Monday, March 7, 2011

Membandingkan kinerja XL Axiata vs Indosat

Lupakan dulu PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, yang belum mengumumkan kinerja keuangan 2010, dan rencana akuisisi PT Bakrie Telecom Tbk. Persaingan performa keuangan di lini kedua tidak kalah seru dari iklan produk sektor telekomunikasi ini.

Di lapangan, PT Indosat Tbk mungkin masih bisa mengklaim memiliki pangsa pasar terbesar kedua setelah Telkom. Namun, di atas kertas, manajemen anak usaha Qatar Telecom (Qtel) ini harus mengakui keunggulan pesaingnya asal Malaysia yakni PT XL Axiata Tbk.

Sepanjang tahun lalu, perusahaan yang sebagian sahamnya dimiliki Singapura ini membukukan laba bersih Rp647,2 miliar, terpelanting 56,8% dari capaian 2009 sebesar Rp1,49 triliun. Laba bersih per saham pun turun menjadi Rp119,1 per unit.

Di sisi lain, XL Axiata justru mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 69% dari Rp1,7 triliun pada 2009 menjadi Rp2,89 triliun pada 2010. Laba bersih per saham mereka terangkat menjadi Rp340 per unit pada 2010.

Keunggulan anak usaha Telecom Malaysia tersebut terhadap Indosat semakin diperkuat nilai kapitalisasi pasarnya yang telah menembus Rp49,77 triliun, hampir dua kali lipat di atas kapitalisasi pasar Indosat yang hanya Rp27, 17 triliun.

Analis JP Morgan Securities Singapore Pvt Ltd James R. Sullivan dan Vishesh Gupta menilai pemodal sebaiknya memang cuek dulu terhadap saham Telkom, karena kali ini cerita pertumbuhan akan banyak didominasi lini kedua.

"Periode 2011 tidak akan berbeda dari 2010. XL Axiata akan melihat kejutan lonjakan margin EBITDA seperti 2010, tetapi revisi margin akan terjadi pada Indosat karena dampak perubahan kinerja semester II/2010 dan semester I/2011 akan mulai berdampak," ujarnya dalam laporan riset per 16 Januari 2011.

Telkom, sebaliknya, akan melihat revisi margin ke arah negatif karena perusahaan pelat merah tersebut kurang agresif melakukan kontrol biaya, suatu strategi yang menurut catatan Bisnis telah dilakukan oleh kedua pemain seluler swasta.

Sejak 2 tahun lalu, XL Axiata telah memangkas utangnya senilai Rp4,5 triliun dan berupaya menyusutkan utangnya senilai Rp500 miliar tiap bulannya. Per Desember 2010, jumlah kewajibannya tersisa Rp10,97 triliun, berkurang dari posisi Desember 2008 sebesar Rp18,41 triliun.

Hal serupa juga dilakukan Indosat, meski agak terlambat, sehingga berujung pada anjloknya laba bersih mereka, hal yang juga menimpa XL Axiata pada awal 2009. Indosat tahun lalu mempercepat pembayaran utang senilai Rp4,88 triliun kepada PT Bank Central Asia Tbk, DBS dan PT Bank Mandiri Tbk, plus utang obligasinya senilai US$343 juta.

Secara detil, fasilitas kredit BCA yang dilunasi senilai Rp1,3 triliun, sedangkan fasilitas kredit DBS Rp400 miliar dan fasilitas kredit Bank Mandiri Rp900 miliar. Selain itu, obligasi dolar AS yang jatuh tempo pada 2010 dilunasi sebesar US$234 juta, disusul obligasi dolar AS yang jatuh tempo pada 2012 sebesar US$109 juta, serta obligasi rupiah berjatuh tempo 2010 sebesar Rp640 miliar.

Alhasil, posisi utang perseroan per Desember 2010 susut 5,5% menjadi Rp24,06 triliun. Namun, penyusutan itu tidak cukup besar, mengingat Indosat pada 2010 menanggung kenaikan biaya bunga dan kerugian kurs yang menggerus laba bersihnya.

Faktor utang tersebut secara bersamaan menunjukkan penurunan kinerja Indosat pada tahun lalu bukan karena faktor kinerja operasional yang ambruk. Apalagi, pendapatan dan EBITDA perseroan masih tumbuh masing-masing 5,2% dan 9,7% menjadi Rp19,8 triliun dan Rp9,6 triliun.

Margin EBITDA emiten dengan kode saham ISAT ini pada tahun lalu masih naik menjadi 48,6% dari 2009 sebesar 46,6%. Kenaikan ini didukung pertumbuhan basis pelanggan seluler yang signifikan menjadi 44,3 juta, dari posisi 2009 sebanyak 33 juta pelanggan.

Pendapatan usaha seluler tercatat naik 12,1% menjadi Rp16,02 triliun pada 2010 dari posisi 2009 sebesar Rp14,3 triliun. Sayangnya, pendapatan usaha non-seluler turun 16,7% menjadi Rp3,76 triliun pada 2010 dari capaian 2009 sebesar Rp4,52 triliun.

Cerita sebaliknya diperkirakan terjadi pada XL Axiata. Analis PT Kresna Securities Gemilang Lim menilai target XL mendongkrak kapasitas 3G dan menaikkan margin dari segmen tersebut masih menjanjikan.

"Proyeksi kami menunjukkan tiap kenaikan pendapatan data sebesar 5% akan menambah Rp121 target harga kami. Namun, pertumbuhan pemasukan dari bisnis data akan mempercepat kebutuhan infrastruktur 3G sehingga mendongkrak kebutuhan belanja modal," ujarnya dalam laporan riset per 4 Maret 2011.

Dia menilai kunci di balik cerita sukses XL Axiata tahun lalu berada di strategi mereka memangkas beban utang, yang selama ini menjadi salah satu faktor penekan margin laba perusahaan telekomunikasi.
"Perseroan berencana mempercepat pembayaran utangnya senilai Rp3 triliun pada 2011. Rencana ini akan menaikkan EPS per akhir 2011 sebesar 2,8% menyusul anjloknya beban bunga sebesar 19%," ujarnya.

Penurunun tersebut, lanjutnya, akan membuat rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) turun dari 0,74 kali posisi sekarang menjadi 0,59 kali pada akhir tahun. Ini patut diperhatikan pemodal dalam memandang saham Telkom, ketimbang menunggu akuisisi Bakrie Telecom yang tidak pasti.

(Bisnis Indonesia/arif.gunawan@bisnis.co.id)

No comments: