Posts

Showing posts from February, 2008

Burhanuddin Abdullah dan Pelempar Dadu

Tuhan bukan pelempar dadu (Jakarta, Mei 1995)

Karena Tuhan bukan pelempar dadu yang tersenyum pada saat kotak sejarah melintas bentangan waktu, Kita, para pelakunya mesti, sesekali atau seringkali, berhenti, mengusap keringat, dan bersujud-semedi. Kita turun sejenak-untuk menengok kelokan hati yang ingin kita damaikan dari roda kerja yang mengencang dan mengguncang. Dan berhentilah, di malamnya malam, pada saat Tuhan mendekat dan mendekap makhluk lain yang kelelapan. Besok, “roulette” kehidupan kita terusan sebelum Sang Waktu menghentikan secara bergiliran atau bersamaan. Berhenti pada titik Qadar, sementara takdir masih berputar, cepat atau dipercepat, pada garis edar yang besar atau diperbesar. Ia meneteskan rizki,; hasil sekepal amal yang kita kerjakan. Selebihnya, kita sucikan dengan menyantuni yang memerlukan. Memang, kita boleh keheranan. Tak dinyana, tiba-tiba kita ada di sini.Kita tercengang-cengang, tetapi merasa punya tujuan.Bila tujuan itu kita punya, maka yang paling nyata adalah m…