Friday, August 12, 2011

Euforia Garuda dan Man Jadda Wa Jada


Euforia dalam kehidupan terutama di sepak bola selalu bersifat masif dan bisa menjadi pendorong sukses berikutnya atau berbalik arah menekan mentalitas.

Mungkin itu sepenggal kalimat menjelaskan bagaimana wujud fantasi publik Indonesia terhadap tim sepak bola nasionalnya. Keberhasilan PSSI masuk babak ketiga putaran kualifikasi Piala Dunia 2014 zona Asia menyeruakkan suasana bersyukur.

Hasil undian FIFA menempatkan Indonesia di Grup E Zona Asia bersama tiga negara Timur Tengah yang memiliki peringkat dunia lebih baik. Iran berada di peringkat 54 dunia, Qatar di level 90 dan Bahrain di urutan 100, sedangkan timnas Garuda di 137 sejagat hingga 24 Agustus 2011.

Hampir semua orang menanyakan bagaimana peluang dan kans Indonesia? Bukankah Iran begitu dominan di sepak bola Asia? apa bisa Indonesia lolos grup itu?

Iran yang memiliki peringkat 4 Asia (AFC) memang favorit, selain Jepang, Korsel, dan Australia. Negara yang berdasarkan data FIFA memiliki 120 klub lokal tersebut tiga kali masuk putaran final Piala Dunia 1978, 1998, dan 2006.

Kegagalan masuk Piala Dunia 2010, membuat federasi sepak bola Iran mematok target tinggi kali ini. Nama Carlos Queiroz, mantan pelatih Real Madrid, timnas Portugal, dan mantan asisten Sir Alex Ferguson di Manchester United, menjadi pelatih bagi Ali Karimi (eks Bayern Muenchen dan Kaiserslautern-Jerman) dan pemain muda seperti Javad Nekounam (klub Osasuna, Spanyol).

Sejak 40 tahun terakhir Indonesia dan Iran sudah 3 kali bertemu di beberapa pertandingan internasional dan sayangnya Garuda belum beruntung. Setidaknya skor akhir selalu ketat, saat kualifikasi Piala Asia 1984 group 1 di Jakarta, Indonesia 'hanya' kalah 0-1.

Di dua level Asian Games pada 1966 dan 1970, yang kebetulan sama-sama di Bangkok, Indonesia juga hanya kalah sebiji gol dan kemudian berbagi angka 2-2.

Dan kali ini, Iran akan menjamu Indonesia di Teheran pada 2 September 2011, tepat 2 hari setelah Idulfitri 1432 Hijriyah atau ketika fans Merah Putih masih terlena dengan sajian opor ayam. Giliran Indonesia menjamu Iran pad 14 November ketika Garuda muda lainnya bertarung di ajang Sea Games.

Namun, bukan hanya Iran, Bahrain dan Qatar juga menyimpan kekuatan padang pasir yang bisa membuat Garuda terluka.

Bahrain misalnya, lawan kedua yang akan dihadapi Indonesia pada 6 September di Jakarta itu juga hebat di Asia dengan berperingkat 11. Tak hanya itu, Bahrain juga berturut berada di 'teras' putaran final Piala Dunia 2006 dan 2010.

Tim yang kini dilatih Peter Taylor (Inggris) itu selalu masuk babak play-off putaran final. Di Piala Dunia 2006, mereka dikalahkan Trinidad & Tobago dan pada 2010, mereka dikalahkan oleh Selandia baru. Wim Rijsbergen yang kini melatih Indonesia dulu adalah asisten pelatih Trinidad & Tobago saat melawan Bahrain.

Melawan Indonesia, Bahrain punya rekor yang nyaris seimbang sejak 1960. Indonesia menang dua kali yaitu di Seoul 1980 dengan skor 3-2 dan terakhir di Piala Asia Jakarta 2007 dengan skor 2-1. Bahrain pernah menang 3-1 pada 2004 (Jinnan) dan selebihnya seri 1-1 (Seoul 1982) dan 0-0 (Jakarta 1988).

Lalu bagaimana dengan Qatar? Negara kesultanan itu belum pernah masuk putaran final Piala Dunia, tetapi 2022, mereka adalah tuan rumah yang berhasil mengalahkan Australia, Amerika Serikat, Jepang dan Korsel.

Yang menarik, kekuatan uang yang melimpah dari para emir di Qatar membuat tim yang dilatih Milovan Rajevac ini melakukan naturalisasi pemain terutama dari Amerika Latin seperti Brasil dan Uruguay. Hasilnya mereka sempat lolos ke babak perempat fina Piala Asia 2011.

Sejak 1980, Indonesia enam kali bertanding melawan Qatar dengan empat kekalahan yang dua di antaranya justru di Jakarta pada 1988. Justru di Piala Asia 2004 di Beijing, timnas Garuda justru menang 2-1.

Jadi Indonesia punya peluang besar menuju Brasil 2014? saya cuma bisa bilang bola itu bulat, apapun bisa terjadi. Toh seperti kata Ahmad Bustomi gelandang tim nasional Indonesia; Man Jadda Wa Jada.. siapa yang bersungguh-sungguh, pasti berhasil. Semoga.

No comments: