Thursday, June 9, 2011

Proyek infrastruktur dan peluang Wijaya Karya


Kinerja emiten konstruksi diprediksi kian kinclong, didorong program percepatan pembangunan infrastruktur dari pemerintah. Bagaimana PT Wijaya Karya Tbk memanfaatkan peluang ini?

Dalam peluncuran program Master plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) pada 27 Mei, Menteri Perencanaan Pembangunan dan Kepala Bappenas Armida Alisjahbana mengatakan pemerintah akan mengalokasikan anggaran infrastruktur sebesar Rp755 triliun mulai tahun ini sampai 2014.

Dia menuturkan dari jumlah tersebut, sebesar Rp544 triliun akan diperoleh dari pemerintah, sedangkan sisanya Rp211 triliun dari kerja sama pemerintah swasta (public private partnership/PPP).

Sebanyak Rp143 triliun dari total anggaran untuk pembangunan infrastruktur itu akan digunakan untuk membangun jalan, Rp138 triliun untuk membangun jalur kereta api, dan Rp49 triliun untuk pelabuhan laut.

Untuk membangun bandara dialokasikan dana Rp14 triliun, kelistrikan mendapat alokasi anggaran Rp288 triliun, infrastruktur keairan Rp8 triliun, telekomunikasi Rp102 triliun, serta lain-lain Rp13 triliun.

Dengan alokasi dana infrastruktur sebesar itu, Wijaya Karya, sebagai salah satu badan usaha milik negara (BUMN) yang bergerak di sektor konstruksi, memiliki peluang untuk meraih kontrak baru yang lebih besar pada tahun ini.

Dari delapan emiten konstruksi yang melantai di Bursa Efek Indonesia, hanya tiga yang merupakan badan usaha milik negara (BUMN), yakni Wijaya Karya, PT Adhi Karya Tbk, dan PT PP Tbk.

Hingga April tahun ini, Wijaya Karya yang 60% proyeknya berasal dari pemerintah dan BUMN meraih nilai buku kontrak (order book) sebesar Rp16,1 triliun atau naik 35% dibandingkan dengan pencapaian pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp11,9 triliun.

Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya Natal Argawan mengatakan nilai order book tersebut terdiri dari Rp3,3 triliun kontrak baru dan Rp12,8 triliun kontrak carry over tahun lalu. Hingga akhir tahun, dia memaparkan perseroan mematok perolehan order book mencapai Rp25,1 triliun.

Pencapaian tersebut merupakan yang terbesar dibandingkan dengan perolehan dua BUMN karya lainnya, yakni Adhi Karya dan PT PP.

Adhi Karya membukukan nilai order book sebesar Rp9,1 triliun yang terdiri dari Rp2,2 triliun kontrak baru dan Rp6,9 triliun kontrak carry over.

PT PP mencatat nilai order book sebesar Rp9,08 triliun hingga kuartal pertama tahun ini, dengan komposisi kontrak baru Rp3,08 triliun dan Rp6 triliun kontrak carry over.

Seiring dengan perolehan kontrak baru yang lebih besar dibandingkan dengan kontrak tahun lalu, emiten dengan kode saham WIKA ini juga membukukan peningkatan pendapatan 36,24% menjadi Rp1,54 triliun pada kuartal I/2011 dibandingkan dengan Rp1,13 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

“Kontrak pada kuartal I tahun ini lebih banyak dibandingkan dengan tahun lalu. Penyerapan anggaran dari proyek pemerintah juga lebih besar, jadi mendorong pendapatan dan laba kami,“ tuturnya.

Analis PT OSK Nusadana Securities Arief Budiman, dalam risetnya yang dipublikasikan awal bulan lalu, menilai kinerja Wijaya Karya selama kuartal pertama tahun ini sesuai dengan ekspektasi dan konsensus para analis.

Dia menambahkan perseroan juga membukukan pertumbuhan sebesar 55% untuk perolehan kontrak baru mencapai Rp2,25 triliun atau setara dengan 18% dari target kontrak yang dipatok oleh OSK.

Paling likuid Kontrak tersebut, tuturnya, didominasi oleh proyek-proyek infrastruktur, seperti jalan tol, pembangkit listrik, pelabuhan, dan jembatan. Dengan kondisi fundamental ekonomi yang sta bil, dia mengatakan perseroan akan mampu menarik lebih banyak investor pada tahun ini.

Kendati membukukan pertum buhan yang signifikan dibandingkan dengan kuartal pertama tahun lalu, Wijaya Karya justru mengalami penurunan pendapatan dan laba operasi masing-masing 26% dan 44% dibandingkan dengan kuartal IV/2010.

“Hal ini wajar mengingat proyek perseroan didominasi oleh proyek pemerintah yang biasanya baru tender pada semester II. Tahun lalu saja sebesar 34% dan 40% dari total pendapatan dan laba usaha WIKA terpenuhi pada kuartal IV,“ paparnya.

Arief mengungkapkan selama kuartal pertama tahun ini, Wijaya Karya menunjukkan pertumbuhan pendapatan, neraca keuangan yang solid, dan menjadi emiten dengan saham paling likuid di antara emiten konstruksi lainnya.

“Kami targetkan harga saham perseroan hingga akhir tahun ini mencapai Rp810 dengan rekomendasi beli,“ tulisnya dalam riset tersebut.

Wijaya Karya memiliki por tofolio bisnis yang terdiri dari general construction, building construction, industrial plant, dan pembangkit energi. Pada tahun ini, perseroan memiliki beberapa proyek yang digarap, salah satunya adalah chemical grade alumina (CGA) milik PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) dengan total nilai pekerjaan mencapai Rp1,57 triliun.

Selain WIKA, anak perusahaan PT Antam Tbk tersebut juga menunjuk Tsukishima Kikai Co Ltd dan PT Nusan tara Energi Abadi untuk melaksanakan pekerjaan engineering, procurement dan construction (EPC) proyek CGA yang berlokasi di Kabupaten Sanggau, Tayan, Kalimantan Barat itu.

Selain CGA Tayan, persero an tengah menggarap sejum lah proyek pembangkit listrik TO tenaga diesel (PLTD) dengan total kapasitas 126 megawatt di Timor Leste. Proyek terse but terdiri dari tujuh unit dengan kapasitas masing-masing 18 megawatt.

Total investasi perseroan un tuk proyek tersebut sebesar US$16,2 juta dengan tiga di an taranya akan beroperasi pada akhir tahun ini, sementara sisa nya baru akan mulai beroperasi pada tahun depan.

Perseroan saat ini juga membi dik proyek PLTD lain di Bentano dengan nilai investasi mencapai US$20 juta dan kapasitas 8x18 megawatt. Proyek ini masih da lam tahap tender dan memasuki tahap kualifikasi.

Saat ini, Wijaya Karya memang memimpin perolehan proyek baru di antara emiten konstruksi.

Namun, sepak terjang dari BUMN karya lain yang juga me lantai di bursa seperti Adhi Karya dan PT PP tidak dapat dianggap enteng.

(Please read Bisnis Indonesia Daily)

No comments: