Skip to main content

Tunggakan pajak BUMN

'Hanya 9 BUMN yang punya tunggakan pajak'

Oleh Fahmi Achmad & Agust Supriadi
Bisnis Indonesia

JAKARTA: Kementerian BUMN menegaskan hanya sembilan badan usaha milik negara yang memiliki persoalan tunggakan pembayaran pajak.
Meneg BUMN Mustafa Abubakar mengatakan hal tersebut menanggapi daftar 100 penunggak pajak terbesar yang disampaikan oleh Direktorat Jenderal Pajak kepada Komisi XI DPR pada 28 Januari lalu.
Sebanyak 16 badan usaha milik negara, menurut Mustafa, masuk dalam daftar tersebut. Namun, hasil klarifikasi Kementerian BUMN menunjukkan hanya 12 BUMN yang mempunyai masalah tunggakan pajak.
"Kemarin [Selasa], kami kumpulkan BUMN dan hasilnya hanya sembilan BUMN yang butuh penyelesaian pajak karena Garuda sudah selesai, Jamsostek sudah selesai dan begitu juga Semen Tonasa," katanya kepada Bisnis, kemarin.
Mustafa menjelaskan BUMN yang masih mengalami sengketa pajak melalui pengadilan sebanyak empat perusahaan, yaitu PT Merpati Nusantara, PT Angkasa Pura II, PT Istaka Karya, serta PT Gapura Angkasa.
Keempat perusahaan tersebut, tuturnya, beradu dengan Ditjen Pajak soal sengketa tunggakan pembayaran senilai Rp4,91 triliun.
Sementara itu, untuk BUMN yang dianggap menunggak lantaran perbedaan persepsi dengan Ditjen Pajak adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk dan PT Kereta Api (PTKA). Total kewajiban yang masih harus diselesaikan dua perusahaan ini senilai Rp395 miliar.
Mustafa menambahkan empat BUMN yang tengah mencicil tunggakan yaitu PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XIV, Merpati Nusantara, PT Djakarta Lloyd dan LKBN Antara. Total tunggakan mereka senilai Rp464,6 miliar.
"Tetapi ada juga yang kelebihan pembayaran yaitu Pertamina," kata Mustafa. Pertamina menyatakan mengalami kelebihan pembayaran pajak sebesar Rp13,7 triliun pada periode 2003-2005 serta 2007-2008.
Pekan lalu, Sekretaris Kementerian BUMN M. Said Didu menyebutkan jumlah tunggakan pajak pada perusahaan pelat merah hanya sebesar Rp100 miliar dicatat oleh dua BUMN yaitu PT Djakarta Lloyd dan LKBN Antara.
"Selebihnya adalah pajak-pajak yang masih dalam proses penyelesaian. Bahkan, kami mencatat ada BUMN yang sudah membayar, tetapi tetap dicatat sebagai penunggak pajak. Untuk kelebihan pembayaran pajak oleh Pertamina, itu harus dikembalikan oleh pemerintah," ujarnya.
//Tak ada tanggapan//
Hingga tadi malam, sejumlah pejabat terkait di Ditjen Pajak yang dihubungi Bisnis untuk menanyakan klaim Meneg BUMN tersebut, tidak memberikan tanggapan.
Dari tiga pejabat Ditjen Pajak yang dihubungi yakni Dirjen Pajak Mochamad Tjiptardjo, Direktur Pemeriksaan dan Penanganan Pajak Riza Nurkarim, dan Direktur Intelejen dan Penyidikan DJP Pontas Pane, hanya Pontas yang memberikan respons.
Namun, Pontas juga enggan memberikan tanggapan soal hal tersebut. "Maaf mas, itu bukan domain saya. Kalau untuk tunggakan pajak hubungi pak Ramram [Ramram Brahmana, Direktur Pemeriksaan dan Penagihan]," katanya.
Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR pada 28 Januari 2010, Dirjen Pajak mengungkapkan data 100 penunggak pajak terbesar nasional dengan nilai tunggakan mencapai Rp17,52 triliun.
Melalui jawaban tertulisnya tertanggal 2 Februari 2010, Dirjen Pajak menyampaikan kembali daftar 10 penunggak pajak terbesar.
Namun belakangan, wajib pajak yang masuk dalam daftar 100 penunggak pajak dan daftar 10 penunggak pajak membantah hal tersebut.

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...