Monday, June 27, 2011

Jaya Ancol & persaingan bisnis hiburan


Bisnis properti akan ikut dipacu Kebutuhan manusia terhadap sarana hiburan ditunjang oleh kondisi ekonomi yang membaik pastinya berdampak positif terhadap perusa haan penyedia tempat rekreasi. Bagaimana PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk menyikapi hal ini?

Pada 2010, ekonomi nasional tumbuh 6,1% dibandingkan dengan tahun sebe lumnya, dengan jumlah penduduk yang mencapai 237,6 juta orang atau naik rerata 1,48% selama periode 2000-2010.

Dalam riset yang dipublikasi pada 18 Mei, analis PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Achmad Sudjatmiko menyebutkan kedua faktor tersebut mendorong industri taman rekreasi menjadi lebih menjanjikan pada tahun ini.

Dia menilai meskipun angka inflasi pada tahun lalu melonjak menjadi 6,96% dibandingkan dengan 2,9% pada tahun sebelumnya, hal itu bukanlah indikasi dari memanasnya ekonomi dalam negeri.

“Tingginya inflasi lebih disebabkan oleh melompatnya harga komoditas dan minyak dunia secara ekstrem,“ tuturnya dalam riset tersebut.

Sebagai pemain lama, sekaligus operator wahana rekreasi terbesar, Pembangunan Jaya Ancol masih menunjukkan keperkasaannya di industri ini melalui wahana utamanya yakni Ancol dengan total aset mencapai Rp1,56 triliun dan total area 552 hektare.

Didirikan pada 1966, hingga kini Ancol yang semula bernama Taman Impian Jaya Ancol ini tetap menjadi tujuan utama tem pat rekreasi di Jakarta, terbukti dari jumlah pengunjung yang mencapai 14,5 juta orang pada 2010.

Angka tersebut melampaui taman rekreasi lainnya, seperti Taman Mini Indonesia Indah, Kebun Binatang Ragunan, dan Monumen Nasional (Monas) yang masing-masing mencatat jumlah pengunjung pada tahun lalu sebanyak 5 juta orang, 2 juta orang, dan 1,2 juta orang.

Achmad memperkirakan jumlah pengunjung Ancol pada tahun ini bisa naik minimal 7,5% dibandingkan dengan jumlah pengunjung pada tahun lalu, karena Ancol akan secara resmi meluncurkan Ecopark, area menanam bagi anak-anak yang diperkirakan mampu memancing daya tarik pengunjung.

“Banyaknya tempat rekreasi, kuliner, dan olahraga melengkapi pantai Ancol, dan menjadi alasan utama mengapa jumlah turis yang datang ke Ancol terus tumbuh setiap tahunnya,“ tutur nya.

Meskipun jumlah pengunjung yang datang melalui pintu utama Ancol meningkat pada 2010, perseroan harus berhati-hati terhadap pesaing baru yang mulai memasuki industri taman rekreasi dalam beberapa waktu terakhir.

Saat ini, beberapa wahana rekreasi baru mulai bermunculan, seperti Trans Studio Makassar dan Trans Studio Bandung yang beroperasi di dalam gedung (indoor recreational sites) serta memberikan nuansa lain kepada pengunjung.

Kendati demikian, Achmad menilai perseroan telah mewaspadai situasi ini dan berencana untuk membuat taman rekreasi indoor serupa di area Ecopark yang diprediksi menurunkan pangsa pasar dari taman rekreasi indoor yang sudah ada.

“Taman rekreasi indoor yang sudah ada letaknya di luar Jakarta, jadi apabila PJAA [Pembangunan Jaya Ancol] berhasil merealisasikan taman rekreasi indoor sendiri, warga Jakarta tidak perlu jauh-jauh pergi ke Makassar,“ tuturnya.

Untuk mempertahankan pertumbuhan pendapatan pada masa depan, perseroan berencana untuk meningkatkan kualitas dari pendapatan yang berasal dari empat sumber, yakni realestat, ticketing, hotel dan restoran, dan lainnya, seperti sewa kios dan manajemen perumahan dengan cara ekspansi serta perubahan strategi penjualan.

Direktur Utama Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya Sumadi beberapa waktu lalu mengatakan pada tahun ini perseroan mengalokasikan dana belanja modal sebesar Rp640 miliar untuk pengembangan wahana rekreasi sebesar 45% serta pengembangan proyek properti dan jalan tol 55%.

“Untuk wahana rekreasi yang akan kami kembangkan, di anta ranya Ecopark dan penambahan wahana baru untuk Dunia Fantasi pada semester II,“ katanya.

Di segmen properti, tuturnya, perseroan akan fokus pada pengembangan lahan melalui reklamasi dan akuisisi lahan di luar Ancol. Untuk rencana tersebut, perseroan mengalokasikan dana sebesar Rp50 miliar.

Menurut Budi, perseroan juga akan melakukan investasi dalam pembangunan jalan tol akses Priok dan Ancol New Water yang pembangunannya ditargetkan rampung pada tahun ini.

Achmad menilai reklamasi di Pantai Utara Ancol seluas 80 hektare yang diharapkan selesai pada 2015, akan menjamin pendapatan perseroan dari aktivitas penjualan lahan setidaknya hingga 1 dekade ke depan.

Selain itu, selesainya Apartemen The Coastal pada 2014, renovasi Putri Duyung Cottage, dan pembangunan jalan tol Ancol-Tanjung Priok akan meningkatkan pendapatan perseroan pada masa yang akan datang.

Pada tahun ini, perseroan mematok target pendapatan Rp1,1 triliun atau meningkat 19,31%.
Hingga 5 tahun mendatang, perseroan mematok pertumbuhan pendapatan rata-rata sebesar 18%.

Budi berharap pada 2015, pendapatan perseroan bisa mencapai Rp2,1 triliun. Laba usaha ditargetkan menjadi Rp198,23 miliar dan mencapai Rp504,59 miliar pada 2015 atau rata-rata tumbuh 21% per tahun.

Sementara itu, Pefindo memprediksi pada 2011 pendapatan perseroan dari gerbang utama dan area rekreasi akan naik 21% dengan cuaca yang lebih ramah dan beberapa tempat rekreasi baru yang akan dibangun.

“Dengan pembukaan Ecopark tahun ini dan beberapa ekspansi realestat dan industri jalan tol, kami percaya pendapatan PJAA akan meningkat 14,7% dan 17,4% per tahun selama periode 2010-2015 dengan target harga Rp1.250-Rp1.370,“ ujarnya.

(Please read Bisnis Indonesia Daily)

No comments: