Skip to main content

Mandiri vs Benua Indah

Bank Mandiri dan KPKNL (Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang) Jakarta 1 memenangkan perkara perdata terhadap Benua Indah Group di tingkat kasasi setelah Mahkamah Agung memberikan putusan Nomor 1848 K/Pdt/2009 tanggal 22 Desember 2009 yang mempunyai kekuatan hukum tetap.

Atas putusan itu, KPKNL akan segera melelang agunan Benua Indah.

Direktur Treasury, Financial Institution & Special Asset Management Bank Mandiri Thomas Arifin mengatakan Bank Mandiri memiliki perhatian yang kuat untuk membenahi dan menyelesaikan kredit bermasalah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

"Kami telah menerima salinan putusan Mahkamah Agung itu dan langkah selanjutnya kami akan koordinasi dengan KPKNL Jakarta 1 untuk pelaksanaan lelang" kata Thomas Arifin dalam siaran pers 7 feb 2010

Jumlah utang macet Benua Indah Group Divisi Perkebunan sebesar Rp 480,7 miliar ditambah biaya administrasi piutang negara sebesar 10% dari total utangnya. Penyelesaian kredit itu sudah berlangsung lama dan penanganannya sudah diserahkan kepada KPKNL sejak 12 April 2005.

Di tingkat Pengadilan Negeri, Bank Mandiri dimenangkan oleh PN Jakarta Selatan melalui putusan Nomor 262/Pdt.G/2008/PN.Jkt Sel tanggal 28 Agustus 2008. Atas putusan PN Jakarta Selatan tersebut, Benua Indah mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dan dimenangkan melalui putusan Nomor 675/PDT/2008/PT.DKI tanggal 13 Maret 2009.

Bank Mandiri bersama KPKNL Jakarta 1 kemudian mengajukan Kasasi ke Mahkamah Agung, hingga akhirnya Mahkamah Agung memenangkan Bank Mandiri dan KPKNL.

Sejalan dengan itu, Agus Sudiarto, Senior Vice President Special Asset Management Bank Mandiri menegaskan bahwa dengan telah keluarnya putusan kasasi yang mempunyai kekuatan hukum tetap, maka tidak ada lagi hambatan untuk pelaksanaan eksekusi. Hal ini juga diharapkan dapat memberikan kepastian bagi investor sehingga akan mempercepat recovery piutang negara.

Terkait dengan gugatan Personal Guarantee terhadap Burhan Uray dan Soejono Varinata yang merupakan penjamin utang PT Biak Minajaya, Bank Mandiri menghormati putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan selanjutnya akan melakukan upaya hukum banding dalam rangka mempertahankan hak Bank Mandiri selaku kreditur.

Gugatan yang diajukan kepada penjamin Biak tersebut pada dasarnya dilakukan dengan mempertimbangkan bahwa debitur dimaksud sudah melakukan self liquidation dan selanjutnya karena asset perusahaan tidak mencukupi untuk memenuhi seluruh kewajibannya maka sesuai ketentuan UU Perseroan Terbatas, likuidator wajib mengajukan permohonan pailit, di mana pada akhirnya Biak dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada 11 Februari 2009.

"Selain daripada itu, Personal Guarantee yang diberikan oleh penjamin telah melepaskan hak istimewa yang diberikan undang-undang, sehingga seharusnya eksekusi Personal Guarantee tidak perlu menunggu penyelesaian aset Biak terlebih dahulu," tambah Agus Sudiarto.

Terlebih, Pengadilan Niaga pada 19 November 2009 telah mencabut status kepailitan perusahaan itu dan telah diumumkan pada 28 Desember 2009 di media cetak.

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...