Tuesday, March 1, 2011

Deleveraging & Laba XL Axiata

Besarnya biaya promosi dan belanja modal yang ditingkah ketatnya persaingan membuat hampir seluruh operator seluler mencatat utang besar yang harus di-deleverage. Bagaimana dengan PT XL-Axiata Tbk?

Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada 7 Februari 2011 menyebutkan sepanjang tahun lalu seluruh sektor ekonomi di dalam negeri bergerak naik dengan laju produk domestik bruto (PDB) sebesar 6,1%.

Dari pertumbuhan rata-rata 2010 itu, sektor pengangkutan dan telekomunikasi berada di level paling atas dengan kontribusi terhadap laju PDB 13,5%. Situasi ini cukup mendeskripsikan kinclongnya kinerja keuangan PT XL Axiata Tbk sepanjang 2010.

Pada tahun itu, operator seluler berbasis global system for mobile (GSM) ini membukukan pendapatan Rp17,64 triliun pada 2010, tumbuh 27,07% dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya, Rp13,88 triliun.

Dalam laporan keuangan akhir tahun, perseroan dengan kode saham EXCL ini meraup laba bersih hingga Rp2,89 triliun atau melonjak 69,13% dibandingkan dengan capaian 2009 sebesar Rp1,71 triliun.

Dari tahun ke tahun, pemain seluler dengan produk kartu XL ini berusaha mempertahankan pertumbuhan beban usahanya di bawah 10%. Sebagai gambaran, total beban usaha tahun lalu tercatat Rp12,29 triliun, naik 9,34% dibandingkan dengan 2009 sebesar Rp11,24 triliun.

Jika disandingkan dengan beban usaha 2008 yang mencapai Rp10,31 triliun, pertumbuhan menuju 2009 itu hanya tercatat 9%. Artinya, perseroan ini mampu menekan beban usaha pada level single digit, kala pertumbuhan pendapatannya mampu mencapai double digit.

Dengan berbagai rencana pengembangan yang telah disusun perseroan itu, tahun ini XL Axiata memproyeksikan pertumbuhan pendapatan di kisaran 9%-10%. Untuk mendukung itu, perseroan mengalokasikan belanja modal senilai Rp5 triliun.

Dari total belanja tersebut, sekitar 30% di antaranya dialokasikan untuk memperkuat layanan data. Ini berarti, saat kinerjanya menjanjikan, perseroan langsung tancap gas untuk melakukan deleveraging atau menaikan leverage keuangannya dengan mengurangi beban utang.

Awal tahun ini, XL Axiata mengumumkan rencana mempercepat pembayaran utang yang semestinya jatuh tempo pada 2012 dengan nilai yang akan dilunasi hingga Rp2 triliun. Jumlah itu belum termasuk nilai utang yang jatuh tempo pada tahun ini.

Berdasarkan laporan keuangan 2010, utang yang wajib dibayar 2011 mencapai Rp976,86 miliar yang diperoleh dari PT Bank Mandiri Tbk. Tahun lalu, XL Axiata melunasi Rp3,3 triliun, sehingga akhir 2010 total utang XL berkurang dari Rp13,5 triliun jadi Rp10,2 triliun.

Pada awal tahun ini perseroan telah melakukan pembayaran utang kepada Bank Mandiri senilai Rp400 miliar. Dengan demikian, jumlah utang di bank BUMN itu hanya tersisa Rp376,86 miliar.

Direktur Utama XL Axiata Hasnul Suhaimi mengakui perseroan tengah mematangkan rencana melakukan pembayaran utang kepada dua krediturnya yakni Bank Mandiri dan Export Credit Agency (ECA).

"Utang kita yang jatuh tempo tahun ini sekitar Rp1 triliun. Kami lakukan pre-pay [persiapan pembayaran] sekitar Rp2 triliun, sehingga total utang tahun ini akan berkurang sekitar Rp3 triliun," ujarnya baru-baru ini.

Hasnul belum memastikan kepada kreditur mana percepatan pembayaran utang senilai Rp2 triliun tersebut akan dilakukan. Yang pasti, dia menambahkan, percepatan pembayaran utang ini mengacu pada tingkat beban bunga yang lebih tinggi dari kreditur.

Analis CIMB Kevin Goh dalam laporan riset yang dirilis 21 Januari menilai keputusan XL Axiata melakukan deleveraging dengan melunasi sebagian utang-utangnya diperkirakan mampu mengangkat perolehan laba bersih pada 2011.

Meski pertumbuhan laba bersihnya tak setinggi tahun lalu, dia memperkirakan tahun ini XL Axiata masih bisa memperoleh kenaikan laba hingga 28%, meski industri telekomunikasi diperkirakan hanya tumbuh 8%, melambat dari proyeksi tahun lalu 10%.

Analis OSK Research Jeffrey Tan dalam riset terbaru yang dipublikasikan awal Februari ini memprediksi tahun ini XL Axiata akan meraup pendaptan Rp19,86 triliun dengan laba bersih sebesar Rp3,57 triliun.

No comments: