Tuesday, December 27, 2011

Boxing Day, Menentukan & Melelahkan


Kompetisi liga sepak bola mana yang terbaik di dunia saat ini? indikator dan selera yang beragam mungkin menghasilkan jawaban yang bermacam-macam pula. Saya lebih menyukai aksi-aksi pertandingan liga Inggris yang menarik.

Pilihan itu memang relatif, tetapi satu yang mungkin susah didapat di kompetisi liga sepak bola di negara lain adalah pertandingan akhir tahun. Kala hampir semua tim menjalani libur Natal dan Tahun Baru, liga Inggris justru membara atau biasa disebut dengan laga Boxing Day.

Tahun ini, sehari setelah Natal, puluhan ribu orang di Inggris akan berkumpul mendukung klub-klub yang bertanding di delapan stadion. Derby London semacam Chelsea versus Fulham, Arsenal menghadapi Wolverhampton Wanderers hingga Manchester United menjamu Wigan, dipastikan mencairkan salju-salju Desember.

Tak hanya itu, pada malam Tahun Baru alias 31 Desember pun, tujuh stadion termasuk Old Trafford, Stamford Bridge hingga Emirates Stadium akan menggemakan yel-yel dan nyanyian para pendukung klub-klub favoritnya.

Istilah Boxing Day, menurut beragam sumber, dipopulerkan sejak pertengahan abad ke-19, saat masa pemerintahan Ratu Victoria. Kala itu, Boxing Day merupakan perayaan khusus yang ditujukan untuk para pelayan yang setia melayani majikan selama setahun terakhir.

Para bangsawan memberikan libur sehari setelah hari Natal kepada para pelayan untuk dimanfaatkan mengunjungi keluarga mereka atau pulang kampung dan tentu saja para majikan tersebut memberikan hadiah-hadiah berupa pakaian, makanan, buah-buahan atau bahkan uang dalam kotak-kotak atau boks (boxes).

Sejak itu, jadilah tradisi pembagian kotak hadiah alias Boxing Day, hari di mana para masyarakat golongan bawah menikmati libur mereka. Di sejumlah negara, terutama negara anggota Persemakmuran seperti Australia, Selandia Baru dll, perayaan itu sering disebut Stephens Day.

Ada juga narasi sejarah yang menyebutkan tradisi tersebut merepresentasikan hari di mana sebuah kotak besi ditaruh di depan gereja untuk mengumpulkan sumbangan. Seiring perkembangan zaman, tradisi pun sedikit berubah.

Boxing Day menjadi hari untuk keluar rumah, orang melakukan tradisi berburu rubah, hingga kegiatan olahraga semacam kriket, balapan kuda hingga sepak bola. Lagi pula, Inggris memang memiliki sejarah sepak bola yang begitu kental.

Mereka telah bermain sepak bola nyaris 700 tahun lalu dengan penuh semangat. Saking semangatnya, pertandingan sepak bola di Inggris penuh dengan kekerasan sehingga Raja Edward III pada 1365 melarang olah raga tersebut.

Bahkan Raja Skotlandia James I pada 1424 juga melarang sepak bola dengan kalimatnya yang terkenal "Na man play at the Fute-ball" (No man shall play football). Namun sepak bola modern dengan aturan yang dimulai di Freemasons Tavern pada 1863, membuat orang Inggris tak pernah melupakan untuk menikmati ajang tersebut setiap Natal.

Karena itu, Boxing Day juga dirayakan dengan pertandingan sepak bola. Maknanya tetap tak berubah, pertandingan saat Natal merupakan ajang memberikan hadiah dan kebahagiaan. Setiap klub mengejar kemenangan dengan semangat yang sama.

Mereka bertanding untuk para fan. Kemenangan adalah hadiah terbaik bagi para pendukung, tetapi tak jarang pertandingan yang seru, kompetitif, meski kalah tetap mendapatkan sambutan hangat dari penonton karena dianggap atraktif dan menghibur.

Hebatnya lagi, pihak FA selaku federasi sepak bola Inggris, membuat jadwal pertandingan yang relatif saling menguntungkan bagi klub maupun penggemar. FA berupaya agar klub yang bertanding itu antarsatu wilayah ataupun kota.

Para pendukung Wigan tentu tak keberatan datang ke Old Trafford kandang Manchester United yang berjarak tak lebih dari 35 km, begitu pula dengan fans Fulham yang nyaris cuma beberapa menit dari rumah mereka di London Barat untuk berkumpul di Stamford Bridge, kandang Chelsea.

Namun memang tidak semua partai mempertandingkan dua tim markasnya saling berdekatan. Pada 26 Desember tahun ini, para pemain dan pendukung Blackburn harus rela menuju Anfield kandang Liverpool. Para pemain Man City seperti Mario Balotelli dkk juga menuju The Hawthorns markas West Brom Albion di West Midlands.

Bagi seorang Sir Alex Ferguson, Boxing Day dan pertandingan selama Desember jelas menjadi partai menentukan sekaligus melelahkan. Apalagi kini Man United dua poin di bawah rival sekota Man City.

Di Indonesia, boxing day mungkin diartikan suka-suka, ada yang mencari liburan ke luar kota, memburu diskon gila-gilaan di acara great sale pusat perbelanjaan hingga acara rohani. Selamat merayakan Natal untuk umat Kristiani. (fahmi.achmad@bisnis.co.id)

No comments: