Monday, July 4, 2011

Ketika semua bermula dari statistik


Kata orang bijak, persiapan merupakan setengah dari keberhasilan dan persiapan membutuhkan rencana dan landasan keputusan-keputusan berani.

Salah satu bentuk persiapan dalam sepak bola adalah analisa data-data teknis dan statistik sebelum maju ke suatu pertandingan. Dalam sepak bola modern, jika 'buta' terhadap data dan statistik lawan itu sama saja setengah dari faktor kekalahan.

Prancis bisa menjadi juara dunia 1998 karena pelatih Aime Jacquet membawa kemana-mana dan membaca 'buku hitam' yang berisi data statistik para pemain Brasil terutama Ronaldo.

Statistik pula yang membuat satu pemain berbeda dengan pemain yang lain, meskipun bermain dalam jumlah menit yang sama. Manajer dan pelatih zaman modern selalu menggunakan jasa para analis statistik untuk mencari keuntungan dalam memilih pemain.

Tepat setahun lalu, manajer Manchester United (Inggris) Alex Ferguson membeli Javier Hernandez (Meksiko) dari klub Guadalajara seharga 7 juta pound (Rp97 miliar) karena para pencari bakat menyodorkan fakta si Chicharito memiliki kecepatan lari.

Striker Meksiko itu mampu lari 19,97 mil per jam atau tercepat di Piala Dunia 2010 dan bahkan bisa 32 km per jam sekaligus lebih cepat dari bek-bek klub Inggris. Faktanya tahun ini MU bisa juara di Inggris.

Statistik pula yang membuat seorang Ferguson harus menjual Jaap Stamp pemain belakang asal Belanda yang ikut membawa MU juara piala Champions 1999. Stamp dijual ke Lazio (Italia) pada 2001 karena tim analisa statistik menyebutkan data tekelnya kian menurun dari tahun sebelumnya.

Kini 10 tahun kemudian, Ferguson pula menyetujui pembelian Phil Jones, bek muda Inggris dari klub Blackburn Rovers seharga 20 juta pound. Alasannya? Jones memiliki data tekel yang memuaskan para pencari bakat.

Selama musim 2010-2011, Blackburn meraih kemenangan 9% lebih banyak dan kebobolan 0,57 gol lebih sedikit ketika Jones bermain. Selama 35 pertandingan di Premiere League, Jones melakukan 211 penyelamatan, 808 umpan, dan 61 tekel serta hanya empat kartu kuning !

Jones juga termasuk masuk sepuluh besar pemain dari sisi tekel terbanyak, dengan memenangkan 51 tekel dalam 2176 menit di lapangan, atau satu tekel bersih setiap 42,7 menit. Statistik Jones ini lebih bagus dari semua bek di MU, termasuk Rio Ferdinand yang baru saja menghampiri Jakarta.

Bolton Wanderes semula adalah klub semenjana tetapi jadi menakutkan setelah dilatih 'Big' Sam Allardyce dan berhasil masuk Premiere League Inggris 2001. Selama 6 tahun hingga 2006, Allardyce memaksimalkan tenaga analis statistik.

Alasannya, Bolton bukanlah klub kaya yang mampu beli pemain bagus. Analis statistik Bolton melakukan riset di mana bola sering jatuh setelah disapu bek lawan. Di sanalah Allardyce tempatkan pemainnya sehingga permainan lawan tak berkembang dan Bolton selalu meraih poin.

Jose Mourinho pun ketika pindah ke Real Madrid dari Inter Milan, sang Special One langsung merekrut 20 analis baru.

Sewaktu di Chelsea, Mourinho selalu bergantung kepada tim analisnya termasuk Andre Villas-Boas yang selalu membawakan cakram DVD statistik pertandingan kepada para pemain Chelsea di ruang ganti.Villas-Boas kini menjadi pelatih baru klub milik Roman Abramovich itu.

Konsorsium Abu Dhabi merekrut lebih dari 30 tenaga ahli analis statistik setelah resmi menjadi pemilik Manchester City.

Lain lagi dengan Arsene Wenger yang dijuluki Profesor salah satunya karena cenderung ilmiah. Sewaktu masih melatih AS Monaco, Wenger memesan peranti lunak analisa statistik, namanya Top Scorer. Pria Prancis ini kini sudah 15 tahun dipercaya melatih Arsenal (Inggris).

Di Italia, klub AC Milan memanfaatkan Milan Lab berisi para ahli dan analis agar rekomendasi pembelian pemain dapat dikaji secara ilmiah. Klub yang dimiliki PM Silvio Berlusconi ini lebih tertarik dengan pemain cepat karena ada kajian korelasi positif antara top speed pemain dengan kemenangan.

Sejak 4 tahun terakhir, setiap ajang sepak bola kita selalu mendengar analisa Castrol Performance Index yang berisi statistik pertandingan, pemain hingga data ekonomis lainnya.

Di Indonesia, statistik sepak bola yang selalu benar adalah 99% tuan rumah selalu memenangkan pertandingan. Namun, ke depan, saya membayangkan banyak analis menyamar di bangku penonton sambil mengutak-atik gadgetnya.

(fahmi.achmad@bisnis.co.id)

No comments: