Thursday, March 31, 2011

Balada PSSI a la Jusuf Kalla


Ini cerita pada Medio April 2007. Ketika itu saya terhiburkan dan tertawa ketika menonton celetukan dan cerita Jusuf Kalla yang saat itu masih menjadi Wapres, ketika membuka Munas PSSI (disiarkan langsung ANTV pada Malam Jumat):

Pada awal sambutan, dia mengatakan dirinya sering ditanya di luar negeri, Vice President apa olahraga yang digemari di Indonesia? agak susah menjawabnya, karena kalau jawab sepak bola, nanti ada pertanyaan lanjutan, apa prestasinya?

Jusuf Kalla mengatakan dirinya selalu disodori data "prestasi" Indonesia ketika dulu tahun 1950-an mampu meraih hasil seri di Olympic Games.

"Hasil seri saja dianggap prestasi dan diingat hingga setengah abad, bayangkan kalau kita menang. Anjasmara memang gagal penalti dan dia pasti ingat terus,"

Jusuf Kalla juga menantang para pemuka PSSI : kapan Indonesia bisa main di World Cup? karena seharusnya negara seperti Indonesia bisa melebihi negara-negara kecil seperti Kuwait, Arab Saudi, Togo, Kamerun yang menembus Piala Dunia. Indonesia, kata JK, punya segalanya.

Modal dana, kata dia bukan persoalan, karena negara miskin seperti Togo masih sanggup ikut World Cup, sementara di Tanah Air hampir semua tokoh kaya juga mendukung sepakbola sejak zaman dahulu dari Sjarnoebi Said (KTB Tiga Berlian), Sigit putra Soeharto, Bakrie, pemilik Warna Agung hingga Cahaya Utama.

Fasilitas juga mendukung, lapangan di Indonesia begitu banyak, "Kita punya lapangan hijau-hijau, kecuali pas banjir saja. Ini modal penting sedangkan di Afrika itu kan lapangan hanya gurun pasir saja."

Kompetisi, kata dia, Indonesia juga punya mulai dari Galatama hingga Ligina sekarang. "Bola itu global, di MU pelatih dari Skotlandia, yang punya Amerika, pemain dari Afrika, main di London. Kita juga begitu ada pemain dari mana-mana dengan bayaran lebih besar daripada negara mereka. Mana ada pemain Indonesia main di Afrika? itu berarti bayaran di sini lebih mahal kan."

Jadi apalagi yang kurang? prestasi sepakbola kata Jusuf Kalla bukan persoalan agama, semua negara ciri agama tertentu sudah bisa masuk putaran final World Cup.

Tak heran ujar dia, anak kecil saat ini lebih mengenal Ronaldo, Zidane, ketimbang Ramang, Saelan, Ronny, dan lainnya.

"Saya juga tidak tahu apa jawaban masalah ini. Saya dulu pernah jadi ketua di PSM dan masih syukur dapat juara dua, tapi yang Makassar Utama juga belum juara, jadi saya bingung jawabnya bagaimana."

Tapi paling tidak, kata dia, dari 200 juta penduduk Indonesia, ini harus punya pemain yang fisik, skill dan yang paling penting adalah faktor semangat. "Kalau dulu semangatnya merah putih, tidak apa-apa kalau sekarang semangatnya Sudirman.. kan ada warna merahnya juga,"

Faktor lainnya mungkin pelatih, "kalau tidak ada pelatih lokal, cari asing saja. Kita dulu punya Polosin, Coerver, dan lainnya."

Selain itu, JK menyebutkan faktor pembinaan juga penting. "Para pengurusnya sudah lengkap dari anggota DPR, Kardono orang Perhubungan, Azwar Anas orang Kesra, ada lagi orang tentara. Belum lagi pembinaan dari cara modern hingga alternatif."

Jusuf Kalla menceritakan bagaimana dirinya (ketika masih menjadi ketua klub bola di Makassar) pernah malam-malam hadir pada doa memandikan keris yang airnya dipercikkan kepada pemain. "besoknya memang menang. Tapi di semifinal kalah, jadi saya bilang keris juga punya batasannya."

Wapres meminta para petinggi PSSI agar "Memberi Kehormatan bukan mencari kehormatan" dalam mengurus bola. "Masa depan sepakbola ada di tangan anda semua, Jadi beri kehormatan kepada bangsa ini."

Tak lupa, Jusuf Kalla menceritakan joke bagaimana Zidane menanduk Matroji (begitu dia menyebut Matterazzi), "Italia tahu kalau mengalahkan Prancis harus bikin Zidane kartu merah, caranya dia bilang Zidane kau teroris, ternyata tidak mempan, Zidane, ibu dan kakakmu macam-macam lah, tidak mempan juga, lalu dia bilang Zidane kau dari PSSI, baru dia kena...". para hadirin pun tertawa terkekeh-kekeh...

Yang saya heran, para tamu yang hadir sebagian dari 650 peserta Munas, hanya tertawa, entah tersindir atau malah bebal tak merasa bersalah dan memang bego. Tapi jangan tanya bagaimana tampang Aburizal Bakri yang duduk samping Rita Subowo dan Nurdin Halid, mimik Ical seakan bertanya, "Ngapain gua ada di acara PSSI ya..."

salam
fahmiachmad

No comments: