Tuesday, March 1, 2011

Impor plastik yang melonjak

Impor plastik dan barang dari plastik pada Januari 2011 mencapai US$480,1 juta, atau mengalami kenaikan sebesar 48,49% dibandingkan Januari 2010 yang mencapai US$323,3 juta yang diduga dipicu oleh impor bahan baku akibat belum beroperasinya PT Polytama Propindo.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Aromatik, Olefin, dan Plastik (INAPlas) Fajar AD Budiyono mengatakan peningkatan impor tersebut merupakan imbas dari terhentinya operasi pabrik polipropilena milik Polytama sejak Agustus 2010. Konsumsi PP nasional tahun ini diperkirakan mencapai sekitar 960.000 ton atau 80.000 ton per bulan.

Pada kondisi normal, tuturnya, pasokan PP diperoleh dari Tri Polyta dan Pertamina sebanyak 33.000 ton dan sekitar 20.000 ton per bulan dari Polytama. Akibat terhentinya operasi pabrik PP milik Polytama, impor PP melonjak dari sekitar 30.000 ton per bulan menjadi 50.000 ton per bulan.

“Lonjakan impor ini dipastikan karena tambahan impor yang diperlukan untuk mengisi kebutuhan yang selama ini dipasok oleh Polytama sekitar 15.000—20.000 ton per bulan. Ini jelas merupakan kerugian devisa bagi negara dan ini juga memperburuk kondisi industri kecil,” jelasnya hari ini.

Fajar mengatakan sebenarnya masalah utang piutang Polytama dan Pertamina telah diselesaikan secara business to business dan tinggal menyisakan masalah administrasi. Menurut dia, seharusnya Pertamina bisa memasok kembali propilena untuk Polytama agar pabrik tersebut bisa beroperasi normal.

“B to b sudah selesai tinggal harus mengurus beberapa dokumennya saja. Dalam kondisi ini, seharusnya Pertamina bisa mengalah dengan memasok kembali bahan baku ke Polytama toh sudah ada jaminan kepastian pembayaran utangnya,” katanya.

Fajar mengatakan industri plastik mengharapkan pasokan kembali dimulai pada bulan ini. “Jika belum bisa tuntas juga, kami harapkan pemerintah benar-benar melakukan intervensi.”

Ketua Umum Asosiasi Industri Kemasan Fleksibel Indonesia (Rotokemas) Felix S Hamidjaja mengatakan penyebab lonjakan impor tersebut karena pasokan bahan baku plastik di dalam negeri mengalami penurunan, yang terkait dengan operasi Polytama. Selain itu, tuturnya, terdapat sekitar 1--2 pabrik di wilayah Asia yang juga berhenti berproduksi sehingga terjadi kelangkaan dan memicu pergerakan harga.

“Tidak hanya dari dalam negeri, tapi kelangkaan pasokan dari seluruh dunia juga terjadi, terutama PP. Kalau kami pesan sekarang, itu sampainya bisa 2--3 bulan ke depan baru sampai sehingga pabrik menjadi kekurangan bahan baku,” kata Felix.

Menurut Felix, merger yang dilakukan oleh PT Chandra Asri dan Tri Polyta belum memenuhi kebutuhan pasokan bahan baku plastik secara maksimal. “Merger itu belum menunjukkan hasil karena masih baru. Perusahaan itu baru bisa berkontribusi lebih besar dalam memenuhi kebutuhan domestik apabila produksinya bisa dinaikkan 2--3 kali lipat. Akan tetapi itu tidak bisa dilakukan secara cepat.”

Saat ini, katanya, telah terjadi keterlambatan pengiriman barang kemasan plastik, terutama untuk kemasan produk biskuit dan permen, kendati hal itu diakui belum berpengaruh banyak pada penjualan kemasan plastik.

“Selama kuartal I/2011, pemesanan masih bagus, tapi pengiriman barang tersendat. Seharusnya, impor itu bisa dipermudah. Kalau bisa bea masuk [BM] dinolkan dan pemerintah tidak hanya memperhatikan industri plastik hulu saja.”

Produsen industri yang menggunakan kemasan plastik, lanjut Felix, sering mengeluh karena terpaksa menaikkan harga hingga 4%. “Mereka keluhkan karena harga naik dan penjualan turun. Ditambah lagi, beberapa bahan baku industri mereka seperti gula dan terigu juga ikut naik.”

Fajar menambahkan tersendatnya pasokan barang plastik juga dipengaruhi oleh kerusakan infrastruktur di sekitar kawasan industri dan juga jalur transportasi yang menghubungkan industri plastik dengan konsumen. “Dari kawasan industri menuju Jakarta saja saat ini membutuhkan waktu 8 jam karena infrastruktur yang buruk.”

No comments: