Wednesday, December 7, 2011

Sri Mulyani, Century, Public at Large



Ini cerita 22 Desember 2009 yang saya re-run kembali:

"Kali ini saya datang memperkenalkan diri sebagai menteri keuangan kabinet Indonesia bersatu jilid II " kata Sri Mulyani Indrawati, di markas redaksi kami Selasa,22/12. Jarum jam di tangan saya menunjuk pukul 16.18 wib.

Hari itu, kebetulan, Wapres Boediono bersaksi di depan Pansus Hak Angket Kasus Bank Century. Setelah dia, Miranda Goeltom juga bersaksi. Hari sebelumnya Burhanuddin Abdullah dan Anwar Nasution.

Si ibu menkeu tentu datang tak sendiri, ada Sekjen Depkeu Mulia P Nasution, Irjen Depkeu Hekianus Mano, Dirjen Pajak Muhammad Tjiptardjo, Dirjen Bea Cukai Anwar Suprijadi, dan pasukan biro humas departemen pengelola uang negara itu.

Teman-teman saya pada bertanya, atau lebih tepatnya banyak berkomentar, "Ngapain dia? cari dukungan ya?" tanya Cyntia.

Tetapi, tanggapan dan komentar usil iseng juga banyak, "Asyikkk dung...bisa foto bareng," kata Diah, Presiden arisan di Cibubur Country.

"Jer basuki mowo bea..jer road show mowo dukungan," kata Munir sambil makan 3 lapis martabak.

"Salam cubit ya untuk bu srimul.." Nury yang gemes.

"Menerima kunjungan sri wedari ngga ?" kata Adyta, pemilik tiket terusan pertandingan Chelsea di Stamford Bridge.

"oh my...betisnya..." ujar Setan Martabak yang biasa mangkal di Mampang Prapatan.

Tetap saja banyak komentar dengan sikap kritis atas dasar profesionalisme, etika maupun sekedar jaga gengsi.

"Sekali-sekali terima tamunya Sri Gayatri dong. Pasti seru tuh," kata Kokok, merujuk ikon perjuangan nasabah Bank Century di Surabaya.

"Ya biasalah, namanya orang lagi jadi perhatian…ya harus pinter2 cari dukungan…. Sing penting ya kita objektif aja…" kata bapake T-Lo.

Namun, sore itu, bu Menkeu tetap tersenyum tipis dengan balutan kebaya gading. Terus terang saya menikmati rentetan kalimat panjang dengan tarikan satu nafas yang keluar dari mulut bu Sri. Bagi saya, Sri Mulyani, Miranda Swaray Goeltom dan Mari Elka Pangestu adalah orang-orang pintar.

Saya sering membandingkan ketiga wanita pejabat publik itu, kebetulan saya lama meliput mereka. Mereka sama-sama pernah jadi pengamat ekonomi, mereka sering mencampurkan bahasa inggris dalam penjelasan... tapi bu Mari Pangestu lebih fasih cas-cis-cus.. suerrrr deh.

Sore itu, Sri Mulyani mengatakan dirinya dan departemen keuangan cukup sibuk mengurus kegiatan rutin pengelolaan keuangan negara. Target penerimaan pajak, bea cukai, jadi perhatian rapim tiap pekan. "Kami mengikuti angka demi angka. jadi kami ini full alert," katanya.

Namun, Sri Mulyani tak bisa menahan magnet berita Bank Century. Dia bilang, paginya dirinya menerima banyak e-mail tentang pendapat pelaku dan finansial tentang kondisi ekonomi pada periode September-Desember 2008.

"Kenapa tuh bu?" saya penasaran.

"Waktu itu, banyak pengamat bilang pemerintah seharusnya melakukan penjaminan penuh terhadap dana perbankan. Saya coba ingatkan lagi hal itu, its not coming from my mouth," katanya.

Saat itu, kata bu Sri, kondisi ekonomi nasional lagi demam. Kurs rupiah terus naik, indeks saham anjlok, dan para pengamat punya peran menyulut kepanikan.

Soal itu, mau tak mau saya sepakat. Pada september 2008, berita yang kami bikin mengkonfirmasikan ekonomi yang dibilang demam itu.

BI dalam laporannya menyatakan cadangan valuta asing turun menjadi US$58,36 miliar pada Agustus dari sebelumnya US$60,56 miliar pada Juli.

Indeks sempat menyentuh level 1.999,53 pada perdagangan sesi pertama 5 September dengan aksi pelepasan besar-besaran terjadi pada saham pertambangan dan perbankan. Sepanjang tahun ini, IHSG telah terkoreksi 26,34% atau 723,26 poin.

Dari pasar valuta asing, nilai tukar rupiah akhirnya melemah 1,6% menjadi Rp9.364/US$ pada penutupan 5 September, posisi terburuk sejak 27 Mei. Rupiah sempat mencapai posisi terbaik pada 2008 pada 7 Maret, yakni pada level Rp9.060/US$.

11 September 2008, berita kami melansir pernyatan Bank Indonesia. Deputi Senior Gubernur BI Miranda S. Goeltom mengatakan eksposur bank terhadap valas masih dalam batas wajar, sehingga perbankan di Tanah Air dinilai cukup aman menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah. Namun dampak krisis makro lembaga keuangan di Amerika Serikat terhadap perbankan dalam negeri baru bisa dirasakan hingga akhir tahun.

Dia menjelaskan eksposur perbankan terhadap valas pada saat ini berbeda jauh dengan posisi ketika krisis moneter pada 1997/1998. Pasalnya, bank sentral kini membatasi porsi penyaluran kredit terhadap valas.

"Seperti Anda ketahui ada aturan position [penempatan valas] dan kami tidak melihat bahwa kondisi ini seperti tahun 1997, yakni banyak eksposur yang tidak tercatat, tetapi yang ini [eksposur sekarang] kami mengetahui," paparnya.

Pada krisis moneter 1997/1998 portofolio kredit perbankan terhadap valas, khususnya dolar AS, mencapai 70%-80%. Di samping itu banyak eksposur bank yang tidak tercatat dan tidak sesuai dengan peruntukan dalam menyalurkan kredit.

Faktor tersebut yang menyebabkan perbankan di Tanah Air yang gulung tikar atau harus mendapatkan uluran bantuan likuiditas Bank Indonesia untuk mengatasi distorsi rupiah terhadap dolar yang kala itu sampai menembus Rp20.000 per dolar AS.

"Kami masih mengamati, kalau dari sisi dampak yang kami pentingkan tidak ingin pasar panik,masyarakat panik," kata Miranda kala itu.

Pilihan otoritas moneter menaikkan BI Rate 25 basis poin menjadi 9,2% tidak mampu membuat rupiah menjadi lebih menarik di mata pemilik dana. Sejak itu rupiah turun 2%.

Data Bloomberg menyebutkan dana asing dalam sehari kemarin keluar dari bursa Indonesia senilai US$20,6 juta (senilai Rp186 miliar), meskipun belum cukup berarti mengurangi pengendapan sepanjang tahun berjalan sebesar US$398,1 juta.

"Wuiiiih, angka-angka itu sudah bikin takut ya ?" kata Mat Usil sok tahu.

Pada Oktober 2008, keluar jurus-jurus finansial. Tapi jelas bukan angka 212. Yang ini serius. 2 peraturan pemerintah pengganti UU (Perppu) diteken Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Regulasi itu berlaku mulai 13 Oktober 2008.

Pemerintah memutuskan menaikkan nilai simpanan yang dijamin maksimal menjadi Rp2 miliar dari semula Rp100 juta guna menenangkan nasabah yang menaruh dananya di bank.

Sementara itu, untuk menjaga ketersediaan likuiditas perbankan dalam kondisi darurat Bank Indonesia melonggarkan regulasi yang menyebutkan bahwa portofolio kredit bisa diagunkan guna mendapatkan pinjaman dana dari otoritas tersebut.

"Situasi sekarang sudah seperti itu [ancaman krisis], karena sektor keuangan mengalami tekanan khususnya perbankan. Jadi dengan tambahan kriteria tersebut pemerintah mengubah jaminan simpanan yang ditetapkan dalam Perppu," papar Menkeu saat pengumuman perppu tersebut.

Tetapi saat itu, saya masih ingat kalau Ketua Umum Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) Sigit Pramono justru meminta adanya penjaminan penuh. Sigit Pramono menyesalkan beredarnya sejumlah isu miring perbankan pada beberapa hari terakhir itu

"Saya katakan yang paling bahaya itu rumors. Bank ini seperti orang nonton di bioskop, kalau kita bilang ada kebakaran, semua penonton pasti lari. Ini psikologi massa," ujarnya.

Sigit mengatakan penjaminan dana masyarakat secara penuh menjadi salah satu kunci utama meredam efek negatif dari isu-isu tentang kondisi perbankan saat ini. "Di Singapura itu memberikan penjaminan penuh tanpa alasan dan perhitungan macam-macam."

Kemarin sore 22 Desember 2009, Sri Mulyani kembali mengingatkan, "Saat itu perintah bapak Presiden cuma satu. beliau tidak mau ekonomi Indonesia krisis dan kembali masuk IMF. Tapi bos saya satu lagi, pak JK, bilang pokoknya saya tolak kalau ada blanket guarantee."

Sri Mulyani ingin menjelaskan kala itu kalau pengamat dan bankir ingin ada penjaminan penuh dari pemerintah agar bank-bank kecil tetap selamat dari terpaan krisis. sementara 2 bos beri perintah untuk menjaga ekonomi in all cost.

Lalu, dia mulai cerita bagaimana dirinya mulai berurusan dengan Bank Century ketika pada 13 November 2008 dirinya yang di Brasil ikut rombongan presiden, mendapat telp dari pak Boediono tentang kasus gagal kliring Bank Century.

Kliring adalah pertukaran warkat atau data keuangan elektronik antarbank baik atas nama bank maupun nasabah yang hasil perhitungan diselesaikan dalam waktu tertentu. Bank harus menempatkan dana dalam bentuk giro di BI agar bisa ikut dalam transaksi. Tanpa ketersediaan dana yang cukup, maka pengajuan kliring bisa ditolak.

"Pak Boed telp minta teleconference. Saat itu ad interim menkeunya yaitu pak Sofyan Djalil. Kami punya protokol JPSK. Pak Sofyan Djalil bahkan kasih kami masing-masing 1 telp yang bisa assured komunikasi tak putus. Jadi pak Boed telp bilang BC ada masalah kesehatan likuiditas. Saya lapor ke Presiden, pak ini ada masalah Bank Century" ungkap Sri Mulyani.

"Saat itu banyak rumor, bilang ada yang di meja makan lah, sarapan pagi lah. Saya pikir itu berbagai fitnah... " sri Mulyani kembali nyerocos.

"17 malam, kami rapat di BI. Waktu itu skenarionya BI match maker, ada 2 konglomerat mau beli. Tapi terus ada yang bilang gimana kalo itu dibeli Bank Mandiri?"

"Terus kami tanya pak Agus Mertowardoyo dirut Bank Mandiri. Tapi dia bilang Robert Tantular is not a good name....."

".. Saat itu tidak pernah BI menjelaskan secara clear juga.... Jadi yang keluar cuma market intellegence saja.. Jadi pada 18, deputi BI datang ke kami, ... informal mereka bilang itu sudah sistemik jadi pemerintah harus kasih fasilitas pembiayaan darurat..."

"BI boleh lender of the last resort, tapi ini yang problemnya di goods jadi ongkosnya tetap pemerintah...."

"Saya tanya ke pak Boed, FPJP nya berapa? sekitar 600 miliar.. loh kreditnya Rp10 triliun terus NPL-nya 5% kok.. itung-itungan saya BI mestinya bisa injeksi lagi. Trus bu Fadjrijah bilang Century sudah dalam pengawasan khusus. Jadi di atas kerta mereka sudah mengawasi..."

"Biasanya kami kalau menutup bank itu weekend, sehingga bisa kasih tahu nasabah. jadi senin bisa kami handle dengan tenang,"

"Tapi ini its all about psychology. everybody think that situation is on crisis"

"Tanggal 19 November 2008, kami rapat lagi. kami ada 23 peer group bank yang mirip-mirip dengan BC."

"LPS itu cuma punya Rp14 triliun, aset BC Rp11 triliun. Saya bayangkan kalo 1 lagi bank yang kolaps, LPS udah selesai padahal kata BI ada 23 bank yang mirip. Firdaus Djaelani ketua LPS disuruh kerja kayak BPPN. Lha wong 1 bank saja dia belum pernah...."

"Kami pakai pasal 37 A Undang-undang perbankan. Dalam situasi krisis, pemerintah dan BI bisa bentuk badan seperti BPPN."

"Saat itu tetap terus bicara di mana-mana setiap kesempatan.Saya ingin menghilangkan gap of information. Confidence semua sudah low."

"Jadi diputus pada setengah 6. terus baru rapat KSSK, yaitu menkeu, gubernur BI, pak Raden...."

"Saat itu biaya Rp1,7 triliun dan Rp652 miliar kalau bank itu tetap hidup. Tapi kalau dimatikan bisa Rp6,5 triliun karena penjaminan LPS sudah naik dari Rp100 juta per rekening menjadi Rp2 miliar per rekening..."

"Saya ditanya auditor BPK, kalau ibu tahu biayanya Rp6,7 triliun kenapa tidak pilih yang Rp6,5 triliun? jadi saya tanya balik, kalau anda yang jadi menkeu gimana? Taruhan saya benar, tidak terjadi kepanikan..."

"Jadi ini mempertimbangkan Rp2.000 triliun dana masyarakat di perbankan. dulu saja pernah hilang Rp600 triliun... tapi apa itu gambling? gak juga.. apakah saya kenal Robert Tantular? gak juga.. jadi gituloh ceritanya...."

"oooh gitu toh bu?..." saya coba belagak berpikir sambil makan anggur dan jeruk yang dihidangkan.

"Jadi apa ibu dan pejabat sekarang trauma mengambil keputusan?" bos saya bertanya.

"Kami sadari kalau kami diaudit dan diawasi tapi bukan diintimidasi. ini beda sekali..." kata Sri Mulyani kembali ke tensi tinggi.

"Kami menganggap ini sudah kelewatan...negeri ini kok seperti tidak menghargai reputasi gitu, kok bisa disejajarkan dengan yang pagi ngomong A terus sore ngomong B," kata bu Menkeu berapi-api.

Sri Mulyani pernah menerima dua penghargaan. Pertama sebagai menteri keuangan terbaik di Asia dari Lembaga Emerging Market Forum. Kedua sebagai menteri keuangan terbaik di dunia versi salah satu majalah ekonomi, Euro Money.

Dia Ediana Rae, Ketua Ikatan Pegawai Bank Indonesia (IPEBI)dalam sambutan diskusi “Perlindungan Terhadap Kebijakan Publik”, Senin 21 Desember 2009 mengatakan "Siapapun penguasa public di negara kita ini tidak akan ada yang berani mengambil keputusan pada saat-saat penting dan genting untuk kehidupan perekonomian dan negara kita apabila selalu dihadapkan kepada rasa ketakutan terhadap konsekuensi politik dan hukum yang akan mereka terima, padahal pengambilan keputusan tersebut, terutama pada saat krisis, tentu saja dihadapkan kepada segala keterbatasan pertimbangan (judgement) dan keterbatasan infrastruktur pendukung seperti dasar hukum yang kuat."

"Oleh karena itu, setiap pengambilan keputusan public yang dilakukan dengan itikad baik (good faith) semata-mata untuk kemaslahatan masyarakat (public at large) seharusnya mendapat dukungan yang kuat dari semua elemen bangsa, baik institusi formal maupun masyarakat sipil (civil Society) di Indonesia," kata Dian.

Miranda Goeltom juga gusar berkali-kali ditanyakan soal pengawasan perbankan oleh Bank Indonesia ketika mengikuti pemeriksaan oleh Pansus Hak Angket Kasus Bank Century.

Ketika Miranda mengaku tidak mengetahuinya, para anggota Pansus seolah menuduh dirinya menutupi informasi. Berkali-kali Miranda diminta untuk berkata sebenarnya.

"Saya mengeluh, hati saya sedih. Mengapa saya ditanya hal-hal yang saya tidak tahu, lalu disebut sebagai orang bodoh. Negara juga harus ada keadilan. Tentu Pansus sudah baca laporan BPK dan mengetahui siapa Deputi Gubernur BI bidang pengawasan. Tapi kenapa (yang dipanggil) Miranda Goeltom?" ujar Miranda sedikit emosional.

"Saya di sini sebagai saksi. Dalam setiap perkataan, saya disumpah. Saya tidak bisa terima saya dibilang bodoh. Saya tidak bisa mengatakan apa yang saya tidak tahu. Kalau saya tahu, saya akan jelaskan sampai detail," kata Miranda.

Bicara reputasi. Semua pejabat pasti sudah memiliki kapabilitas dan kompetensi sehingga bermuara pada reputasinya.

Burhanuddin Abdullah juga punya reputasi mentereng. Dia dinobatkan menjadi salah satu dari lima bankir negara terbaik dunia tahun 2007 oleh majalah ekonomi internasional dari Amerika Serikat, Global Finance, karena dianggap berhasil memimpin bank sentral Indonesia, menjaga stabilitas makro ekonomi selama 2005.

Tapi apa reputasi itu jadi perhitungan para hakim ketika kasus Burhanudin disidangkan. Tak ada yang peduli, semua hilang dan tersisa jabatan dan para penjilat yang berkuasa.

"...Pemimpin kami bukan hanya telah belajar dari krisis 97/98, tetapi juga menulis sejarah untuk menghindarkan negara ini dari krisis 08/09..." kata Aswin. Saya sependapat dengan dia, hanya saja, sejarah ditulis para pemenang.

Pak Burhan pun berkomentar soal pernyataan Aswin, "Bagus itu...ada usaha untuk mengembalikan kebanggaan."

"Aaah jam saya sudah menunjukkan pukul 17.25.. maaf bu menkeu, saya mo ngejar deadline dulu.." kata saya sambil keluar dari ruangan pertemuan.

Sampai kapan kau akan terus menunggu
Mendengarkan buaian lagulagu merindu
Dari seorang biduan yang punya banyak pasangan
Dari seorang pahlawan yang menambah garis kemiskinan
Dari seorang sastrawan yang menulis sejarah kebohongan...
Dari seorang bersinar hitam yang mengaku dirinya Tuhan


Karet, 23 Des 2009
faa

No comments: