Friday, August 12, 2011

Proyek KA Trans Kalimantan dan Mimpi Modernitas




Bapak saya bilang kalau jadi pemimpin di daerah, gak usah bikin program yang muluk-muluk, cukup sediakan infrastruktur yang lengkap. Jalan, perumahan, pasar, sekolah, tempat ibadah dan kantor pemerintah.

Saya tanya, "cuma itu?". Bapak saya hanya ketawa... lagipula sulit membantah karena dia sudah punya pengalaman lebih dari 35 tahun membangun dari wilayah kampung, kecamatan hingga kota di Irian Jaya , hingga kini Maluku Utara.

Infrastruktur yang memadai, lengkap dan terawat memang jadi pemanis atau sweetener untuk masyarakat mau menggerakkan ekonomi di suatu daerah.

Saya tak banyak mengunjungi kota-kota di luar negeri tetapi hampir semua kota yang pernah saya datangi punya satu benang merah; infrastruktur yang memudahkan orang.

Itu pula yang membuat saya tertarik untuk melihat bagaimana pemerintah pusat dan daerah di Indonesia melengkapi dan merawat infrastrukturnya. Ambil contoh rencana proyek pembangunan rel kereta api Trans Kalimantan. Itu mega proyek loh.

Pekan ini, pemerintah pusat menyatakan tidak akan menghalangi minat investor Rusia untuk masuk dalam proyek pembangunan rel kereta api di Kalimantan Timur, selama tidak melanggar aturan tata ruang dan merusak hutan.

Hatta Rajasa, Menteri Koordinator bidang Perekonomian, menuturkan sejauh ini investor asal Rusian baru menyampaikan minat dan rencananya untuk masuk dalam proyek infrastruktur kereta api di Kalimantan Timur.

Pemerintah pusat masih belum memutuskan apapun karena masih perlu membicarakan hal tersebut dengan Pemerintah Daerah Kalimantan Timur dan melihat kesesuaiannya dengan aturan tata ruang dan kelestarian hutan.

“Bukannya ujug-ujug membabat alas roban. Jadi seluruh hal yang berkaitan dengan investasi ada prosedurnya, ada (aturan) tata ruang, ada segala macam. tidak langsung jalan begitu saja,” ujar Hatta.

Intinya, lanjut dia, pemerintah mempersilahkan investor dari mana pun untuk ikut mengembangkan infrastruktur di Tanah Air. Tidak terkecuali di Kalimantan, mengingat kawasan tersebut memerlukan sarana infrastruktur yang memadai untuk bisa mengeksploitasi sumber daya alamnya dengan baik, murah, dan efisien.

“Kalau orang mau investasi kami akan welcome. Silahkan ajukan planning-nya bagaimana,” kata Hatta yang juga calon besan Presiden SBY.

Sebelumnya, Pemerintah Daerah Kalimantan Timur dengan tegas menolak rencana pemerintah pusat melibatkan investor asal Rusia dalam proyek pembangun rel kereta api sepanjang 185 km, yang menghubungkan Kalimantan Timur dengan Kalimantan Tengah.

Gubernur Kalimantan Tenggah Agustin Teras Narang menolak rencana pemerintah pusat membangun rel kereta api Kalteng-Kaltim 185 km yang rencananya akan dibangun investor Rusia.

Dia menegaskan sudah saatnya Indonesia melaksanakan proyek yang berkelanjutan dengan memperhatikan kepentingan rakyat dan lingkungan hidup serta Sumber Daya Alam (SDA).

“Bukan hanya sekedar dieksploitasi tetapi harus juga sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat terutama yangg berada di SDA [itu] berada dan juga harus ada proyek dari hulu ke hilir,” ujarnya.

Teras Narang berkeras jalur kereta api pengangkut batu bara yang menghubungkan Puruk Cahu dan Bangkuang tersebut akan meninggalkan bencana bagi rakyat Kalteng terutama di wilayah Daerah Aliran Sungai Barito.

Pasalnya, daerah yang rencananya akan dibangun jalur rel tunggal itu berada pada kawasan hutan lindung di pegunungan Pegunungan Muller-Schwanner, Kabupaten Murung Raya yang berfungsi sebagai daerah resapan air.

Seperti dikutip rbcnews.com, bos Russian Railways, Vladimir Yakunin menyatakan proyek KA Trans Kalimantan tersebut akan dikerjakan dengan investasi senilai US$2,5 miliar.

Russian Railways adalah perusahaan kerjasama BUMN dan swasta Rusia yang mengoperasikan 85.200 km jalur kereta api yang menghubungkan 85 dari 89 wilayah di Rusia.

Nota kesepahaman (MoU) pembangunan KA batubara tersebut akan diteken pada saat kunjungan Presiden Rusia Dmitry Medvedev di ajang KTT Asia Timur, November mendatang di Nusa Dua, Bali.

Rencana pembangunan rel dari Kalimantan Tengah ke Kalimantan Timur itu juga digugat dari sisi manfaatnya terhadap masyarakat Kalteng.

Rel sepanjang 135 kilometer (km) yang diminati investor Rusia tersebut rencananya dimanfaatkan untuk membawa batu bara. Rel itu rencananya menghubungkan Murungraya di Kalteng dan Kutai Barat di Kaltim.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalteng, Arie Rompas di Palangkaraya, Kalteng, Rabu (10/8/2011), mengatakan, kereta itu direncanakan bukan digunakan sebagai sarana transportasi reguler untuk rakyat namun pengangkut sumber daya alam di Kalteng.

"Setelah dikeruk, perusahaan asing menerima keuntungan dan masyarakat Kalteng akan menerima dampak bencana ekologinya," tuturnya.

Direktur Eksekutif Save Our Borneo (SOB), Nordin mengatakan, rel Kalteng-Kaltim diperkirakan dibangun untuk fasilitas sektor swasta, bukan untuk umum. Akan tetapi, rel tersebut akan menggunakan area umum, yaitu hutan negara dan lahan warga. Kereta juga akan digunakan untuk memfasilitasi eksploitasi sumber daya alam secara massif. Karena itu, pembangunan rel tersebut dipertanyakan karena bukan untuk fasilitas umum.

Nordin juga menganggap perlu untuk mencermati pembangunan, pengelolaan, dan kontrol rencana pembangunan rel itu. "Perlu pengawasan, apakah dari anggaran pendapatan dan belanja negara atau daerah. Kalau ya dan dipakai untuk kebutuhan swasta, berarti ada masalah," katanya.

Sebab, kereta tidak digunakan untuk publik. Jika bukan dari kas negara atau daerah, perlu dipertanyakan pula manfaat untuk rakyat dan negara. "Persoalannya bukan karena rel dari Kalteng menuju Kaltim. Menuju ke mana pun jika bukan untuk angkutan publik harus dipikir ulang," ujarnya.

Ah Indonesia ini memang cuma banyak bercakap saja. Saya jadi ingat dengan pembicaraan salah satu mantan tim sukses bapak saya, "Orang kita terlalu banyak protes, mendingan bangun saja dulu! nanti juga mereka merasakan manfaatnya.."

Dia merujuk kisah pembangunan mesjid di kampungnya yang terus menerus jadi kritikan banyak orang tetapi ketika mesjid itu jadi dan berdiri megah... hampir semua orang menjilat ludah sendiri.

Saya sendiri tetap berpendirian bahwa "Membangun sesuatu di Indonesia itu mudah, yang sulit adalah menjaga dan merawatnya."

No comments: