Tuesday, March 22, 2011

Bukopin vs Danamon, Siapa unggul di UMKM ?



Mereka sama-sama mengejar laba di bisnis kredit untuk 'wong cilik', industri usaha kecil mikro dan menengah (UMKM) yang dikenal tahan banting ini berhasil menjaga posisi keuangan mereka. Siapa lebih baik?

Adalah PT Bank Danamon Tbk dan PT Bank Bukopin Tbk yang selama ini dikenal mengekor kesukseskan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menyeriusi bisnis kredit di sektor UMKM.

Dalam paparan kinerja 2010 belum lama ini, Direktur Utama Bank Danamon Henry Ho menyebutkan peningkatan laba bersih perseroan didukung pendapatan non bunga di semua segmen nasabah terutama UMKM.

Per Desember 2010, Bank Danamon meraup laba bersih konsolidasi Rp2,88 triliun, naik 88,1% dari capaian tahun sebelumnya Rp1,53 triliun. Kinerja serupa dibukukan Bank Bukopin dengan laba bersih Rp493 miliar, tumbuh 36% dari posisi 2009 senilai Rp362 miliar.

Direktur Utama Bank Bukopin Glen Glenardi menyebutkan volume kredit perseroan pada tahun lalu mencapai Rp30,2 triliun, tumbuh 23% dibandingkan dengan posisi 2009 senilai Rp24,6 triliun berkat bisnis UMKM.

"Sebanyak 61% penyaluran kredit kami masih ditopang oleh segmen usaha kecil, menengah, dan koperasi yang selama ini menjadi tulang punggung usaha Bukopin," tuturnya dalam keterangan resmi arkhie pekan lalu.

Satu hal yang membedakan keduanya, tentu saja adalah persoalan aset. Berbeda dari Bank Danamon yang asetnya telah mencapai Rp100 triliun, Bank Bukopin terengah-engah di tengah kompetisi industri dengan berbekal aset yang baru mendekati angka Rp50 triliun.

Terlepas dari skala aset yang berujung pada nominal laba yang berbeda, kemampuan kedua bank beroleh laba tersebut bisa dikupas secara proporsional dengan menggunakan rasio laba dengan aset dan ekuitas, yakni rasio pengembalian aset (ROA) dan rasio pengembalian ekuitas (ROE).

Bank Danamon boleh saja berbangga dengan pertumbuhan ROA sebesar 60% setahun lalu mejadi 2,4%, meninggalkan pertumbuhan ROA Bank Bukopin yang hanya 13,01% ke level 1,65%. ROA mengindikasikan kemampuan manajemen bank meraup keuntungan dari tiap aset yang dimiliki.

Namun secara mengejutkan, ROE Bank Bukopin justru tercatat lebih tinggi. Dengan pertumbuhan ROE tahun lalu hanya 19,19% atau lebih lambat dari pertumbuhan ROE Bank Danamon sebesar 47,41%, ROE per 2010 Bank Bukopin bertengger di level 19,69%, melibas ROE Bank Danamon sebesar 17,1 kali.

ROE merupakan indikator kemampuan bank memperoleh keuntungan dari setiap gobang rupiah rupiah yang diinvestasikan. Berbeda dari ROA, ROE memperhitungkan kenaikan ekuitas (dan penurunan utang).

Bagi Bukopin, yang melakukan dua kali rights issue dalam dua tahun terakhir senilai total Rp1,1 triliun, kenaikan ekuitas secara teoritis akan menurunkan ROE jika laba bersih tidak naik signifikan. Namun, penambahan ekuitas ternyata tidak cukup mengerem pertumbuhan laba bersihnya.

Analis PT JP Morgan Securities Indonesia Aditya Srinath dan Sunil Garg menilai laba bersih Bank Danamon tercatat lebih rendah dari konsensus seiring dengan penurunan kredit di sektor UMKM.

"Kredit wholesale (yang ditopang perdagangan) dan mass market tumbuh 38%-40% secara tahunan, sedangkan kredit UMKM dan komersial melemah 19% dan kredit ritel yang dibukukan Bank Danamon turun 9%," tuturnya dalam laporan riset per 17 Februari.

Secara bersamaan, keduanya menggarisbawahi beban bunga senilai Rp45 miliar dari sub-utang Bank Indonesia pada masa krisis 1998 yang pada akhirnya ikut menekan laba bersih perseroan.

Pendapatan bunga bersih (net interest income) Bank Danamon tahun lalu tercatat sebesar Rp9,9 triliun, naik 5% dibandingkan dengan perolehan tahun sebelumnya Rp9,4 triliun. Di sisi lain, pendapatan non bunga naik 77% dari Rp1,87 triliun pada 2009 menjadi Rp3,33 triliun di akhir 2010.

Pendapatan operasional tercatat sebesar Rp13,24 triliun, atau naik 17% dari posisi 2009 yang hanya Rp11,34 triliun, dengan biaya operasional Rp6,58 triliun atau naik dari 2009 sebesar Rp5,64 triliun.

Terpisah, analis PT eTrading Securities Muhamamd Wafi menilai right issue menjadi salah satu kunci kinerja Bank Bukopin, karena ekuitas tersebut berakhir sebagai modal kerja bagi pengembangan pembiayaan Bukopin.

"Dana tersebut akan digunakan Bukopin untuk meningkatkan kekuatan dan kemampuan dalam pengembangan dan peningkatan penyaluran kredit kepada UMKM dan koperasi serta usaha komersial, konsumer, dan pengembangan bisnis lain," komentarnya dalam salah satu laporan riset.

Namun, jika dilihat dari rasio margin laba bersih, bank Danamon masih di atas angin yakni sebesar 11,3% dibandingkan dengan Bank Bukopin yang hanya 4,75% . Margin bunga bersih ini menandakan kemampuan manajemen bank mengelola aktiva produktifnya untuk menghasilkan pendapatan bunga bersih.

Pendapatan bunga bersih diperoleh dari pendapatan bunga dikurangi beban bunga. Makin besar rasio ini maka meningkatnya pendapatan bunga atas aktiva produktif yang dikelola bank sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil.

Hanya saja, Wafi menilai rights issue Bukopin masih berpotensi mengejar bank lainnya mengingat posisi aset, rasio hutang terhadap modal (LDR) bank, NIM, dan pengembalian dari investasi (ROI) masih di bawah rata - rata perbankan di semua sisi.

"Aksi korporasi ini [rights issue], akan meningkatkan kemampuan dan bisnis Bukopin untuk dapat lebih bersaing dengan bank - bank besar lainnya yang ada di Indonesia," ujarnya.

(please read Bisnis Indonesia Newspaper)

No comments: