Skip to main content

Kasus pajak Asian Agri

Satgas Pemberantasan Mafia Hukum menemukan indikasi praktik mafia hukum dalam skandal dugaan penggelapan pajak Asian Agri Group (AAG) terkait dengan lambannya penanganan kasus tersebut.

Juru Bicara Satgas Denny Indrayana mengatakan pihaknya menemukan indikasi mafia praktik hukum dalam kasus penggelapan pajak perusahaan milik Sukanto Tanoto itu. Salah satunya, sambung dia, adalah lambannya penanganan kasus itu sejak 2007.

“Sudah 16 kali [berkas perkara] bolak-balik antara Direktorat Jenderal Pajak dan Kejaksaan Agung. Tentu ini menjadi pertanyaan dan menjadi indikasi terjadinya praktik mafia hukum,” ujar Denny kepada pers seusai berkoordinasi dengan lembaga terkait di LP Narkoba Cipinang, hari ini.

Koordinasi Satgas hari ini juga dilakukan dengan menemui saksi kunci kasus tersebut yakni Vincentius Amin Sutanto, mantan karyawan AAG. Vincentius sendiri dihukum 11 tahun pidana penjara karena terbukti melakukan praktik pencucian uang.

Selain Satgas, koordinasi penanganan kasus pajak AAG juga dihadiri oleh jaksa peneliti Kejaksaan Agung, penyidik sipil Direktorat Jenderal Pajak, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) dan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.

“Mafia perpajakan biasanya berpilin atau bersama-sama dengan mafia hukum. [Penyelesaian] kasus pidana pajak sangat penting karena berkaitan dengan roda perekonomian sehingga menjadi fokus Satgas,” ujar Denny.

Kasus dugaan penggelapan pajak oleh AAG diperkirakan merugikan keuangan negara senilai total Rp1,3 triliun.

AAG sendiri diketahui bersedia menyelesaikan kekurangan bayar pajak tersebut, termasuk dengan dendanya.

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...