Sunday, July 17, 2011

Sidomulyo Selaras dan jasa angkutan barang berbahaya



Setelah PT Sidomulyo Selaras Tbk resmi terca tat sebagai emiten di PT Bursa Efek Indonesia kemarin, otoritas bursa itu kini memiliki satu lagi kategori bidang usaha untuk emitennya yakni jasa transportasi darat khusus bahan berbahaya dan beracun.

Di lantai bursa, Sidomulyo Selaras yang berdiri pada 1986 itu praktis tidak memiliki saingan di kategori bidang usaha itu.

Kehadiran perseroan yang dibentuk oleh Sasminto Tjoe itu diperkirakan menjadi daya tarik bagi investor di lantai bursa, terutama di segmen ritel, karena menawarkan alternatif lain dalam berinvestasi.

Pada debut 12 Juli 2011, saham Sidomulyo yang diperdagangkan dengan kode SDMU itu ditutup naik 6,67% atau 15 poin ke level Rp240 dari harga perdana Rp225. Harga saham perseroan bahkan sempat menyentuh level Rp245 pada perdagangan kemarin.

Analis PT Pemeringkat Efek Indonesia Achmad Kurniawan Sudjatmiko mengatakan saham Sidomulyo Selaras berpeluang untuk terus menguat, tidak hanya pada awal-awal pencatatan di BEI.

“Tidak banyak perusahaan yang berbisnis di sektor jasa transportasi darat angkutan bahan berbahaya dan beracun, apalagi Sidomulyo merupakan salah satu yang terbesar dan kini melantai di bursa. Saham perseroan berpeluang untuk terus meningkat jika manajemen bisa tetap profesional dalam menjalankan bisnis,“ paparnya.

Pada penawaran umum perdana, Sidomulyo Selaras meraih dana Rp53,32 miliar dengan jumlah saham yang ditawarkan 237 juta lembar.

Perseroan akan menggunakan dana itu sebesar 86,96% untuk membeli 30 unit truk, menyusul target meraih delapan kontrak baru pada tahun ini. Sementara itu, sebesar 13,04% dipakai sebagai modal kerja.

Saat ini, perseroan beroperasi dengan 232 unit truk, 150 unit trailer, 61 unit ISO tank, 41 unit tanki, dan dua unit kendaraan untuk kondisi darurat.

Jonathan Walewangko, Sekretaris Perusahaan Sidomulyo Selaras, mengatakan delapan kontrak yang diincar itu senilai sekitar US$15 juta.

Adapun, pada tahun ini Sidomulyo Selaras menargetkan pendapatan bersih Rp160 miliar, meningkat 57% dibandingkan dengan realisasi 2010 sebesar Rp101,9 miliar.

“Sejauh ini, kami sudah mendapat empat kontrak, dan tengah menunggu kesepakatan kontrak dengan Conoco Phillips, Salamander, Talisman, dan satu perusahaan di Merak,“ katanya saat ditemui seusai pencatatan saham perdana saham Sidomulyo Selaras di BEI.

Dia menuturkan jangka waktu rata-rata setiap kontrak untuk angkutan B3 itu 20 bulan hingga 24 bulan.

Namun, nilai kontrak US$15 juta yang diincar pada tahun ini lebih rendah dibandingkan dengan yang diperoleh perseroan pada tahun lalu yakni US$20 juta.

“[Pada tahun ini] turun, karena volume angkutan minyak agak turun, begitu juga dengan kimia. Namun, kami harapkan akan membaik,“ jelasnya.

Sebagai perusahaan jasa transportasi darat dengan keahlian tersegmentasi, faktor eksternal yang bisa memengaruhi kinerja Sidomulyo Selaras adalah kinerja di industri bahan-bahan berbahaya dan beracun.

Bisnis transportasi angkutan barang akan terus bergairah jika produksi selalu meningkat, yang dipengaruhi oleh adanya permintaan.

Jika tidak hati-hati menerapkan strategi di tengah industri yang menurun, kinerja perseroan juga akan melemah.

“Akan sangat bergantung juga dari kinerja Sidomulyo Selaras, karena mereka bergerak di bidang angkutan yang cukup berbahaya. Sekali saja membuat kesalahan, klien akan tidak percaya. Perseroan harus menyiapkan armada sesuai dengan spesifikasi,“ kata Managing Research PT Indosurya Asset Management Reza Priyambada.

Dia juga memperkirakan saham Sidomulyo Selaras dengan level di bawah Rp500 akan menarik bagi investor ritel.

“Biasanya harga saham di bawah Rp500 itu frekuensi transaksinya akan tinggi. Bisa jadi akan terkoreksi dan ketika terjadi penaikan sedikit, saham perseroan akan kembali dicari oleh investor ritel,“ paparnya.

(please read Bisnis Indonesia daily)

No comments: