Skip to main content

ban ilegal

Setelah produsen ban nasional teriak akibat membanjirnya produk impor ilegal menggunakan modus baru (baca: Modus Baru Ban Selundupan Masuk Pasar Indonesia, kompas.com 20/1/2010), akhirnya Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bergerak juga. Direktur Industri Kimia Hilir Kemenperin Tony Tanduk mengirimkan surat nomor 91/IAK/6/2/2010 tertanggal 22 Februari 2010 ke Direktorat Bea Cukai terkait masalah tersebut.

Tony menjelaskan, dari angka impor per tahun memang ada indikasi terjadinya rembesan ban ilegal ke pasar domestik. Modus baru, pelarian nomor HS (Harmonized System) menjadi senjata utama para importir ilegal untuk menyiasati peraturan yang berlaku.

Mengacu Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 14 Tahun 2007 tentang Standardisasi Jasa Bidang Perdagangan dan Pengawasan SNI Wajib Terhadap Barang dan Jasa Yang Diperdagangkan, hanya ada empat produk ban yang wajib SNI. Keempat kategori ban tersebut adalah ban mobil penumpang (termasuk station wagon dan balap), truk dan bus dengan lebar hingga 450 milimeter (mm), ban sepeda motor, dan ban dalam karet untuk mobil yang cocok dipasang pada ban dengan lebar hingga 450 mm.

Saat ini ada dua kategori ban yang bisa masuk ke pasar Indonesia tanpa memiliki SNI, yakni untuk kendaraan bermotor dengan kode HS 40.11.99.10.00 serta ban truk dan bus dengan lebar mulai dari 450 mm (40.11.12.09.00).

"Nomor HS yang tak wajib SNI ini yang dimanfaatkan importir untuk menyelundupkan produknya dari China dan India," papar Tony di Jakarta, Selasa (23/2/2010).

Aziz Pane, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia menjelaskan, dari data asosiasi impor ban non SNI Wajib (HS 4011.99.10.00) meningkat dari US$ 80,2 juta pada 2007 menjadi US$ 145 juta pada 2008. Pada tahun lalu, impor ban non SNI diperkirakan mencapai US$ 120 juta.

"Kalau tahun lalu menurun memang karena krisis, tapi angka berada jauh di atas posisi 2007 lalu. Jika pasar domestik sudah aman, pasti produksi dan penjualan ban baik domestik dan ekspor akan meningkat," tandasnya Azis.

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...