 3,75% dan lending facility turun 25 bps menjadi 5,25%, berlaku efektif sejak 23 Agustus 2017.

Hari ini, 22 September 2017, rencananya BI kembali menggelar RDG bulanan. Apakah suku bunga acuan akan kembali diturunkan? Apakah penurunan bulan direspons positif? Apakah bank-bank telah menurunkan bunganya?



Pada Agustus lalu, keputusan bank sentral memangkas suku bunga acuan tentu tidak dilakukan deng…

Semua Pasti Akan Berpulang

Image
Pertanyaan itu beberapa kali terucap. "Kenapa di dalam kamar kok ada saluran pembuangan air?" tanya istri saya setiap kami pulang ke rumah neneknya Ale.

Orang-orang di rumah itu hanya tersenyum, penuh arti.

Bagi yang tak biasa, memang aneh. Di dalam kamar, bukan kamar mandi, justru dibuat ada saluran pembuangan air. Itu ada di setiap kamar, bukan hanya kamar tidur yang kami tempati.

Jawaban itu muncul sepekan sebelum Lebaran. 15 September 2009 kami berduka, neneknya Ale wafat. Kami sudah ikhlas karena setiap setiap yang bernafas pasti akan menghadapi maut-nya.

Istri saya akhirnya tahu juga kenapa ada saluran air dan tak kelihatan karena disamarkan di bawah lemari pakaian atau meja di dalam kamar tidur. Dia, adik perempuan saya dan kakak ipar saya beserta sepupu perempuan lainnya memandikan jenazah.

Memandikan jenazah memang berhukum wajib dalam Islam. Prosesi pemandian itu dilakukan di dalam kamar. Sekeliling mereka ditaburi pasir yang berbentuk bendungan kecil dan bermuara …