Monday, June 13, 2011

PTBA dan bisnis kokas (CBM)




Kebutuhan batu bara sebagai energi terus mengalami peningkatan, penggunaan bahan ini sangat penting sebagai penopang industri seperti pembangkit tenaga listrik, produksi baja, dan produksi semen.

Sebagai salah satu negara produsen batubara terbesar di dunia mengikuti produsen lainnya seperti China, Amerika Serikat, India, Australia, dan Rusia, tentunya memberikan peluang bagi perusahaan batu bara milik pemerintah, PT Bukit Asam (PTBA) untuk memacu produksi batu bara dan melakukan terobosan baru dengan ekspansi pada proyek-proyek Coal Bed Methane (CBM) atau kokas, yang merupakan sumber energi yang relatif masih baru dan salah satu energi alternatif masa depan.

Head of Research E-Tading Securities, Bertrand Raynaldi mengatakan sebagai salah satu pemain di industri ini, PTBA amatlah berpeluang untuk memproduksi dan mengembangkan gas metana batubara sehingga meningkatkan kinerjanya ke depan.

“Salah satunya proyek CBM yang akan digarap perseroan adalah di wilayah di Tanjung Enim sebesar 50 MMSCFD di tahun 2013,” tuturnya dalam riset yang dikutip IMQ21.

Menurut Bertrand, pengembangan proyek CBM ini merupakan salah satu dari proyek penggarapan yang telah ditandatangani dengan komposisi kepemilikan, yaitu PT Bukit Asam Metana Enim (anak usaha PTBA) sebesar 27,5%, PT Pertamina Hulu Energi Metana Sumatera Tanjung Enim 27,5% dan Dart Energy Pte Ltd 45%.

Data Kementerian ESDM menjelaskan coal bed methane (CBM) di Indonesia diyakini memiliki potensi 453,3 triliun cubic feet (TCF) yang tersebar di 11 cekungan hidrokarbon.

Dari sumber daya tersebut, cadangan CBM sebesar 112,47 TCF cadangan terbukti dan 57,60 TCF cadangan potensial.

Dua tahun terakhir, CBM gencar dikembangkan. Oleh karena itu, pemerintah giat menawarkan wilayah kerja baru. Setelah memiliki 23 WK CBM, tahun 2011 ini pemerintah berencana menawarkan 13 WK CBM baru. Selain itu, diharapkan dapat dilakukan penandatanganan 10 kontrak kerja sama CBM.

Sebagai tahap awal, gas dari CBM diproyeksikan untuk memenuhi kebutuhan listrik skala kecil pada tahun 2011. Sesuai rencana kerja pemerintah, produksi CBM diharapkan dapat mencapai 500 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) pada tahun 2015, 1.000 MMSCFD pada tahun 2020, dan 1.500 MMSCFD untuk tahun 2025.

Latar Belakang:
Gas metana batu bara atau biasa disebut CBM termasuk ke dalam unconventional gas, yang berarti gas yang diproduksikan tidak berasal dari reservoir konvensional (batupasir/batugamping). Unconventional gas merupakan gas yang berasal dari reservoir yang memiliki permeabilitas kecil, porositas kecil, formasi yang tight, dan batu bara, seperti CBM, shale gas, dan tight gas.

CBM adalah gas alam dengan dominan gas metana dan disertai sedikit hidrokarbon lainnya dan gas non-hidrokarbon dalam batu bara hasil dari beberapa proses kimia dan fisika. CBM sama seperti gas alam conventional yang kita kenal saat ini, namun perbedaannya CBM berasosiasi dengan batu bara sebagai source rock dan reservoir-nya. Sedangkan gas alam yang dikenal, walaupun sebagian ada yang bersumber dari batu bara, diproduksikan dari reservoir pasir, gamping maupun rekahan batuan beku. Hal lain yang membedakan keduanya adalah cara penambangannya di mana reservoir CBM harus direkayasa terlebih dahulu sebelum gasnya dapat diproduksikan.

CBM diproduksi dengan cara terlebih dahulu merekayasa batu bara (sebagai reservoir) agar didapatkan cukup ruang sebagai jalan keluar gasnya. Proses rekayasa diawali dengan memproduksi air (dewatering) agar terjadi perubahan kesetimbangan mekanika. Setelah tekanan turun, gas batu bara akan keluar dari matriks batu baranya. Gas metana kemudian akan mengalir melalui rekahan batu bara (cleat) dan akhirnya keluar menuju lobang sumur. Puncak produksi CBM bervariasi antara 2 sampai 7 tahun. Sedangkan periode penurunan produksi (decline) lebih lambat dari gas alam conventional.

No comments: