Sunday, July 17, 2011

United Tractors dan pengaruh musibah gempa bumi


Gempa kembali mengguncang Jepang pada Minggu 10 Juli, kali ini berskala 7,1 skala Richter, memicu tsunami hanya setinggi 10 sentimeter. Efek bencana tersebut terhadap kinerja PT United Tractors Tbk diyakini kian mengecil.

Gempa yang dilaporkan Associated Press (AP) di prefektur Miyagi Jepang tersebut memang membuka ingatan publik pada 11 Maret 2011, ketika wilayah yang sama diguncang gempa 9 skala Richter.

Lindu pemicu tsunami yang membunuh 21.000 orang lebih itu tidak hanya memicu krisis nuklir di pembangkit Fukushima Daiichi, tetapi juga sempat meniupkan kabar buruk seputar produksi manufaktur mobil dan alat berat Jepang.

Tidak heran, analis PT Onix Capital Bagus Hananto menilai volume penjualan United Tractors berpotensi tertekan tahun ini akibat gempa Jepang, yang terbukti sempat membuat penjualan 2 bulan terakhir menurun.

Pada Mei 2011, anak usaha Astra ini menjual 617 alat berat, turun 19,6% dari penjualan April se banyak 767 unit. Penurunan penjualan bulanan ini merupakan yang terendah sepanjang tahun berjalan.

“Penurunan terutama karena dampak gangguan suplai dari gempa Jepang. Pendapatan perseroan pada kuartal II/2011 dari alat berat akan terpengaruh meski dampak totalnya tidak parah,” tutur Bagus dalam laporan risetnya per 21 Juni.

Namun, lanjutnya, penjualan perseroan bisa dibilang relatif bertahan karena masih di atas 600 unit per bulan pada April dan Mei lalu. Secara umum, bisnis kontrak penambangan dan penjualan batu bara diperkirakan menjadi penopang penjualan konsolidasi.

Dalam laporan terpisah, analis PT Finan Corpindo Nusa Helen Vincentia menilai tsunami Jepang tidak berdampak negatif terhadap anak usaha grup Astra tersebut, karena Komatsu tidak hanya memiliki pabrik alat berat di Jepang.

“Komatsu juga memiliki pabrik di negara lain dengan terus berlangsungnya upaya perbaikan terhadap fasilitas pabrik yang rusak di Jepang. Kami perkirakan penjualan alat berat pada tahun ini mencapai 6.485 unit, dengan kenaikan 20% dari realisasi 2010,“ paparnya dalam laporan riset per 19 April.

Kenaikan harga komoditas seperti minyak sawit mentah (CPO), batu bara, emas, timah, dan komoditas lain diyakini mendorong permintaan alat berat pada 2011.

Target ini diamini perseroan, yang baru-baru ini mendongkrak target penjualan 2011 menjadi 7.500 unit.

Helen mengingatkan adanya faktor kontribusi kinerja dari bisnis batu bara. Volume produksi batu bara tercatat sebesar 85 juta ton pada 2011, dengan pemindahan tanah sebanyak 720 juta miliar kubik meter (billion cubic meter/ bcm).

Didominasi Komatsu United Tractors didirikan pada 13 Oktober 1972 sebagai distributor tunggal alat berat Komatsu di Indonesia. Saat ini, perseroan menggarap bisnis kontraktor penambangan dan pertambangan batu bara.

Emiten alat berat ini bertindak sebagai distributor tunggal alat berat Komatsu, Nissan Diesel, Scania, Bomag, Valmet dan Tadano. Tahun lalu, penjualan merek Komatsu mendominasi portofolio perseroan, mencapai 5.404 unit atau menguasai 46% pangsa pasar.

Di luar itu, perseroan juga menyediakan pelayan an purnajual, pem buatan komponen dan perakitan, rekondisi alat berat, penyewaan dan penjualan alat berat bekas.

Unit usaha kon traktor penambangan dijalankan melalui PT Pamapersada Nusantara (Pama) yang mencakup rancang tambang, eksplorasi, penambangan, pengangkutan, dan bongkar-muat. Beberapa pelanggan di antaranya PT Adaro Indonesia, PT Indominco Mandiri, PT Kideco Jaya Agung, dan PT Kaltim Prima Coal.

Di sisi lain, perseroan mengopera sikan tambang batu bara melalui PT Dasa Eka Jasatama (DEJ), anak usaha Pama. Berlokasi di Rantau, Kalimantan Selatan, DEJ memiliki batu bara berkualitas tinggi dengan 6.700 kalori di area seluas 12.500 hektare.

Kabar akuisisi perusahaan tambang baru, yang disebut-sebut sebagai PT Bukit Enim Energi, menjadi katalis positif di tengah tingginya permintaan batu bara di pasar utama United Tractors, yakni Jepang, yang mencari alternatif energi pascakerusakaan pembangkit nuklirnya.

“Produksi batu bara 2011 diperkirakan mencapai 4 juta ton didukung naiknya permintaan akibat meningkatnya kebutuhan energi dunia,“ ujar Helen.

Dari sisi geografis, Asia menjadi pasar terbesar dengan kontribusi 65% dari konsumsi batu bara dunia, menyusul besarnya peran China sebagai konsumen utama.
Negara lain yang tidak memiliki sumber daya memadai juga mencari batu bara seperti Jepang dan Korsel.

Oleh sebab itu, Helen yakin kinerja United Tractors masih akan positif sehingga dia merekomendasikan beli saham perseroan berkode UNTR tersebut, dengan target harga Rp27.200 per unit.

(please read Bisnis Indonesia daily)

No comments: