Monday, December 12, 2011

Samurai biru, Restorasi & Kompetisi sepak bola




Namanya Mutsuhito Meiji, umurnya 15 tahun saat terpilih sebagai pemimpin terbesar Jepang sejak Jimmu Tenno yang membuat Jepang memiliki tonggak sejarah untuk selalu bangkit menjadi bangsa yang besar.

Jepang pernah menjadi bangsa yang begitu miskin dengan ciri khas negara agraris pada abad 16 yang dipimpin shogunat klan Tokugawa. Setidaknya alur sejarah itu bisa terlihat kalau anda menonton The Seven Samurai karya sutradara Akira Kurosawa.

Selama 250 tahun, negeri para samurai itu terisolasi dari dunia luar hingga muncul Laksamana Matthew C. Perry yang memaksa Jepang membuka pelabuhan mereka untuk kapal-kapal barat dan perjanjian tarif impor yang merugikan.

Kaisar Meiji naik tahta dengan dukungan anak-anak muda berpikiran maju seperti Ito Hirobumi yang menjadi perdana menteri pertama dan Saigo Takamori, yang keduanya baru berusia 30-an tahun. Mereka punya tantangan membangun negara dalam waktu singkat.

Caranya? mereka mengacu Meiji Charter Oath 1868, bahwa pengetahuan akan dicari ke seluruh penjuru dunia dan dasar-dasar kekaisaran akan diperkuat. Dan gelombang orang Jepang pun menyerbu pusat kemajuan peradaban Amerika, Inggris, Prancis hingga Jerman.

Hasilnya dalam dua dekade, Jepang berhasil memiliki konglomerat (zaibatsu) yang berpikiran modern seperti Furukawa Ichibei, raja tembaga yang memiliki Fuji electric dan Fujitsu, lalu Iwasaki Yataro pendiri perusahaan Mitsubishi, dan Shibusawa Eiichi pendiri Dai Ichi Bank.

Pola zaibatsu itu tetap muncul meski negaranya pernah diguncang gempa bumi dahsyat maupun kehancuran bom atom akibat perang dunia. Namun kini kita mengenal Akio Morita (Sony), Konosuke Matsushita (Panasonic), Toyoda Sakichi (Yoyota), dan tentunya Soichiro Honda (Honda).

Bagi Jepang, tidak ada yang instan untuk mencapai kemajuan dan kejayaan, perlu waktu dan kerja keras. Tak hanya soal bisnis, olah raga pun demikian, seperti membangun cerita sukses mereka di sepak bola.
Sebelum 1990-an, nyaris tak ada yang tahun Jepang memiliki kompetisi sepak bola yang maju bercirikan industrialis. Negeri Matahari Terbit itu baru memiliki kompetisi sepak bola J-League sejak 1992.

Sebelum era J-League, para pemainnya pun belumlah profesional, dan mereka lebih semi amatir. Klub-klub yang ikut kompetisi pun boleh dikatakan adalah anak asuhan konglomerasi seperti Mitsubishi, Yamaha, Nissan, dll.

Jepang sebenarnya dulu begitu tertarik dengan kompetisi sepak bola Indonesia. Sistem Galatama dan Divisi Utama PSSI merupakan salah satu kajian serius yang diminati JFA, federasi sepak bola Jepang.

Ricky Yacobi, striker era 1980-an dari Arseto Solo, pada Juli 1989 dikontrak klub Matsushita Jepang dengan nilai nyaris Rp100 juta. Kala itu dia langsung bergabung dengan Matsuhita yang uji coba dengan timnas Thailand. Namun, Ricky tak mampu beradaptasi dengan udara dingin di Jepang. Hanya empat pertandingan yang sempat dia ikuti—dengan satu gol sempat dicetak.

Jepang tak malu mencoba banyak strategi, mulai dari program naturalisasi pemain seperti Ruy Ramos, mendatangkan pelatih asing Arsene Wenger untuk melatih Nagoya Grampus Eight, hingga mensponsori Hidetoshi Nakata bermain di Perugia Serie-A Italia.

Namun, seperti Restorasi Meiji, revolusi total melanda J-League. Kompetisi menjadi industri tersendiri dan zaibatsu memang tetap menjadi nama klub, tetapi manajemen klub dan para pemain menjadi profesional murni dari sisi finansial dan bisnis.

Hasilnya, Jepang dengan timnas Samurai Biru-nya kini menjadi salah satu kekuatan utama sepak bola di dunia. Dalam peringkat FIFA, Jepang berada di posisi 19 dunia, dan merekalah yang menjadi pemuncak di level Asia, di atas Australia, Korea Selatan dan Iran.

Bahkan timnas putri Jepang menjadi juara dunia 2011 mengalahkan Amerika Serikat, Jerman dan Prancis yang selama ini mendominasi.

Cerita serupa memang mirip dengan upaya federasi sepak bola Inggris, melakukan revolusi total dan menghasilkan Premiere League sejak 1992. Baik J-League dan Premiere League bisa menjadi contoh sukses bagaimana liga profesional dibentuk dengan proses yang panjang.

Secara bisnis dan kedua kompetisi juga menjadi yang terbaik dan tengah mencari keberuntungan tak sekedar mencetak tim nasional yang tangguh tetapi juga meraih gelar seperti Spanyol dengan La Liga-nya.

Bagaimana dengan Indonesia? sepertinya kita juga membutuhkan Restorasi PSSI, toh kita punya zaibatsu dan konglomerasi yang mau memainkan dananya.

No comments: