Tuesday, March 1, 2011

Bisa apa SCTV tanpa MD Entertainment?

Lembaga riset pemasaran, AC Nielsen baru-baru ini merilis laporan rating sinetron televisi menurun sepanjang 2010. Pemirsa televisi di Indonesia mengurangi waktu menonton sinetron dari 24% menjadi 19%, atau menurun dari 204 jam per tahun menjadi 139 jam per tahun.

Tayangan sinetron mungkin identik dengan narasi picisan tentang percintaan, kecongkakan, hingga komedi yang banal. Bahkan sejumlah kalangan menyatakan sinetron di Indonesia justru menghadirkan sesuatu yang seharusnya 'tabu' ke ruang publik.

Hubungan yang terlarang, pertengkaran, konspirasi, hingga keangkuhan di antara sesama, diekspose begitu luas dalam setiap tayangan. Meski, riset itu sendiri tidak mengungkap alasan berkurangnya konsumsi sinetron.

Namun setidaknya, kondisi itu menunjukkan sinetron picisan bukanlah satu-satunya tayangan yang mampu memberi keuntungan besar bagi stasiun televisi. Warga juga mulai mencari alternatif tontonan yang tidak melulu tentang percintaan dan konflik rumah tangga.

Kondisi itulah yang agaknya sudah mulai disadari PT Surya Citra Media Tbk, pemegang saham pengendali stasiun televisi SCTV (Surya Citra Televisi), ditandai dengan keputusan untuk 'bercerai' dengan MD Entertainment.

'Perceraian' itu, yang ditandai bergesernya sinetron Cinta Fitri (Session 7) yang dibintangi pasangan Shireen Sungkar dan Teuku Wisnu dari semula tayang di SCTV menjadi tayang di Indosiar, sekaligus memicu spekulasi merger SCTV-Indosiar yang belakangan terbukti.

MD Entertainment sendiri merupakan production house yang didirikan Dhamoo Punjabi, yang terkenal memproduksi berbagai sinetron. SCTV sebelumnya berkongsi dengan rumah produksi ini selama sekitar 7 tahun untuk memasok tayangan sinetronnya.

Selain SCTV, stasiun televisi lain yang juga menggandeng MD Entertainment adalah Indosiar. Dari rumah produksi itulah, dua stasiun televisi tersebut dipenuhi oleh tayangan-tayangan sinetron.

Analis OSK Nusadana Andrey Wijaya dalam riset yang dirilis 17 Februari menyatakan kendati SCMA tidak lagi berkongsi dengan MD Entertainment, ternyata stasiun televisi yang dibawahinya, SCTV mampu mendongkrak pangsa pasar penonton.

Tercatat pangsa SCTV pekan pertama Februari mencapai 17,1%, naik dari posisi Desember 2010 yakni 15,3%. Menurut Andrey, salah satu penyebabnya adalah perubahan format tayangan dari model opera sabun menjadi tayangan yang lebih memiliki unsur edukasi.

"Satu tayangan yang dimunculkan untuk menggantikan drama jenis opera sabun adalah ditayangkannya program drama Islam KTP mulai Januari yang ditempatkan pada saat prime time," tulis Andrey.

Sepeninggal MD Entertainment, Surya Media juga lebih independen menentukan rumah produksi serta lebih menikmati keleluasaannya menetapkan tayangan dengan biaya yang lebih efisien. Kondisi ini tentunya akan membantu emiten ini mendongkrak profit margin.

Andrey mengungkapkan biaya produksi Surya Media pada waktu sebelumnya relatif tinggi. Kini, dengan keleluasaannya itu ditambah dengan kenaikan pangsa pasar, akan banyak pengiklan yang tertarik dengan stasiun televisi komersial ini.

Dengan situasi itu, Andrey memperkirakan pendapatan Surya Media tahun ini tetap tinggi, yakni Rp2,25 triliun, atau naik 16% dari yang dicatat 2010 yang diproyeksikan Rp1,94 triliun. Pendapatan 2010 tersebut diperkirakan naik 20,5% dari 2009 yang mencapai Rp1,61 triliun.

Di sisi laba bersih, Surya Media diperkirakan bisa mencatat Rp535 miliar, atau naik 20,76% dari posisi akhir 2010 yang diperkirakan berada Rp285 miliar. Jumlah yang dicatat pada 2010 ini diperkirakan melonjak 55,4% dari 2009 yang mencapai Rp285 miliar.

Meski pertumbuhan kinerja itu relatif melambat dari capaian tahun lalu, Andrey mengatakan secara umum, bisnis televisi masih sangat menarik. Pertumbuhan iklan yang lebih besar dari capaian produk domestik bruto (PDB) membuat industri itu terlihat seksi di mata investor.

Dalam 4 tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan iklan di televisi 18,8%, jauh dari pertumbuhan PDB yang hanya 4,7%. Daya tarik ini belum memasukkan nilai tambah politis yang muncul akibat perannya sebagai instrumen informasi.

"Televisi merupakan sumber termurah untuk memperoleh informasi dan hiburan. Selain itu, televisi adalah jalan terefektif untuk mencapai publik, di tinge kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan," tutur Andrey.

Namun, akankah keputusan Surya Media 'bercerai' dengan MD Entertainment benar-benar efektif menggenjot kinerja perseroan, atau justru sebaliknya, dan karena itu opsi merger pun dibuka dengan Indosiar milik PT Indosiar Karya Media? Waktu yang akan menjawab.

No comments: