Skip to main content

Bank Mandiri vs Biak Mina Jaya

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menyatakan gugatan wanprestasi yang dilayangkan oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk terhadap para penjamin PT Biak Minajaya (dalam pailit), tidak dapat diterima.
“Menyatakan gugatan penggugat tidak dapat diterima,” ujar Tjokorda Rai Swamba, ketua majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara antara Bank Mandiri melawan dua orang personal guarantee PT Biak Minajaya, saat sidang pembacaan putusan, hari ini.
Dalam pertimbangan hukumnya, majelis hakim berpendapat bahwa gugatan yang diajukan Bank Mandiri terkait dengan tagihan kepada kedua tergugat atas kewajiban PT Biak Minajaya adalah prematur.
Seharusnya, menurut majelis hakim, penggugat menagih kewajiban itu terlebih dahulu kepada kurator PT Biak Minajaya (dalam pailit), sehingga nantinya setelah diketahui berapa jumlah kewajiban dan kekurangannya barulah dimintakan kepada para tergugat.
Sebelumnya, Bank Mandiri menggugat personal guarantee PT Biak Minajaya yang juga pemilik Grup Djajanti, Burhan Uray dan Soejono Varinata sebagai tergugat I dan II, serta PT Biak Minajaya (dalam pailit) sebagai turut tergugat, karena perusahaan itu belum melunasi utang sebesar US$18,601 juta.
Dalam gugatan yang teregistrasi di bawah No.302/Pdt.G/2009/PN.Jkt.Pst, tertanggal 4 Agustus 2009, penggugat menyatakan proses kepailitan tidak membebaskan kewajiban untuk membayar tagihan.
Kreditur, menurut bank tersebut, tetap punya hak tagih kepada para penjaminnya, sehingga itu dalam gugatannya bank ini mengajukan paksa badan (gijzeling) kepada para penjamin perusahaan itu.

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...