Tuesday, May 24, 2011

Yanaprima dan kantong semen

Tren kenaikan industri semen nasional nampaknya bakal menjadi berkah bagi PT Yanaprima Hastapersada Tbk. Betapa tidak, sebesar 41% dari total pedapatan perseroan sepanjang tahun lalu berasal dari penjualan kantong semen plastik.

Yanaprima merupakan produsen kantong plastik yang sejak 2009 mulai memproduksi polypropylene (PP) kantong plastik tenun atau kantong semen dengan satu lapisan plastik.

Perseroan yang 89,5% sahamnya dikuasai oleh PT Hastagraha Bumipersada, sebuah perusahaan perdagangan nasional dan transportasi, tercatat sebagai perusahaan yang pertama kali memproduksi kantong semen plastik di Tanah Air.

Kini, total kapasitas produksi emiten dengan kode saham YPAS itu telah mencapai 16.000 ton per tahun dan sekitar 90% produknya dilempar di pasar domestik.

Dalam riset PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) yang dirilis pada 13 Mei 2011, Pefindo menilai saham YPAS itu masih sangat rendah (undervalued) karena 4 faktor.
Pertama, diversifikasi produk masih menjadi hal penting bagi Yanaprima karena penjualan dari kantong plastik yang selama ini mendominasi tercatat menurun 17,2% (year on year) pada 2010 di tengah pertumbuhan produksi beras domestik sebesar 3,13% (yoy).

Kedua, dengan tren peningkatan permintaan semen saat ini yang diikuti oleh peningkatan produksi semen oleh para produsen semen nasional, kondisi tersebut memberikan keuntungan bagi YPAS karena pasar untuk produk kantong semen akan menjadi semakin besar.

Ketiga, pertumbuhan industri semen terbukti sangat berperan bagi pendapatan Yanaprima di mana kenaikan penjualan Yanaprima sebesar 24,9% pada 2010 mengikuti pertumbuhan pasokan semen sebesar 12%.

Pertumbuhan pendapatan Yanaprima tersebut ditopang oleh permintaan dari tiga produsen semen yaitu PT Semen Tonasa, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, dan PT Holcim Indonesia Tbk.

Dan faktor keempat adalah adanya perubahan risk free rate, equity risk premium, dan beta masing-masing sebesar 7,06%, 6,95%, dan 0,72x.

Lebih jauh, dukungan kondisi perekonomian nasional yang terus tumbuh yang mendorong pertumbuhan sektor properti dan infrastruktur, menyebabkan prospek industri kantong plastik semen diperkirakan akan semakin cerah.

Terlebih saat ini produsen semen nasional mulai meningkatkan kapasitas produksinya sebagai antisipasi menghadapi pertumbuhan industri semen yang diperkirakan mencapai 7%-10% sampai 2015.

“Kami percaya pendapatan Yanaprima dapat tumbuh 17,66% yoy pada 2011 dan sebesar 19,0% CAGR [compound annual growth rate] selama periode 2010-2015,” seperti dikutip dari riset Pefindo.

Menurut Pefindo, Yanaprima merupakan salah satu produsen kantong semen di Indonesia yang memiliki masa depan bisnis yang menjanjikan terlebih Yanaprima telah memiliki pelanggan tetap yaitu PT Holcim Indonesia Tbk, PT Semen Tonasa, dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.

Ketiga perusahaan semen tersebut pun tercatat menyumbang sekitar 30% dari total pendapatan Yanaprima tahun lalu.

“Kantong semen yang diproduksi Yanaprima mempunyai komposisi berbeda dari yang lainnya yaitu kuat dan tidak hancur dalam transportasi jarak jauh,” jelas riset pefindo.

Kantong beras

Ke depan, Pefindo menyarankan agar Yanaprima lebih fokus menggarap produk kantong semen plastik karena kinerja penjualan kantong plastik Yanaprima khususnya untuk kemasan beras menurun sebesar 17,2% pada 2010. Padahal produksi beras dalam negeri sepanjang 2010 meningkat 3,13%.

Pefindo meyakini tren kenaikan harga bahan baku adalah sumber penurunan tersebut karena Yanaprima tidak dapat secara otomatis merubah harga penjualan kantong plastik seiring dengan pergerakan harga bahan baku.

Selama periode 2010, Yanaprima membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 24,9% menjadi Rp348,4 miliar dibandingkan periode sama 2009 sebesar Rp278,9 miliar. Dari jumlah tersebut, sebesar 41% berasal dari penjualan kantong semen plastik.

“Kami percaya bahwa Yanaprima lebih fokus pada penjualan kantong semen plastik sejalan dengan meningkatnya permintaan dari produsen semen,” ujar periset Pefindo.

Di samping terus meningkatkan kualitas dari produknya, YPAS juga dituntut untuk terus meningkatkan kompetensinya dalam pemasaran produk dengan cara meningkatkan kesadaran konsumen akan merek serta loyalitas terhadap merek produk YPAS dalam pikiran konsumen.

“Langkah ini bisa dilakukan dengan selalu menyediakan stok kantong plastic di setiap cabangnya.”

Selain itu, masalah penting yang harus bisa diatasi Yanaprima ke depan adalah terkait kenaikan harga bahan baku dan biaya transportasi yang terus meningkat. Dua hal tersebut akan berpotensi menurunkan margin laba kotor dan margin operasi Yanaprima.

Pefindo menargetkan harga referensi saham Yanaprima untuk 12 bulan adalah antara Rp660-Rp740. Estimasi tersebut didasarkan pada posisi penilaian per 31 Desember 2010 dengan menggunakan metode DCF (discounted cash flow) dengan asumsi tingkat diskonto 11,66%.

(Artikel ini terbit di Bisnis Indonesia, 24 Mei 2011)

No comments: