Tuesday, March 1, 2011

Ini rahasia kebangkitan Indosiar

Kian santer rencana merger SCTV dan Indosiar, kian kencang pula pertanyaan para pecinta sinetron mengenai format penggabungan bisnis dua stasiun televisi itu.

Pertanyaan itu tidak mengada-ada. Bagaimanapun, sinetron, di samping acara-acara gosip selebritis, masih memiliki penggemar yang cukup besar di Indonesia, terutama untuk ibu-ibu rumah tangga dengan strata ekonomi menengah ke bawah.

Memang, selama ini muncul pandangan sinis bahwa sinetron hanya mengajarkan pemirsa untuk melambungkan angan-angan. Namun bagi PT Indosiar Karya Media Tbk, tayangan tersebut tetap menjadi magnet untuk menarik pengiklan maupun pemirsa televisi.

Setelah sekitar 4 tahun berkutat di program talent search dan reality show seperti Akademi Fantasi Indosiar, Take Me Out dan Take Him Out, hingga Indonesia Got Talent, stasiun televisi ini kini mulai mengubah strategi bisnisnya dengan menggeber tayangan sinetron.

Ya, Indosiar mulai tahun ini kembali ke 'khittah', dengan memproklamirkan diri sebagai stasiun televisi sinetron. Sinetron-sinetron berjejalan di jam tayang yang sebelumnya ditempati oleh tayangan reality show.

Ihwal Indosiar mengusung tayangan sinetron sebenarnya bisa dirunut saat stasiun televisi ini menayangkan serial Tersanjung selama tujuh tahun, terhitung mulai 1998 hingga 2005. Selain serial itu, Indosiar juga menayangkan sinetron-sinetron lain.

Terlepas dari rencana merger dan bagaimana format tayangan televisi ini ke depannya, strategi Indosiar untuk lebih banyak menayangkan sinetron dinilai sebagai langkah yang tepat untuk mendongkrak kinerja keuangan

Analis OSK Nusadana Securities Andrey Wijaya dalam riset yang dipublikasikan 17 Februari 2011 menyatakan Indosiar akan memiliki potensi yang besar dengan menayangkan program sinetron.

"Tayangan sinetron memiliki penggemar yang sangat luas. Dengan pilihan program sinetron ini, Indosiar mampu mendongkrak share audience, dari sebelumnya 9,9% pada awal Januari menjadi 10,4% pada pekan-pekan belakangan ini," tulis Andrey Wijaya.

Riset itu juga menyebutkan strategi 'kembali ke khittah' dengan menayangkan sinetron memungkinkan pendapatan Indosiar naik 20% pada tahun ini. Capaian itu sangat signifikan dibandingkan perolehan 5 tahun terakhir saat pendapatannya relatif flat alias absen perubahan.

Naiknya pendapatan itu tentu saja akan berimbas kepada bottom line perseroan. Setelah mengalami pertumbuhan yang minus dalam dua tahun terakhir ini, Indosiar diproyeksikan mulai mencatat pertumbuhan positif.

Laba bersih pada akhir 2010 diperkirakan mencapai Rp37 miliar, naik empat kali lipat apabila dibandingkan dengan periode 2009 yang hanya tercatat Rp9 miliar. Tahun ini laba bersih Indosiar diperkirakan Rp95 miliar atau naik 152% dari perkiraan tahun lalu.

Salah satu pendorong kenaikan laba bersih adalah dari sisi pembayaran pajak. Pada tahun-tahun sebelumnya, pajak yang dibayar oleh perseroan cukup tinggi, yaitu sebesar 42,8% pada 2008, lalu 78,0% pada 2009 dan 61,3% hingga kuartal III/ 2010.

Besarnya pajak yang harus ditanggung perseroan lantaran Indosiar diwajibkan untuk membayar penyesuaian atas imbalan pajak dari 2005 sampai 2007. Sementara itu, terhitung mulai tahun ini, pajak yang harus dibayar Indosiar kembali normal, sebesar 25%.

Untuk mendukung ekspansi bisnis, perseroan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/ capex) sebesar Rp60 miliar-Rp70 miliar pada tahun ini. Kebutuhan dana akan dipenuhi dari pendapatan operasional dan pinjaman bank.

"Tayangan sinetron praktis akan mendorong kenaikan revenue perseroan, dan berimbas pada laba bersih. Dalam situasi ini, alokasi belanja modal untuk membeli perlengkapan studio baru akan berdampak positif bagi perseroan," kata Andrey.

(tengkyu ya mbeng.. Bisnis Indonesia edisi 1 Maret 2011)

No comments: