Thursday, December 8, 2011

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani




Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam.

Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta.

"Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011.

Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian.

Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin kesegaran dan keamanannya dari bahan pengawaet.

"Biar fresh dan bebas formalin. Ada orang dari Makassar yang mengirim ikan ke Jakarta lewat pesawat," katanya.

Mangga Barani mengatakan lokasi yang dipilih di Senayan sangat strategis, karena berdekatan dengan Hotel Mulia, gedung DPR, dan Gelora Bung Karno.

Mangga Barani kemudian memberikan beberapa tips dalam terjun ke bisnis kuliner ini. Dia mengatakan memilih nama Puang Oca karena merupakan nama panggilannya sebagai orang Bugis. Nama Puang Oca juga dipilih karena unik dan membuat orang penasaran. Pemilihan nama itu, kata dia merupakan satu dari empat strategi dalam bisnis kuliner.

"Restoran juga harus bisa bersaing di telingga. Kalau namannya unik akan dicari orang," katanya.

Strategi lainnya yang dicari konsumen dalam mencari rumah makan adalah suasana yang nyaman. Tak hanya itu, konsumen juga harus diberi kesempatan menikmati makanan lewat hidungnya, sehingga dapurnya sedikit dibuka agar mereka bisa menghirup bau masakan.

"Yang terakhir baru beri makan mata dan lidahnya. Sajian diberi minimal tiga warna agar lebih menarik," ujarnya.

Setelah rumah makan Puang Oca, Mangga Barani siap ekspansi ke beberapa kota besar lainnya.

Komjen Pol Jusuf Mangga Barani lahir di Makassar 11 Februari 1953.

Dia adalah lulusan Akpol tahun 1975 dan dalam pernah bertugas di Dili, Timtim (sekarang Timor Leste) sebagai pasukan khusus anti gerilya BKO Korem mulai pangkat Letda sampai Kapten (sekarang AKP).

Sejak 1976 sampai 1982, Jusuf Manggabarani menjabat Kasat Sabhara Polwiltabes Makassar dan kemudian Dansat Brimob di Makassar dengan pangkat mayor (sekarang Kompol).

Antara tahun 1982 sampai 1988, ia masuk Sespim, kesatuan Gegana kemudian mengambil Sesko ABRI. Selanjutnya, dari tahun 1988 sampai 1994 menjabat Kapolwiltabes Makassar, Kapolwiltabes Bandung, Wakapolda Sulsel, Dansat Brimob. Jusuf pernah juga menjabat Kapoda NAD dan Kapolda Sulsel (1994-2004). Pada 2004 menjabat Kadiv Propam, pada 2005 sebagai Irwasum, dan Wakapolri pada 2010.

2004, dia ditarik ke Jakarta karena kasus UMI (Universitas Muslim Indonesia).

Dia sangat amat tertutup kepada pers.

Mau sedekat apapun berkawan dengan Jusuf Mangga Barani, sepanjang ia mengetahui bahwa pihak yang dekat dengannya itu adalah jurnalis maka secara otomatis juga pria kelahiran Makassar ini akan mengunci mulutnya rapat-rapat.

Tak akan pernah ada satu wartawan pun yang bisa memancing atau mengorek secuil saja informasi berharga berkait rahasia-rahasia atau bocoran-bocoran kebijakan dalam internal Mabes Polri.

Bagi yang mengenal Perwira Tinggi yang satu ini, rata-rata akan berpendapat sama yaitu wajah Jusuf Mangga nyaris “tidak ada ekspresi”.

Sehingga, sangat tidak jelas apakah ia sedang marah atau berkelakar. Sebab, wajahnya akan tetap dingin. Suaranya juga khas, nyaring dengan intonasi yang sangat “Makassar”.

Dan ketika ditanya soal kesan-kesan selama bertugas sebagai polisi selama 36 tahun, Jusuf Mangabarani menjawab sebagai berikut :

“Semua tugas saya selama 36 tahun ini berkesan. Tidak ada yang tidak berkesan. Lalu setiap bertemu saya, kamu ini selalu saja bertanya kepada saya, mengapa gaji polisi terlalu kecil ? Kalau soal gaji, sudah mulai alhamdulilah. Polri menyesuaikan dengan kemampuan negara. Jangan dibilang ini bahasa klise bahwa kemampuan keuangan negara terbatas. Ini sungguh-sungguh bahwa Polri memang menyesuaikan diri dengan kemampuan negara” ungkap Jusuf Mangga.

Lalu tentang keberadaan dirinya yang sejak belasan tahun terakhir selalu dikirim dan diandalkan oleh Pemerintah untuk terjun langsung mengatasi daerah-daerah konflik seperti Aceh dan Poso, Jusuf Mangga menjawab sebagai berikut :

“Saya selalu membawa kader-kader setiap kali saya diperintahkan menangani daerah-daerah konflik yang penuh kerusuhan. Ini berkaitan dengan prinsip LEARNING BY DOING. Saya menangani masalah kerusuhan di Poso tahun 2000-2001 dan 2009. Jadi dimanapun terjadi kerusuhan atau konflik, akar permasalahannya adalah perbedaan pendapat. Sehingga permasalahan yang menimbulkan konflik dan berbagai kerusuhan berdarah tadi harus ditangani dengan jujur, arif dan bijaksana. Jadi itulah juga yang saya lakukan sebagai penengah setiap kali mendapat perintah menangani daerah kerusuhan” jawab Jusuf Mangga.

“Anak saya yang nomor 3, Edi Sabara Mangga Barani namanya, dia anggota Densus 88. Dia lebih suka tinggal di asramanya daripada tinggal bersama saya. Umurnya masih 23 tahun. Tingginya 187 cm. Saya sebagai ayah, tidak tahu kemana atau dimana kegiatan anak saya ini setiap harinya. Eh, tiba-tiba beberapa malam lalu dia muncul di rumah. Dia ketuk kamar tidur saya … dia bilang, Pak … Edi pulang. Saya dan isteri saya terkejut. Saya bilang … Sini masuk nak, darimana saja kau ?. Dia naik ke atas tempat tidur saya. Kami bicara bertiga, saya, isteri saya dan anak saya itu. Dia tinggi sekali. Jauh lebih tinggi dari saya”.

Walau tak tahu dan tak bisa memantau detik demi detik keberadaan anak ketiganya yang menjadi Anggota Densus 88 Anti Teror ini, Komjen Jusuf Mangga Barani mengaku justru dengan anak ketiganya inilah ia paling dekat.

“Edi itu tidak bisa ditebak kapan pulang ke rumah. Tapi kalau dia pulang dan bisa menginap sehari atau 2 hari dirumah saya … kami pergi berdua saja. Pakai topi, ransel, lalu naik Angkutan Umum. Ya … ke tempat-tempat alam bebas. Jalan kaki sekian jam. Kalau ada kesempatan seperti itulah, saya bisa punya banyak kesempatan menasehati dia. Kami bicara tentang kehidupan. Sebagai Bapak, saya sampaikan banyak hal yang harus dia ingat sebagai bekal dalam menjalani kehidupannya. Kalau sudah berpergian begitu, pulangnya kami naik Angkutan Umum, tidak ada yang mengenali” kata Jusuf Mangga Barani

Wakapolri Jusuf Mangga Barani mengisahkan juga bahwa anak ketiganya pernah mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa.

"Ya, itu dia dapatkan bukan karena saya tapi karena dia berprestasi dalam penanganan terorisme bersama Tim Densus 88. Lalu dia bilang … apa Bapak pernah dapat kenaikan pangkat luar biasa ? Saya jawab belum. Saya tahu maksudnya … anak ingin membandingkan dirinya dengan saya. Lalu saya tanya balik, saya bilang … Bapak tidak pernah mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa. Tapi sekarang Bapak tanya … siapa gurumu di dalam hidup ini sehingga kau bisa seperti sekarang ? Dia jawab …. guru saya yang paling berjasa ya BAPAK !" ujar Jusuf.

"Beberapa hari lalu dia datang mau menemui saya tetapi ditahan dia sama Provost. Dia baru tahu rupanya kalau Bapaknya ini Wakapolri” kata Jusuf Mangga sambil tersenyum.

“Ditahan sama Provost, maksudnya bagaimana pak ?”

“Anak saya datang ke sini. Semua tamu kan harus berhadapan dengan Provost dulu di Gedung Utama ini. Provost tanya mau bertemu siapa ? Anak saya bilang dia mau bertemu Wakapolri. Provost bilang mereka harus periksa dulu tas dan bawaan dari setiap tamu. Begitu tas anak saya dibuka, isinya senjata semua. Dia langsung dibawa ke ruangan khusus oleh Provost untuk diperiksa. Provost tanya kamu ini siapa dan mengapa membawa banyak sekali senjata ? Terpaksa anak saya mengeluarkan tanda pengenalnya. Dia jawab namanya adalah Edhie Sabara Mangga Barani” tutur Jusuf Mangga sambil tertawa.

“Mengapa datang menemui Bapak sambil bawa senjata begitu banyak ?” tanya

“Dia mau menunjukkan pada saya tentang beberapa contoh sejata yang mereka pakai untuk latihan. Dia kan sekarang semacam pasukan khusus di Polri ini. Mereka butuh peluru untuk latihan. Jadi dia ditugaskan atasannya untuk menerangkan kepada saya. Ini bukan KKN ya. Mereka memang menggunakan jalur resmi juga untuk meminta logistik peluru untuk latihan tetapi secara informal dirasa perlu untuk menerangkan kepada saya. Saya candai dia waktu datang kemarin. Saya bilang, kamu memang pantas ditahan Provost karena datang bawa senjata begitu banyak mau menemui Wakapolri. Jangan dipikir, bisa gampang-gampang saja kalau mau menemui Wakapolri” jawab Jusuf Mangga.

“Lho memangnya tidak bisa bertemu di rumah saja, Pak ”

“Saya saja tidak tahu dimana dia hari demi hari. Berteleponan saja tidak pernah. Kalau saya coba telepon, handphone-nya mati. Dia itu memang tidak pernah mau dekat sama Bapaknya ini karena nanti penilaian orang bisa macam-macam. Jadi saya baru bisa bicara dengan dia kalau dia yang menepon saya. Pak, kirim pulsa ya … pulsa saya habis. Kalau sudah kehabisan pulsa untuk telepon, barulah dia menelepon Bapaknya. Dia juga jarang datang ke rumah saya. Tapi tiba-tiba, dia bisa datang dan ketuk kamar tidur saya ” jawab Jusuf Mangga menahan geli atas perilaku anaknya.

“Apa bapak tidak kuatir tentang keberadaan dan keselamatan anak Bapak ”

“Kenapa saya harus kuatir ? Saya polisi, dia juga polisi. Kami sama-sama tugas. Dan saya percaya dia bisa menjaga dirinya dalam menjalankan tugas-tugasnya. Anak saya yang satu ini berbeda penampilannya. Dia pakai jenggot dan kemana-mana sering pakai celana pendek. Ya itu karena tuntutan tugasnya. Waktu kemarin dia ditugaskan atasannya datang menemui saya, dia datang pakai celana panjang. Dia tidak pakai celana pendeknya tapi jenggotnya masih tetap dipelihara” kata Jusuf Mangga.

Soal anak, ini ada lagi cerita tentang Jusuf Manggara Barani saat pengumuman Akpol 2010 Semarang.

Seorang perwira polisi yang mengaku sebagai Kepala Kepolisian Resor Wamena, Papua, mengamuk di depan Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia Komisaris Jenderal Polisi Yusuf Mangga Barani. Kapolres itu protes karena anaknya sudah tiga kali mendaftar sebagai taruna Akademi Kepolisian tapi dinyatakan tidak diterima terus.

Protes Kapolres itu dilakukan usai pengumuman seleksi tahap akhir taruna dan taruni tahun ajaran 2010 di Ruang Cenderawasih, Komplek Akademi Kepolisian, Semarang, Rabu (18/8/2010). Jenderal Yusuf Manggabarani mengumumkan satu per satu pendaftar yang tidak diterima.

Dari 410 yang lolos seleksi akhir hanya 300 orang, sehingga ada 110 orang yang dipanggil ke depan karena tidak lolos. Anak Kapolres Wamena itu salah satu yang dipanggil ke depan.

Usai pengumuman, tiba-tiba orang tua salah satu taruna yang menjabat sebagai Kapolres itu ngluruk ke depan. Dia yang sebelumnya duduk di barisan orang tua calon taruna itu maju ke depan untuk menuding-nuding Yusuf Manggabarani sambil mengeluarkan pernyataan.

"Saya yang mendamaikan perang suku di Papua. Mana keadilan itu, masak anak saya tiga kali ikut tes, tapi tetap tidak bisa masuk (Akpol)," kata Ajun Komisaris Besar Stefanus Adi saat itu.

"Saya siap dipecat asal anak saya diterima di Akpol," kata Kapolres Wamena tersebut.
Wakapolri terlihat enggan melayani aksi protes tersebut. Ia hanya diam saja.

Kapolres itu mengaku hanya punya satu anak itu sehingga sangat mengecewakan jika tidak diterima sebagai taruna. Ah namanya juga rasa sayang dan cinta orang tua kepada anak.

Jusuf dan istri dikaruniai empat anak, tiga lelaki satu satu perempuan. Sang anak perempuan Andi Fatmawati Mangga Barani menikah dengan Erwin Aksa, sang putera mahkota Bosowa Grup, yang didirikan Aksa Mahmud, suami dari Ramlah Kalla, adik Jusuf Kalla, mantan wapres.

Anak pertama Jusuf bekerja di maskapai penerbangan. Sementara anak bungsunya masih duduk di bangku sekolah dasar. Menarik, kehadiran anak bungsu di keluarga Jusuf Mangga Barani. Diceritakan, Jusuf dan istrinya kesepian di rumah karena tiga anaknya yang sudah dewasa.

“Saat itu saya bilang sama istri, kita bikin anak lagi supaya ada teman. Jadi kami bikin anak lagi, walaupun kakak-kakaknya sudah besar. Lahirlah dia, sampai sekarang tidurnya pun sama saya dan istri saya,” kisah Jusuf tentang anak terakhirnya tersebut.

Jusuf Manggabarani mempunyai tiga cucu dari anak keduanya. Waktu luangnya dihabiskan bersama istri dan anak terakhir dan cucunya. Jusuf memiliki usaha restoran di Makassar, dan usaha peternakan ayam dan perkebunan durian di Desa Moncongloe, Kecamatan Mamuju.

Ayam yang dikembangkan cukup banyak, di antaranya jenis kalosi, Arab Merah, Kedu Putih, Cemani, Bangka Blitung, Arab Hitam, Bangkok, Mutiara, Plung, Kedu Hitam, Kedu Campuran, Jaya Super, ayam kampung super, Ketaya/kretek, dan kalkum.

Sementara untuk durian, ada 36 jenis durian ditanam di perkebunannya. Durian tersebut didatangkan dari berbagai negara, seperti Thailand, Mesir, Singapura, Australia, dan beberapa negara lainnya untuk dikembangkan. Jusuf mengalokasikan sekitar 100 hektare lahan untuk kedua usahanya tersebut.

No comments: