Wednesday, March 9, 2011

Lifting & Konsumsi BBM 2011

Target pemenuhan produksi/lifting minyak dan gas domestik tampaknya masih sulit tercapai akibat banyaknya masalah infrastruktur pengeboran di beberapa titik eksplorasi.

Direktur Jenderal Migas Evita H Legowo mengatakan, target pemenuhan minyak dan gas domestik sebanyak 970.000 barel per hari (bph), masih berat. Pemerintah akan terus mencoba mempertahankan produksi agar sesuai target, namun hingga kini belum ada penyesuaian kenaikan produksi dari lapangan/blok existing. “mencapai target saja sudah senang,” katanya.

Banyaknya kendala, kata Evita, dialami industri pengeboran migas dalam negeri. “Saat ini kondisi migas domestik hanya tercapai sekitar 907.000 bph,” katanya

Direktorat Jenderal Migas, jelas Evita, saat ini masih dalam tahap memantau pergerakan migas secara keseluruhan setiap dua hari. Pemerintah tetap optimis, mulai April target produksi minyak akan tercapai.

Untuk itu, pemerintah akan mengupayakan kenaikan sedikitnya 30.000 barel per hari dengan optimalisasi dan memperluas blok lama dan baru. Namun, jumlah dan berapa maksimalisasi penambahan masih belum dapat diprediksi karena harus melakukan penelitian lebih lanjut. “Ada yang lama tetapi kita minta untuk didorong ke arah coverage. Ada juga yang baru,” katanya.

Blok Cepu, kata Evita, yang diprediksi mampu memproduksi sebesar 165.000 barel per hari pun masih belum bisa diandalkan. Saat ini kondisi blok Cepu yang dikelola PT Exxon Mobil Oil Indonesia dengan 49 sumur masih dalam produksi sebesar 20.000 bph. Blok Cepu, bisa berproduksi maksimum minimal pada 2013.“Digenjot bagaimanapun, jika kondisi lagi bagus, maksimum hanya 22.000 bph,” katanya.

Kepala BP Migas R Priyono menembahkan, pada 2011, beberapa blok mengalami masalah dengan mengakibatkan penurunan produksi, seperti halnya di PT Chevron Pacific Indonesia (eks, Caltex). Blok Chevron di Jambi, sempat mengalami penurunan produksi akibat rusaknya pipa LNG dari perusahaan gas negara yang menyuntikkan gas/steam flooding untuk memompa minyak jenuh/beku. “Akibatnya, produksi nasional berkurang,” katanya.

Juru bicara BP Migas Gde Pradnyana menjelaskan, ekplorasi minyak beku Chevron di di ruas Grissik, sempat terganggu akibat rusaknya pipa selama lima hari pada awal akhir 2010. Lebih dari 40% atau setara 330.000 bph minyak mentah di Indonesia bergantung pada eksplorasi Chevron. “Chevron saat ini masih belum fully recover,” katanya.

Chevron, menurut dia, masih dalam tahap memanaskan minyak bumi yang akan diekplorasi, dengan menyuntikkan gas dari pipa yang dibangun PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) itu. “Hingga saat ini, produksi Chevron belum mampu pulih sepenuhnya, hanya sekitar 90% dari total target produksi,” katanya.

Berdasar data target harian pemerintah untuk produksi minyak (lifting) sebanyak 970.000 bph. Namun, data Badan Pengatur Hulu Migas per Februari meleset 45 bph atau hanya mencapai 905.000 bph. "Dengan melesetnya target produksi minyak domestik, diperkiraan subsidi membengkak Rp22 triliun per hari dalam setahun dengan asumsi harga US$100 per barel," kata pengamat perminyakan Fakultas Ekonomi UI, Kurtubi.

Sementara, kata dia, konsumsi minyak Indonesia per hari mencapai 1,4 juta bph. Kebutuhan itu hanya terpenuhi, 64,64% dari produksi domestik, sementara sisanya sekitar 50% dari 495 bph diimpor dari Timur Tengah.

Pemerintah memperkirakan potensi pelebaran defisit anggaran negara pada tahun ini berkisar Rp17 triliun akibat membengkaknya beban subsidi energi karena menyesuaikan dengan tren kenaikan harga minyak.

Menteri Keuangan Agus D. W. Martowardojo menuturkan tren kenaikan harga minyak dunia diakui memang membuat harga minyak dalam negeri (ICP) bergerak naik dan secara otomatis meningkatkan beban subsidi energi dan defisit anggaran. Namun, pemerintah akan melakukan evaluasi perkembangan asumsi lainnya, seperti produksi (lifting) minyak, inflasi, dan kurs, sebelum memutuskan opsi apa yang akan diambil guna mengendalikan konsumsi BBM bersubsidi.

“Ya memang (akan) ada peningkatan defisit kalau itu (asumsi makroekonomi) kami ambil sebagai penyesuaian. Mungkin bisa antara Rp10 triliun sampai Rp17 triliun. Tetapi secara defisit APBN tidak lebih dari 2%,” ujarnya.

Menurutnya, pelebaran defisit terjadi bukan hanya karena pembengkakan subsidi, tetapi juga adanya tambahan tambahan anggaran pendidikan. Intinya, lanjut dia, kalau sampai rata-rata ICP bergerak antara US$90 -US$100 per barel, pemerintah sudah menyiapkan sejumlah skenario guna menjaga kesehatan APBN.

“Kami sekarang ini dalam taraf mewaspadai, mengamati, tapi belum merencanakan melakukan perubahan. Misalnya APBNP, atau perubahan harga BBM,” kata dia.

Soal BBM bersubsidi, lanjut dia, pemerintah sudah menugaskan Kementerian ESDM dan BPH Migas untuk menjaga jangan sampai volume BBM bersubsidi melebihi kuota 38,6 juta kilo liter. “Silahkan saja ditunda atau apa, tapi kami dari Kemenkeu kalau seandainya dampaknya sampai pada fiskal itu masih bisa dikelola. Dan kami juga tahu, terakhir ada apresiasi dari exchange rate,” kata dia.

No comments: