Thursday, June 9, 2011

Seperti apa prospek Selamat Sempurna ?

Pabrikan mobil optimistis dapat meraih target penjualan mobil di pasar nasional sebanyak 830.000 unit pada tahun ini, menyusul pemulihan kondisi Jepang.
Kabar ini tentu berdampak positif bagi produsen komponen mobil PT Selamat Sempurna Tbk.

Bisnis komponen otomotif memang tidak terlepas dari kemajuan atau kemunduran penjualan mobil.

Pasar mobil dalam negeri yang bergairah diyakini dapat mendorong kinerja Selamat Sempurna yang merupakan produsen radiator merek ADR dan filter bermerek Sakura pada tahun ini.

Selamat Sempurna dinilai berpeluang meraih laba bersih Rp150,4 miliar, meningkat 13,16% dibandingkan dengan realisasi 2010, yaitu Rp132,9 miliar.

Pada kuartal I/2011, perseroan berkode efek SMSM itu sudah membukukan laba bersih Rp47,65 miliar, naik 34,68% dibandingkan dengan kuartal I/2010, yaitu Rp35,38 miliar.
Tidak hanya di pasar domestik, Selamat Sempurna juga menikmati perkembangan industri otomotif global.

Perseroan meraih pendapatan dari kegiatan ekspor senilai Rp312,2 miliar pada JanuariMaret 2011, naik 13,8% dibandingkan dengan Januari-Maret 2010, yaitu Rp274,4 miliar.

Berdasarkan riset PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) per 13 Mei 2011, produk Selamat Sempurna dinilai berkelas dunia. Hal itu dilihat dari jaringan penjualan perseroan yang mencapai 100 negara.

Secara rata-rata, sebesar 70% dari total penjualan bersih Selamat Sempurna berasal dari kontribusi ekspor produk.

Selain itu, Selamat Sempurna melalui anak usahanya, yaitu PT Panata Jaya Mandiri juga menggarap bisnis komponen filter alat berat.

Produksi alat berat diperkirakan cukup meningkat pada tahun ini, seperti Komatsu yang memprediksi peningkatan penjualan 81% menjadi 2.207 unit dibandingkan dengan penjualan pada 2010, yaitu 1.219 unit.

Adapun, Panata Jaya Mandiri tidak hanya memproduksi filter untuk Komatsu, tetapi juga Hino, Hitachi, Isuzu, Kubota, Mercedes-Benz, Nissan Diesel, Toyota, dan Yanmar.

Selamat Sempurna berniat menggenjot pengembangan pusat produksi, terkait dengan pertumbuhan pasar dunia otomotif dan alat berat.

Pefindo menilai rencana bisnis Selamat Sempurna yang ingin menambah kapasitas produksi melalui penggantian atau peremajaan, terutama mesin produksi filter, akan berdampak positif bagi perseroan.

Saat ini, total kapasitas produksi perseroan per tahun,yaitu 72 juta unit filter dan 1,95 juta unit radiator.

Selanjutnya, perseroan juga memproduksi komponen rem, pipa bensin, tangki bensin, dan knalpot, tetapi dengan jumlah yang tidak signifikan.

“Kapasitas produksi akan meningkat dari 72 juta unit menjadi 96 juta unit pada 2012 melalui ekspansi itu. Kami memperkirakan hal itu akan meningkatkan pendapatan Selamat Sempurna sebesar 17% pada 2012 dibandingkan dengan 2011,” jelas riset Pefindo.

Pefindo juga menilai Selamat Sempurna cukup efektif dalam mengelola bahan baku.

Pefi ndo menilai pengelolaan bahan baku digarap cukup cerdas, terkait dengan margin laba kotor yang naik 25,5% pada kuartal I/2011 atau lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata 2010, yaitu 23,5%.

Selamat Sempurna membutuhkan bahan baku impor dengan jumlah mencapai 90% dari total biaya bahan baku, atau sekitar 40% hingga 50% dari biaya produksi.

Kesimpulannya, yaitu Pefi ndo menilai Selamat Sempurna sangat berprospek bagi investor jangka panjang.

Perseroan juga selalu memberikan dividen bagi pemegang saham. Perseroan membayar dividen tunai interim Rp20 per saham dan dividen tunai final Rp20 per saham pada 2007.

Selanjutnya, perseroan membayar dividen tunai final Rp60 per saham pada 2008.

Jumlah dividen tunai meningkat menjadi Rp90 per saham pada 2009. Dividen tunai interim 1 sebesar Rp40 per saham, dividen tunai interim 2 sebesar Rp25 per saham, dan dividen tunai final Rp25 per saham.

Tahun lalu, Selamat Sempurna juga membagikan dividen interim 1 senilai Rp40 per saham dan dividen interim 2 sebesar Rp25 per saham. Perseroan diprediksi membayar dividen tunai final minimal Rp25 per saham.

Pajak progresif Selain itu, penerapan peraturan pajak progresif kepada pemilik kendaraan bermotor juga dinilai dapat menjadi kendala bagi pertumbuhan perseroan, meskipun belum semua provinsi mengimplementasikan regulasi itu pada tahun ini.

Peraturan itu secara keseluruhan bisa melemahkan pertumbuhan industri otomotif, karena minat konsumen menambah jumlah kendaraan dapat berkurang, seperti yang terjadi di Jawa Timur pada tahun ini.

(please see Bisnis Indonesia Daily)

No comments: