Friday, March 25, 2011

Peluang untung PTBA dari Jepang


Gempa dan tsunami yang merusak fasilitas pembangkit listrik nuklir di Jepang kembali mengerek harga batu bara. Bagaimana dampaknya terhadap kinerja BUMN batu bara terbesar PT Perusahaan Tambang Batubara Bukit Asam?

Dampak kenaikan harga batu bara itu memang tidak serta-merta atau langsung dirasakan oleh emiten-emiten penghasil batu bara di Bursa Efek Indonesia. Meski, kenaikan harga itu tentu akan mendongkrak ekspektasi kinerja emiten bersangkutan.

Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang menilai berhentinya pasokan energi nuklir yang melistriki hampir 30% wilayah Jepang akibat gempa dan tsunami itu bisa jadi peluang bagi industri batu bara di Tanah Air mengekspor produksinya ke negara tersebut.

Selain itu, dengan kembali terkereknya harga minyak mentah bumi sejalan dengan krisis politik di Libia, harga jual rata-rata diperkirakan naik minimal 10%. Kenaikan itu secara otomatis akan pada peningkatan kinerja emiten bersangkutan.

"Akibat berhentinya saluran listrik dari PLTN Jepang, permintaan thermal coal akan naik. Tahun ini sektor pertambangan khususnya batu bara juga akan menikmati kenaikan kinerja yang cukup besar karena kenaikan jumlah produksi dan penjualan," ujarnya.

Edwin mengatakan meski tahun lalu Bukit Asam mengalami penurunan laba dan pendapatan, hal tersebut sudah dapat diprediksi seiring terjadinya penurunan harga jual rata-rata dan cuaca yang kurang baik, sehingga mengakibatkan volume produksi berkurang

BUMN tambang itu mengalami penurunan laba bersih 26,36% menjadi Rp2,01 triliun pada 2010 dari Rp2,72 triliun pada 2009. Hal itu terjadi seiring penurunan pendapatan perseroan j sebesar 11,6% menjadi Rp7,91 triliun dari Rp8,94 triliun.

Tahun ini, Edwin memprediksi kinerja Bukit Asam masih bisa membaik dan memperoleh pendapatan Rp10,28 triliun dengan laba bersih Rp3,72 triliun. Dia menilai perseroan masih memiliki peluang untuk tumbuh seiring pertumbuhan industri tambang secara umum.

Seolah mengonfirmasi ekspektasi itu, di tengah penurunan laba bersih itu harga saham emiten berkode PTBA itu kemarin masih bertahan di atas Rp20.000, hingga membentuk kapitalisasi pasar sebesar Rp47,23 triliun.

Edwin berpendapat kendati harga PTBA masih sanggup bertahan di atas Rp20.000, dia tidak menyarankan perseroan memecah nilai saham (stock split), karena bisa menjadi poin tambah bagi perseroan untuk mendapat investor yang berkualitas.

Bahkan, sejalan dengan rangkaian ekspentasi itu termasuk peluang penambahan ekspor ke Jepang, Edwin memperkirakan PTBA masih berpeluang menembus hingga Rp29.500 hingga akhir tahun ini. Dia merekomendasikan BUY untuk saham tersebut.

Berbeda dengan Edwin, analis PT Macquarie Capital Securities Indonesia Albert Saputro dan Adam Worthington dalam risetnya 9 Maret 2011, menilai kinerja perusahaan BUMN itu tidak sesuai dengan ekpektasi.

Kendati Albert dan Adam masih memprediksi saham PTBA bisa menembus Rp28.000 pada tahun ini, dengan bersandar pada pertumbuhan kinerjanya yang mengecewakan, mereka tetap memberikan rekomendasi outperform pada perusahaan BUMN itu.

"Ada dua kejadian yang patut dicermati oleh investor terhadap PTBA, yakni pertumbuhan kinerja usaha karena turunnya harga rata-rata batu bara domestik. Ini faktor fundamental yang tidak boleh dikesampingkan," katanya.

Memang, tahun ini dilaporkan perseroan bersama BUMN listrik PT Perusahaan Listrik Negara telah menyepakati kontrak menggunakan harga batu bara domestik yang baru atau lebih tinggi dari harga sebelumnya, yakni sekitar Rp777.000 per ton.

Akan tetapi, selama risiko pertumbuhan kinerjanya masih mengecewakan, kenaikan harga jual itu ditimbang masih belum bisa mengompensasinya, termasuk berbagai ekspektasi seperti peluang dari gempa Jepang.

(please read Bisnis Indonesia Newspaper)

No comments: