Saturday, March 19, 2011

Lebih suka di Matahari atau di Hero ?

Pertumbuhan ekonomi tahun ini diyakini dapat mencapai 6,6% dengan indeks GDP per kapita di atas US$3.000. Dengan tingkat konsumsi warga yang juga terus tumbuh, siapa pemain ritel yang paling gesit menjemput peluang ini?

Di antara sejumlah emiten ritel, PT Matahari Putra Prima Tbk dan PT Hero Supermarket Tbk cukup akrab di masyarakat. Berdasarkan laporan keuangan 2010, keduanya memang mencatat pertumbuhan laba, namun tidak demikian dengan pendapatan.

Hero membukukan laba bersih Rp221,91 miliar tumbuh 29,16% dari capaian sebelumnya Rp171,81 miliar. Peningkatan itu terjadi seiring pertumbuhan pendapatan 15,24% menjadi Rp7,67 triliun dari sebelumnya sebesar Rp6,65 triliun.

Akan tetapi, beban pendapatannya naik 16,62% menjadi Rp5,87 triliun dari Rp5,04 triliun. Akibatnya, laba kotor emiten berkode saham HERO naik 10,92% menjadi Rp1,78 triliun dari capaian sebelumnya Rp1,61 triliun.

Sejalan dengan peningkatan beban pendapatan itu, beban usaha perseroan juga meningkat 8,33% menjadi Rp1,46 triliun dari capaian tahun sebelumnya Rp1,35 triliun. adapun laba usaha perseroan naik 24,72% menjadi Rp317,96 miliar dari Rp254,95 miliar.

Matahari juga membukukan laba bersih Rp5,8 triliun pada akhir tahun lalu atau melonjak 1.833,35% dari sebelumnya Rp300,03 miliar. Namun peningkatan laba yang terjadi lebih disebabkan adanya pendapatan luar biasa.

Dalam neraca keuangannya, pos luar biasa sebesar Rp5,73 triliun, sebagai hasil dari divestasi Matahari Departemen Store. Pendapatannya sendiri turun 16,88% menjadi Rp8,54 triliun dari posisi sebelumnya Rp10,28 triliun.

Sementara beban pokok penjualan hanya turun tipis sebesar 0,69% menjadi Rp6,67 triliun dari posisi sebelumnya Rp6,72 triliun. Hal ini mengakibatkan laba kotor perseroan turun 47,52% menjadi Rp1,86 triliun dari capaian sebelumnya Rp3,55 triliun.

Penurunan juga terjadi pada beban usaha perseroan pada tahun lalu sebesar 40,61% menjadi Rp1,81 triliun dari posisi sebelumnya Rp3,05 triliun. Adapun, laba usahanya turun 89,29% menjadi Rp53,96 miliar dari capaian sebelumnya Rp504,27 miliar.

Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo menyayangkan menjamurnya department store saat ini tidak tercermin dari pertumbuhan kinerja emiten. Namun hal ini dapat dimaklumi seiring dengan meningkatnya persaingan pada industri ini.

"Jika dilihat yang memiliki pendapatan dan laba yang bagus sepertinya hanya Hero, yang lainnya biasa saja. Matahari pun laba karena ada pendapatan luar biasa, sedangkan dilihat dari pendapatan operasional dia menurun. Mungkin saja karena persaingan ketat," ujarnya.

Dari sisi pergerakan harga saham, Satrio melihat emiten berkode saham Hero relatif tidak bergerak karena kepemilikan saham publiknya yang tidak banyak. Sementara emiten berkode saham MPPA masih terlihat ada pergerakan namun harganya sudah dibawah Rp1.500.

Satrio menilai pergerakan harga saham Hero yang stagnan itu disebabkan jumlah saham yang beredar di publik kecil serta tender offer yang gagal dilakukan. Meski, jika dilihat dari sisi fundamental kinerja perseroan cukup bagus.

Melihat kondisi itu Satrio berpendapat manajemen Hero seharusnya segera memutuskan apakah akan tetap mempertahankan perusahaan menjadi perseroan terbuka atau benar-benar menjadi perusahaan tertutup.

"Jika ingin sahamnya bergerak kembali, secondary offering bisa menjadi salah satu cara untuk meningkatkan likuiditas saham perseroan. Dan dengan fundamental yang bagus seperti itu terbuka kemungkinan Hero masuk saham bluechip," tuturnya.

Untuk MPPA, Satrio justru mengkhawatirkan pertumbuhan kinerja jangka panjangnya. Masalahnya, laba yang didapat saat ini hanya disebabkan penjualan Matahari Departement Store (MDS), sedangkan pendapatan riilnya menurun.

Dengan kondisi seperti itu, Satrio mengkhawatirkan harga saham terus menurun hingga Rp1.200. Untuk meningkatkan harga saham, Satrio menilai manajemen Matahari perlu meyakini masyarakat bahwa setelah MDS lepas, pendapatan perseroan tetap bisa tumbuh.

"Matahari mendapat laba dari penjualan MDS, kalau MDS dilepas lalu pendapatan darimana? Kalau seperti ini, untuk trading mungkin masih bisa, tetapi untuk investasi harus hati-hati. Saya sarankan agar saham Matahari di-hold," katanya.

Dari aspek lain, analis PT Brent Asset Management Dani Hotron berpendapat pertumbuhan industri perdagangan ritel berpotensi untuk tertahan karena kekhawatiran penurunan daya beli masyarakat akibat tekanan inflasi.

"Industri ini dibayang-bayangi oleh penurunan jumlah permintaan agregat terhadap produk ritel. Akibatnya, pertumbuhan pendapatan perusahaan diperkirakan akan menyusut. Ini yang perlu diperhatikan," jelasnya.

(please read Bisnis Indonesia)

No comments: