Monday, May 2, 2011

Ada apa dengan Saham Tidur ?


Otoritas pasar modal meminta 130 emiten yang masuk katagori saham tidur untuk melakukan aksi korporasi sehingga kinerjanya bisa lebih transparan di mata publik dan menjadi lebih likuid.

Data Bisnis Indonesia Intelegence Unit menyebutkan ke-130 emiten itu selama periode Januari 2010 hingga 31 Maret 2011, atau selama 307 hari hanya melakukan transaksi di bawah 40%.

Bahkan, lanjut laporan itu, sebanyak 19 emiten tercatat tidak melakukan transaksi perdagangan atau 0%. Beberapa emiten itu a.l. PT Bank Mutiara Tbk, PT Centex Tbk, PT Gunung Agung Tbk.

Kepala Divisi Riset PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Poltak Hotradero mengatakan kinerja perusahaan yang baik dan tercatat di lantai bursa secara tidak langsung memberi efek terhadap pergerakan saham itu.

"Ada berbagai macam alasan mengapa sejumlah saham dikatakan saham tidur. Mereka [emiten] itu biasanya jarang melakukan aksi korporasi sehingga mempengaruhi pergerakan harga saham perseroan," ujarnya, 26 April 2011.

Menurut dia, ada beberapa langkah yang dilakukan emiten yang masuk katagori saham tidur. Salah satunya adalah dengan melakukan aksi korporasi. Dengan aksi itu, lanjutnya, kinerja emiten itu lebih transparan di mata publik sehingga bisa berimbas pada pergerakan sahamnya ke depan.

"Sebenarnya, emiten dengan katagori saham tidur ada juga kinerjanya cukup bagus," ujar Poltak mengingatkan.

Analis pasar saham Ahmad Riyadi menambahkan sebuah emiten bisa dikatakan baik bila mereka mampu mempromosikan atau membuat agenda kerja terhadap perusahaannya itu agar saham yang di lepas di BEI tetap aktif, likuid dan memberikan untung kepada investor.

"Bila perusahaan kurang aktif mempublikasikan kinerjanya, lambat laun sahamnya akan kurang dilirik oleh pelaku pasar."

Sebagai contoh, tiga perusahaan yang baru mencatatkan sahamnya di BEI pada awal 2011 dapat saja ke depan menjadi saham yang kurang likuid karena kinerjanya kurang publikasi.

Berkaitan dengan kondisi itu, Poltak mengemukakan otoritas pasar modal kini tengah mengindentifikasi emiten yang masuk katagori saham tidur berdasarkan sektor usaha dan prospek bisnis ke depan. "Solusi sudah ada. Kami kini tengah indentifikasi dan mencari solusi. Itu tidak mudah dan harus seksama," pungkasnya.

Seperti kasus Bank Century, yang kini berubah nama menjadi Bank Mutiara. Poltak mengatakan mengidentifikasi saham tidur sekelas Bank Mutiara butuh proses.

Untuk membangkitkan pergerakkan saham yang tidur agar dilirik pasar, tambahnya, diharapkan para analis sekuritas atau Pemeringkat Efek Indonesia juga merilis laporan mengenai perusahaan menengah kecil itu. Pasalnya, Poltak menambahkan, emiten itu kerap kali kurang mendapatkan perhatian dari analis pasar modal.

"Tanpa perhatian analis, perhatian investor kepada saham itu pun kecil."

Dengan minimnya pengetahuan terhadap saham tidur membuat investor domestik maupun asing ragu untuk melakukan investasi di saham yang tergolong tidur tersebut, meskipun prospek perusahaan itu sebenarnya mempunyai kinerja yang baik.

"Dengan adanya analisa dari pengamat saham tentang saham yang kurang dilirik itu, diharapkan dapat menghilangkan anggapan bahwa saham tidur itu adalah saham yang tidak likuid," katanya.

Poltak juga tidak memungkiri saham yang kurang likuid ini digerakkan oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki kepentingan. Entah itu emiten, pemegang saham mayoritas, atau pelaku pasar.

Di sisi lain, tambahnya, berinvestasi pada saham yang tidur akan menyulitkan investor bila ingin mencairkan investasinya ketika mereka memerlukan dananya untuk kepentingan lain.

"Memiliki portofolio saham tidur sangat susah menjualnya. Artinya, dana yang diinvestasikan malah tertahan tidak memperoleh apa-apa kan. Untuk investor diharapkan pelajari dahulu prospektus perusahaan sebelum mengambil langkah investasi," pungkasnya.

(Please read Bisnis Indonesia daily)

3 comments:

Anonymous said...

pak kalo dikatakan saham tidur itu dia tidak aktif memperdagangkan selama berapa lama?/ trimaksih

Julian Cholse said...

Kata Broker saya sih 75 kali dalam 3 bulan..

Momo Chan said...

Jika investor mempunyai saham tidur maka akan susah likuid atau dicairkan.
pojokinvestasi.com