Monday, May 30, 2011

Sepak bola Indonesia dan Wiel Coerver (1924-2011)





Tepat pada peringatan Jumat Agung, 22 April 2011, sepakbola Belanda dan internasional berduka atas wafatnya Wiel Coerver, peletak dasar metode kepelatihan yang dipakai hampir seluruh akademi sepakbola usia dini di setiap penjuru dunia.

Indonesia beruntung pernah mengenal tangan dingin Coerver pada pertengahan 1970-an. Setahun setelah membawa Feyenoord Rotterdam menjuarai Piala UEFA 1974, Coerver menyanggupi tawaran PSSI di bawah Ketua Umum Bardosono untuk menangani tim Merah-Putih. Salah satu tugas Coerver waktu itu adalah menghadapi kualifikasi Olimpiade Montreal 1976. Apalagi, saat itu Indonesia baru kembali ke pentas internasional setelah dijatuhi sanksi larangan tampil selama 16 tahun akibat memboikot pertandingan kualifikasi Piala Dunia 1958 melawan Israel.

Perjalanan Coerver menangani Indonesia penuh liku. Sang pelatih harus pandai-pandai bersiasat dengan manajemen sepakbola tanah air yang berbeda jauh dengan budaya negara asalnya. Seperti yang dicatat Tempo edisi 1975, Coerver tak segan beradu pendapat dengan Bardosono tentang pemilihan pemain. Coevrer bukanlah pelatih Indonesia lain yang bersedia "membungkuk-bungkuk asal bapak senang".

Ketika Indonesia kalah 1-0 menghadapi tim asal Austria, Voets Linz, dalam sebuah pertandingan uji coba tim pra-Olimpiade, Desember 1975, ketua dewan penasehat Maladi dan ketua Badan Tim Nasional Pardede turun ke pinggir lapangan untuk meminta seorang pemain, Waskito diganti, tapi Coerver menanggapinya dengan ringan. "Itu urusan saya," cetusnya.

Coerver juga dikenal sangat membela hak para pemainnya, baik ketika berkiprah di Eropa maupun di Indonesia. Ketika agenda uji coba timnas diubah PSSI secara mendadak usai kekalahan melawan Linz, Coerver tampak berat menerimanya karena sudah terlanjur memberi libur dua hari penuh kepada para pemain. Selama berlangsung pemusatan latihan di Salatiga, Coerver membagi rata hasil penjualan karcis dari pertandingan uji coba kepada 40 pemain anggota seleksi.

Asisten pelatih Ilyas Hadede pernah mengungkapkan, Coerver berhasil "memaksa" Bardoson menandatangani kesepakatan bonus untuk para pemain. Setiap kemenangan dinilai Rp70 ribu, imbang Rp50 ribu, dan kalah Rp25 ribu. Untuk final, timnas mendapat bonus kemenangan Rp2,5 juta sedangkan kalah Rp1 juta. Bahkan Coerver menggagas terbentuknya "Dewan Pemain", terdiri dari Iswadi Idris, Risdianto, Junaedi Abdillah, Oyong Liza, dan Ronny Pattinasarani, untuk menyuarakan pendapat pemain kepada para pengelola sepakbola.

"Kedua kaki para pemain adalah periuk nasi hari ini dan jaminan mereka di hari tua," demikian ujarnya suatu ketika.

Sikap tersebut tak lepas dari kecaman kalau Coerver "merusak" pemain dengan uang dan mengabaikan nasionalisme. Tetapi, seperti sejak awal kedatangannya, Coerver hanya berupaya memperkenalkan profesionalisme dalam sepakbola Indonesia. Pelatih memiliki tugas dan tanggung jawab penuh terhadap tim yang ditangani tanpa intervensi sekalipun dari orang tertinggi otoritas sepakbola tertentu, serta pemain merupakan sendi utama dari industri sepakbola.

Coerver juga menggagas penyelenggaraan turnamen segitiga antara Indonesia dan dua raksasa Eropa, Manchester United dan Ajax Amsterdam. Indonesia sukses membendung United 0-0, tetapi kalah 4-1 dari Ajax. Wakil Belanda itu akhirnya sukses menjadi yang terbaik setelah mengalahkan United, 3-2.

Namun, Coerver tersandung saat ujian tahap akhir. Di depan 120 ribu pendukung yang memenuhi Stadion Gelora Bung Karno Senayan, Indonesia kalah dramatis dari Korea Utara dan gagal melangkah ke Olimpiade 1976. Tidak hanya hati masyarakat Indonesia yang hancur, tetapi juga Coerver. Kontraknya berakhir Mei 1976 dan tidak ada sinyal positif dari PSSI untuk memperbaharuinya.

"Tidak pernah saya jumpai publik yang begitu solider dengan tim nasionalnya," ujar Coerver terkesan atas kecintaan masyarakat Indonesia pada sepakbola.

Sebelum terbang pulang ke Belanda, konon Coerver sempat-sempatnya mendatangi Bardosono untuk memperjuangkan bonus yang belum diterima para pemain, asisten pelatih, pembantu umum, dokter tim, hingga masseur.

Kembali ke Belanda, Coerver hanya sanggup berkecimpung di dunia sepakbola profesional hingga setahun kemudian dengan menangani Go Ahead Eagles. Setelahnya, Coerver memilih tekun menangani sepakbola akar rumput dengan mengembangkan metodenya yang kemudian dikenal seluruh penjuru dunia, "Coerver Coaching Method".

Kunjungan terakhir Coerver ke Indonesia terjadi 2008. Saat itu, Coerver mengaku kangen dengan suasana tanah air dan bereuni dengan sejumlah anak asuhnya. Nada optimisme Coerver tak berkurang. Indonesia, disebutnya, mampu membawa dirinya sendiri berkompetisi di level internasional dengan memulai program pembinaan pemain usia dini.

"Mencetak pemain bintang harus dimulai sejak dini. Saya selalu mengajarkan kepada pemain, kita yang memerintah bola, bola ada dalam kuasa kita, bukan sebaliknya," tukasnya saat itu kepada Tempo.

Coerver lahir pada 3 Desember 1924 di selatan Limburg, kawasan Belanda yang dikenal dengan industri pertambangan. Tumbuh besar dari lingkungan pekerja tambang, Coerver sadar betul arti kerja keras. Karier di lapangan sepakbola dimulai saat usia 12 tahun dengan bermain untuk klub lokal, SV Bleijerheide. Sementara, karier kepelatihannya dimulai 1959 dengan menangani tim amatir, SVN.

Setelah tiga tahun menangani Sparta Rotterdam, Coerver menangani tim yang baru promosi di Eredivisie, NEC Nijmegen, pada 1970. Tiga tahun berselang, NEC dibawanya tampil di final Piala Belanda meski akhirnya kalah dari NAC Breda. Musim berikutnya, Coerver menukangi Feyenoord dan sukses menjuarai Piala UEFA dengan mengalahkan Tottenham Hotspur.

Coerver tutup usia 22 April 2011 karena pneumonia dan masyarakat sepakbola Belanda berduka. Feyenoord akan mengenakan pita hitam saat menjamu PSV Eindhoven pada lanjutan Eredivisie, Minggu lusa, demi mengenang kiprah Coerver.

Para legenda sepakbola Belanda pun mengungkapkan perasaan bela sungkawa masing-masing.

"Beliau ingin setiap pemain menjadi seorang Pele atau [Franz] Beckenbauer, meski banyak orang menertawakannya," cetus Wim van Hanegem.

"Figur Coerver sangat penting dalam dunia sepakbola. Beliau peletak dasar metode mengendalikan bola tanpa kehilangan fokus," ujar Leo Beenhakker.

"Coerver pria dengan visi yang unik," imbuh Rene Meulensteen, asisten Sir Alex Ferguson di Manchester United yang dikenal menerapkan metode Coerver di Carrington.

"Seperti untuk ilmu pengetahuan, Coerver adalah sosok Albert Einstein untuk dunia sepakbola," puji Frans van Balkom, eks pelatih Roda JC Kerkrade yang juga pernah menangani timnas Indonesia...

http://www.goal.com/id-ID/news/2279/editorial/2011/04/22/2453513/in-memoriam-wiel-coerver-1924-2011-pionir-sepakbola

No comments: