Monday, August 22, 2011

Pemain, gaji dan dilema alat produksi



Para pemain Real Madrid dan Barcelona boleh saja berjibaku, Sergio Ramos dan Iniesta dkk saling sikut dan jegal dalam pertarungan El Classico tetapi soal gaji dan perundingan dengan klub, mereka sepakat bersatu.

Saat ini di Spanyol dan Italia, negosiasi soal gaji dan kelancaran pendapatan antara pemain dengan klub masih berlangsung dan ada kekhawatiran pertandingan musim 2011-2012 akan ditunda.

Di Spanyol, pemain akan melakukan mogok pada dua pertandingan awal La Liga, kecuali tuntutan mereka terpenuhi, begitu ancaman yang disampaikan Presiden Asosiasi Pemain Spanyol (AFE) Luis Rubiales.

Apa pasalnya? Sikap keras para pemain sepak bola profesional itu sebagai tindakan pembelaan terhadap rekan seprofesi yang nasibnya kurang beruntung di sejumlah klub di Negeri Matador tersebut.

AFE melansir ada lebih dari 200 pesepakbola profesional tidak menerima gaji dalam beberapa bulan. Totalnya, klub di divisi primer dan divisi dua berutang 50 juta euro kepada para pemainnya.

Fakta itu seperti sulit dibayangkan mengingat Spanyol adalah negara sepak bola terkemua dengan gelar juara Eropa 2008 dan juara dunia 2010. Semua pemain seakan ingin bermain di sana.

Namun, kondisi itu jelas mencerminkan realita tidak semua pesepakbola ada milyuner. Tidak semua pemain sepak bola Eropa memiliki gaji seperti Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Karim Benzema ataupun Cesc Fabregas.

Banyak pemain yang menghadapi kesulitan dalam kehidupan sehari-harinya, terutama yang berasal di divisi primer maupun divisi dua ke bawah. Pemain sekedar alat produksi bagi pemilik modal.

Di La Liga, hak siar televisi yang menjadi salah satu pendapatan utama tidak mengalir secara merata dan lebih banyak menguntungkan klub-klub besar seperti Real Madrid dan Barcelona.

Dampaknya, klub-klub kecil dan klub yang berlaga di divisi lebih rendah harus beroperasi dengan budget rendah dan berjuang untuk terus bertahan meski memakai pemain-pemain bergaji rendah.

Tak mau seperti kacang lupa kulitnya, kapten Real Madrid Iker Casillas dan kapten Barcelona Carles Puyol bersama komprador lainnya seperti Xabi Alonso dan David Albelda menyatakan diri ikut bersikap sama dengan rekan-rekan di AFE.

Selain jaminan adanya pembayaran gaji para pemain yang klubnya terkena kesulitan finansial, para pemain ingin ada aturan bahwa klub yang tidak membayar pemainnya harus didegradasikan.

Sikap ngotot AFE juga didukung Federasi Internasional Pesepakbola Internasional (FIFPro) karena menilai masalah serupa juga tak hanya di Spanyol, Italia yang empat kali juara dunia juga merasakan hal sama.

Damiano Tomassi, mantan gelandang AS Roma yang kini menjadi presiden asosiasi pesepakbola Italia (the Associazione Italiana Calciatori-AIC), mengatakan pemogokan akan mengancam kompetisi Serie-A musim 2011/2012.

Tahun lalu liga Italia sempat dua kali terancam pemogokan, tetapi tak terlaksana karena ada kesepakatan soal hak klub untuk transfer dan terkait pemain yang kontraknya mendekati akhir.

Satu poin yang mengganjal adalah terkait dengan pemain yang tidak lagi menjadi bagian dari tim utama. Bak pepatah tak ada yang mau habis manis sepah dibuang. Itu sikap para pemain.

Di Indonesia sebenarnya juga tak beda jauh persoalannya. Saat ini Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI) tengah meradang karena merasa dana US$200.000 yang didapat dari FIFPro ditilep salah satu mantan pengurusnya.

APPI kini memiliki ketua umum Ponaryo Astaman dengan wakilnya Bambang Pamungkas disertai Presiden kehormatan Vennard Hutabarat. Mereka ingin dana tersebut jelas hingga serah terima kepengurusan di Balikpapan pekan depan.

Kalau liga sepak bola utama dunia seperti Spanyol dan Italia menghadapi aksi mogok, sedangkan liga di Indonesia juga tak jelas, saya kira semua fansnya harus cuci otak agar tak bosan di akhir pekan.
(fahmi.achmad@bisnis.co.id)