Thursday, March 3, 2011

Mari membedah BRI...

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) sering diidentikan sebagai bank pedesaan atau bank untuk kalangan masyarakat menengah bawah. Namun, dengan komitmennya yang tinggi terhadap segmen tersebut, bank milik pemerintah ini tetap bisa membuktikan kinerjanya tidak kalah dengan perbankan lain yang lebih memilih segmen masyarakat menengah atas.

Dengan tag line-nya 'Melayani dengan Setulus Hati', bank yang tercatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 10 November 2003 ini terus melaju. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), laba bersih bank pertama yang dikelola oleh pemerintah ini meningkat 23,52% menjadi Rp9,03 triliun (unaudited) pada akhir tahun lalu dari sebelumnya Rp7,31 triliun (audited).

Hal ini menunjukkan kinerja BRI berhasil melampaui bank yang memiliki aset terbesar di Indonesia yakni PT Bank Mandiri Tbk, yang pada 2010 membukukan laba bersih sebesar Rp8,85 triliun (unaudited), atau naik 23,6% dari Rp7,16 triliun (audited) pada 2009.

Pada tahun ini, bank yang dipimpin oleh Sofyan Basir ini menargetkan pertumbuhan kredit sekitar 20%-22%. Untuk mengejar targetnya tersebut, BRI terus berencana meningkatkan fokus kepada sektor konsumer serta usaha, kecil, dan menengah (UKM).

Analis PT Kim Eng Securities Rahmi Marina dalam risetnya memaparkan kualitas kredit bank berkode saham BBRI ini tidak menjadi masalah sepanjang perseroan dapat menjaga tingkat kredit bermasalah (non performing loan/NPL) dibawah 5%, seperti ketentuan Bank Indonesia (BI). Berdasarkan risetnya, dia memperkirakan NPL gross perseroan tetap berada pada kisaran 4% hingga 2012 sejak akhir tahun lalu.

Namun, dia mengingatkan agar BRI tetap mewaspadai ancaman tingkat inflasi yang bisa saja berpengaruh pada permintaan pinjaman. Dan hal ini tidak hanya berlaku kepada BRI, tetapi kepada seluruh industri perbankan.

"Secara historis, biasanya NPL BRI akan lebih lebih tinggi pada sembilan bulan pertama sebelum adanya penghapusan utang yang akan dilakukan pada kuartal IV. Perbankan juga harus mewaspadai tingkat inflasi yang bisa saja berpengaruh pada permintaan pinjaman dan kualitas aset," ungkapnya.

Rahmi menilai sikap BRI yang terus memperluas basis nasabahnya dalam segmen konsumer dan UKM merupakan hal yang positif bagi perkembangan perseroan. Selain itu, untuk terus meningkatkan kompetisinya, BRI diimbau agar bisa menurunkan tingkat bunga kredit dan menaikkan bunga deposito, bahkan hingga batas maksimal dari bank sentral, yakni 7%.

"Dengan akses yang luas, BRI harus lebih kompetitif dalam menentukan suku bunganya, baik kredit maupun deposito. Dengan memperluas basis nasabah dalam segmen konsumer dan UKM sangat baik untuk pertumbuhan jangka panjang" tambahnya.

Pada bulan lalu, bank pelat merah ini juga merealisasikan rencana untuk memecah nilai saham (stock split) dengan rasio 1:2. Hal ini menyebabkan pergerakan saham perseroan makin atraktif dan likuiditas terus bertambah.

Berdasarkan kinerja BRI selama ini serta rencana perseroan untuk mengembangkan bisnis perbankan, Rahmi menargetkan saham emiten dengan kode BBRI ini dapat menembus level Rp6.200 per lembar saham pada tahun ini.

Adapun pada tahun ini, Rahmi memprediksikan pendapatan perseroan terus tumbuh 7,13% menjadi Rp29,58 triliun dari prognosa pendapatan akhir tahun lalu sebesar Rp27,61 triliun. Hal ini mengakibatkan perolehan laba perseroan tumbuh hampir 20% menjadi Rp10,81 triliun dari perolehan laba unaudited 2010 sebesar Rp9,01 triliun.

"BRI masih menjadi saham yang paling atraktif dengan ROE yang diperkirakan tetap menjadi yang tertinggi dalam industri perbankan pada 2011. Likuiditas juga terus bertambah seiring terlaksananya stock split beberapa waktu lalu. Kami merekomendasikan BUY dengan melihat pertumbuhan kinerja usaha perseroan yang terus stabil dalam jangka panjang," ungkapnya.

Kepala Riset MNC Securitie Edwin Sebayang juga memiliki optimism yang sama terhadap bank pemerintah itu. Bahkan dia memperkirakan saham BBRI bisa tembus hingga Rp7.250 pada tahun ini.

Sementara laba BRI akhir tahun ini diperkirakan mencapai Rp10,84 triliun dengan pertumbuhan kredit mencapai Rp307,18 triliun dan jumlah dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp327,93 triliun.

Dia juga menilai fokus BRI untuk membidik sektor konsumer tepat seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan mencapai 6,6% - 6,8% pada tahun ini serta GDP mencapai US$3.230 per kapita.

"Langkah BRI untuk masuk ke konsumer tepat karena perekonomian kita juga sedang terus meningkat. Namun rencana ini juga harus diimbangi dengan peningkatan infrastruktur perseroan, seperti penambahan jumlah dan kualitas ATM, kantor cabang, dan sebagainya," tambahnya.

Edwin mengimbau agar BRI terus memperluas basis perseroan diseluruh Indonesia, serta lebih mengembangkan sayapnya di luar pulau Jawa. Karena masih banyak potensi yang dapat digarap di daerah tersebut.

(Bisnis Indonesia)

No comments: