Wednesday, December 21, 2011

Kini Twitter punya Pangeran Alwaleed bin Talal


Pangeran Arab Saudi Alwaleed bin Talal, salah satu orang terkaya di dunia dan pemegang saham di beberapa perusahaan terkemuka besar Eropa dan AS, telah membeli kepemilikan saham senilai US$300 juta di Twitter, layanan microblogging terpopuler saat ini.

Pangeran Alwaleed, melalui perusahaan investasinya Kingdom Holding, sekarang memegang kepemilikan 3% di Twitter, yang senilai sekitar US$10 miliar.

Alwaleed berpendidikan Barat, kadang-kadang disebut sebagai Warren Buffett Timur Tengah, adalah investor utama di perusahaan-perusahaan AS lainnya, khususnya dalam teknologi, media dan sektor keuangan.

Sebagai keponakan raja Arab Saudi, Alwaleed tercatat berada di daftar orang terkaya dunia dengan nangkring di posisi 26 daftar konglomerat dunia versi Forbes.

Dia adalah pemegang saham terbesar kedua setelah keluarga Murdoch di Fox News pemilik News Corp, dan juga memiliki saham besar dalam Time Warner, Citigroup, General Motors dan Apple.

Alwaleed tidak berinvestasi secara langsung di Twitter, melainkan membeli saham dari investor yang ada, menurut Majalah Fortune.

"Kami percaya bahwa media sosial secara fundamental akan mengubah lansekap industri media dalam beberapa tahun mendatang. Twitter akan menangkap peluang yang menguntungkan ini," kata Ahmed Halawani, Direktur Eksekutif Kingdon Holding Ekuitas Swasta dan Investasi Internasional.

Sebelum investasi Pangeran Alwaleed, Twitter sebenarnya telah memiliki pemegang saham konglomerat lainnya yaitu miliarder Rusia Yuri Milner pada awal tahun ini yang menggelontorkan dana US$800 juta melalui DST.

EMarketer memangkas estimasi untuk pendapatan iklan 2011 untuk Twitter menjadi US$139,5 juta dari US$150 juta pada September karena sejumlah layanan Twitter mulai lambat. Namun, untuk 2012, eMarketer menilai Twitter dapat meningkatkan pendapatan iklan sebesar 86%.

Evan Williams dan Biz Stone, dua pendiri Twitter, telah berkurang keterlibatan mereka di bawah Chief Executive Officer Dick Costolo, yang mengambil kendali perusahaan pada Oktober 2010.

Yang menarik, investasi Alwaleed dilakukan setelah Twitter menjadi sarana bagi aktivis Arab dari Tunisia hingga Bahrain untuk mengkoordinasikan protes dan suara oposisi mereka kepada penguasa rezim-rezim otokratis.

Saat ini, menurut studi bulan lalu yang dirilis Semiocast perusahaan penelitian media sosial dari Prancis, bahasa Arab adalah bahasa yang sekarang paling cepat berkembang di Twitter.

Semiocast mencatat hingga kini tweet bahasa Arab baru 1% dari seluruh pesan Twitter, tetapi volume mereka telah melompat 22 kali selama setahun terakhir.

Anda sudah mencoba nge-tweet memakai bahasa Arab? cobalah! mungkin menyenangkan.

No comments: