Wednesday, April 6, 2011

Giliran OCBC NISP versus CIMB Niaga



Persaingan usaha dalam sektor perbankan saat ini semakin ketat. Setidaknya terdapat sekitar 121 bank yang ada di Indonesia dan bersaing untuk mendapatkan kepercayaan lebih dari 200 juta penduduk.

Sebagai lembaga intermediasi yakni penyimpan dan penyalur dana masyarakat, prinsip kepercayaan dan keamanan merupakan hal paling utama yang ditawarkan bagi konsumen. Nasabah tentu akan melihat rekam jejak lembaga perbankan sebelum menaruh uangnya dalam lembaga tersebut.

Di Indonesia, perbankan dibagi atas beberapa kelompok yakni bank milik pemerintah, bank umum swasta nasional, bank pembangunan daerah, bank campuran, serta bank asing. Diantara sekian banyak bank, ada sejumlah bank umum swasta nasional yang kendali saham utamanya dipegang oleh bank asing, a.l PT Bank OCBC NISP Tbk dan PT Bank CIMB Niaga Tbk.

Bank OCBC NISP awalnya bernama Bank NISP yang merupakan bank keempat tertua di Indonesia yang didirikan di Bandung pada 4 April 194. Bank yang fokus pada segmen usaha kecil dan menengah (UKM) itu mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia sejak 1994.

Namun, pada akhir Juni 2010, NISP diakuisisi oleh OCBC Bank-Singapura dan akhirnya menjadi pemegang saham pengendali dengan memiliki 81.9% saham bank tersebut. Dengan adanya dukungan dari bank lokal tertua di Singapura itu, bank yang saat ini dipimpin oleh Parwati Surjaudaja terus mengembangkan bisnisnya.

Sementara itu, Bank CIMB Niaga awalnya bernama Bank Niaga dan didirikan pada 26 September 1955. Bank Niaga mulai mencatatkan sahamnya di BEI pada 1989. Keputusan tersebut diambil untuk meningkatkan akses pendanaan yang lebih luas.

Namun, pada November 2002, Commerce Asset-Holding Berhad (CAHB) yang kini dikenal sebagai CIMB Group Holdings Berhad (CIMB Group Holdings) mengakuisisi saham mayoritas Bank Niaga dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Dan pada 1 November 2008, LippoBank pun secara resmi bergabung ke Bank CIMB Niaga. Dengan komposisi saat ini, bank yang dipimpin oleh Arwin Rasyid menggabungkan kekuatan di bidang perbankan ritel, UKM, dan korporasi.

Dengan pengalaman yang cukup lama di dunia perbankan serta dukungan dari bank asing kinerja dua bank tersebut, dari sisi penyimpanan dan penyaluran dana ke masyarakat, baik Bank OCBC NISP dan Bank CIMB Niaga mengalami peningkatan.

Jumlah dana pihak ketiga (DPK) OCBC NISP selama 2010 naik 18,71% menjadi Rp35,85 triliun dari Rp30,2 triliun pada tahun sebelumnya, dan penyaluran kredit perseroan tumbuh 28,57% menjadi Rp27,36 triliun dari Rp21,28 triliun.

Disaat yang sama jumlah DPK CIMB Niaga juga naik 36,63% menjadi Rp117,83 triliun hingga akhir 2010 dari Rp86,24 triliun pada akhir 2009 dan penyaluran kredit tumbuh 25,26% menjadi Rp100,35 triliun dari Rp80,11 triliun.

Namun, jika melihat neraca laba rugi, khususnya pertumbuhan laba bersih kedua emiten yang masuk dalam industri perbankan itu mengalami perbedaan.

Berdasarkan laporan keuangan masing-masing perseroan disebutkan pada akhir tahun lalu bank dengan kode saham NISP membukukan laba bersih sebesar Rp320,98 miliar, atau turun 26,33% dari tahun sebelumnya sebesar Rp435,86 miliar.

Sementara, bank dengan kode saham BNGA mengalami pertumbuhan laba bersih selama tahun lalu sebesar 62,82% menjadi Rp2,54 triliun dari periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar Rp1,56 triliun.

Jika dilihat dari komponen neraca laba rugi Bank OCBC NISP dapat terlihat meskipun pendapatan bunga bersih perseroan naik 4,62% menjadi Rp1,81 triliun dari Rp1,73 triliun, namun pendapatan operasional perseroan turun sebesar 3,08% dari Rp496,95 miliar menjadi Rp481,63 miliar.

Salah satu faktor penurunan pendapatan itu karena laba selisih kurs perseroan berkurang 45,49% menjadi Rp70,65 miliar dari sebelumnya Rp129,62 miliar. Sementara itu beban operasional meningkat 8,03% menjadi Rp1,48 triliun dari Rp1,37 triliun. Hal ini mengakibatkan laba operasional perseroan turun tipis sebesar 0,38% menjadi Rp606,62 miliar dari Rp608,99 miliar.

Adapun peningkatan laba yang dialami oleh Bank CIMB Niaga seiring meningkatnya pendapatan bunga bersih sebesar 19,18% menjadi Rp7,33 triliun dari Rp6,15 triliun. Pertumbuhan juga terjadi pada pendapatan operasional perseroan sebesar 5,43% dari Rp1,29 triliun menjadi Rp1,36 triliun.

Beban operasional perseroan juga meningkat menjadi Rp4,35 triliun dari Rp3,75 triliun. Hal ini mengakibatkan laba operasional perseroan tumbuh 51,58% menjadi Rp3,35 triliun dari Rp2,21 triliun.

Menanggapi adanya perbedaan kinerja tersebut, Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang mengatakan penurunan laba yang terjadi pada OCBC NISP sebenarnya lebih disebabkan adanya beban biaya penggabungan antara OCBC NISP dengan OCBC Indonesia. Sementara dari sisi kinerja lainnya cukup baik.

Untuk penyaluran kredit pun NISP menunjukkan peningkatan sehingga rasio pinjaman terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) berada pada kisaran 77,96% dengan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) terjaga di kisaran 2%.

Sementara, CIMB Niaga juga menunjukkan peningkatan penyaluran kredit dan LDR berada pada kisaran 88,04% dengan NPL berada pada kisaran 2,59%.

Dengan kinerja tersebut, Edwin melihat NISP tumbuh cukup baik namun lebih konservatif dibandingkan dengan BNGA. Kedepannya, Edwin mengimbau ditengah persaingan ketat industri perbankan NISP harus lebih berani mengambil risiko dengan menambah variasi debitur dan agresif menyalurkan kredit. Inovasi produk dan pelayanan pun dinantikan dari dua perbankan nasional itu.

"Kalau dilihat dari kinerja dua-duanya cukup bagus. Hanya BNG memiliki kemampuan mencetak laba lebih tinggi dari NISP. Itu juga terlihat dari LDR dan NPL yang dimiliki masing-masing bank. Saya lihat BNGA lebih agresif dibandingkan NISP," jelasnya.

Kedepannya, Edwin memperkirakan saham BNGA mampu menembus kisaran Rp1.980 per lembar saham dan NISP menembus Rp1.600 per lembar saham. dengan peregerakan saham yang cukup atraktif, Edwin pun merekomendasikan BUY untuk saham tersebut.

"Untuk jangka pendek mereka masih atraktif, tapi kami perlu melihat program atau inovasi lainnya kedepan. Dua saham ini kami rekomendasikan BUY," tutupnya.

(Please read Bisnis Indonesia Newspaper)

No comments: