Monday, August 1, 2011

Tak perlu bermimpi ke London


Cubit pipi, itu seperti dua kata sandi utama ketika pertama kali menginjakkan kaki di bandara Heathrow London.

Berangakat ke London bukanlah kesempatan reguler yang bak membalikkan tangan dan merogoh uang di kantor baju. Kesempatan itu tak datang dua kali, itu prinsip ketika insting mengatakan itu keberuntungan.

Keberuntungan itu datang 20 hari sebelumnya. "Pastinya sih kan karena diajak.. soalnya kalau duit sendiri sih gak cukup dan mendingan naik haji deh."

Aslinya undangan itu untuk kegiatan roadshow 11 emiten di London dan New York. Tak ada makan siang yang gratis meski tentu saja tiket dan akomodasi ditanggung pengundang. Visanya? yaa diurus sendiri lah.

Nana Oktavia, si rekan kerja, jadi referensi bagaimana mengurus visa Inggris karena dia pada Februari 2011 mendarat duluan ke London atas undangan Kementerian Ekonomi Inggris.

"Mendingan foto dulu deh. tuh di jalan sabang banyak kok.. baru datang aja mereka udah langsung nanya, Amrik, UK, Australia banyak deh," kata Nana.

Benar juga sih, di jalan sabang begitu banyak toko yang melayani jasa potret memotret, pas photo paspor hingga jasa pengisian dokumen visa. Modal Rp35.000, saya sudah dapat satu disket pas foto dengan ukuran khusus visa UK dan AS beserta yang tercetak.

Mengurus visa Inggris susah-susah mudah sih. Buka situs VFS Global, isi dokumen online lalu print dokumen yang sudah terisi dan memiliki kode nomor registrasi tersebut. Siapkan paspor dan dokumen lain data simpanan bank 6 bulan terakhir, slip gaji dan lainnya seperti itinerary dan tiket (kalau memang ada).

Namun, saya butuh hampir 10 hari untuk mengurus dokumen pendukung termasuk support letter dari Daiwa Securities London dan New York.

Semua dokumen itu saya bawa ke PT VFS Services Indonesia di Plaza Abda. Naik saja ke lantai 22 dan anda akan mudah mendapatkan satu lantai gedung itu diisi ruang pengurusan visa UK, Australia dan Kanada. VFS memang agen resmi yang ditunjuk untuk visa ketiga negara tersebut.

Layanan mereka cukup profesional, kala itu saya datang siang dan mendapatkan nomor antrian dengan 11 kesempatan lagi, tetapi 1,5 jam kemudian urusan sudah kelar termasuk dengan pengambilan sidik jari dan foto mata. Tak lupa visanya harus dibayar Rp1.140.000 plus Rp25.000 dengan layanan informasi SMS dan e-mail.

Tak sampai satu pekan, SMS dari +3344556677 berbunyi ; Permohonan visa yang diproses dengan no.ref. VFS..... diambil dari pusat aplikasi visa inggris pada tanggal sekian..sekian." Well, it so easy rite?

Waktu tersisa 2 hari dan terpaksa pengurusan dokumen visa Amerika untuk ke New York di drop. Masalahnya, kalau diurus, paspor akan tertahan dan tak bisa jua berangkat ke Inggris. Lagipula tak ada layanan visa on arrival ke negeri Paman Sam.

Apalagi untuk nama berbau arab seperti saya. Sudah bukan rahasia kalau perlakuan imigrasi Amerika Serikat terhadap orang-orang Asia dengan nama yang berbau arab sangat ketat dan di luar logika. Kalau lolos pun bisa beberapa jam diinterogasi, begitu kata sejumlah rekan saya.

Ah sudahlah mimpi jalan-jalan ke New York boleh saja berantakan... yang penting London here i come!

Pesawat SQ dari CKG berangkat 7 malam dan tiba di SIN tak sampai 2 jam. Kami harus menanti hingga 00.30 dinihari sebelum SQ Superjumbo A380 double deck menjadi pengantar badan ini untuk 12.45 menit hingga LHR.

So Heathrow pagi itu tak begitu dingin.. 14 derajat celcius dan antrian imigrasi yang 1 jam menjadi penyambut kami. Enaknya, tak perlu khawatir karena di London Heathrow (LHR), bagasi yang menanti penumpang pesawat. apalagi ada mobil penjemput menuju hotel. Aman deh !

Ah tetap saja menginjak kaki di London seperti harus mencubit pipi dahulu... !

No comments: