Tuesday, January 10, 2012

Transfer window: Intinya soal gaji


Di dalam dunia industri sepak bola, pemain, pelatih hingga stadion dan pernak-perniknya merupakan alat produksi bagi para pemodal. Permutasi pemain tak hanya di strategi lapangan hijau, perpindahan antarklub dan dunia transfer pemain pun demikian menarik.

Transfer window Januari merupakan bulan di mana salah satu waktu bursa transfer pemain diperbolehkan oleh regulasi. Saat jeda kompetisi itu, regulator seperti UEFA sibuk dengan otorisasi perpindahan pemain antarklub maupun perputaran uang ratusan juta euro.

Sejarah transfer pemain dimulai lebih dari seabad silam, tepatnya 1885 ketika federasi sepak bola Inggris (Football Association/FA) menetapkan pendaftaran pemain untuk klub. Sebelumnya, para pemain memang bebas membela klub yang disukainya.

Banyak alasan yang melatari perpindahan pemain antarklub, semisal faktor sejarah dan keluarga, dan jelas tak ada loyalitas sejati kecuali penghambaan terhadap pendapatan pribadi berupa raupan uang dan gaji tinggi.

Orang Skotlandia Willie Groves menjadi pemain pertama dengan transfer tertinggi yaitu 100 poundsterling pada 1893 ketika pindah dari West Bromwich Albion ke Aston Villa, yang sama-sama klub liga Inggris.

Nilai 100 pounds masa itu jelas tinggi, tetapi rekor tak bertahan lama. Sunderland memecahkan rekor transfer dengan membeli Alf Common, striker Inggris senilai 1.000 pounds pada 1905 dari klb Middlesbrough.

Di atas langit masih langit, dan Inggris kembali membuat sejarah dengan rekor transfer David Jack dari Bolton Wanderes ke Arsenal seharga 10.890 pounds. Gemericing uang sepak bola tak hanya terdengar dari Inggris, aksi serupa terjadi di liga Spanyol, Italia hingga Prancis.

Tonggak sejarah transfer terjadi di Spanyol dengan menembus nilai 6 digit ketika Luis Suarez, striker Spanyol, dijual klubnya Barcelona ke Inter Milan (Italia) dengan harga 142.000 pounds pada 1961.

Rekor nilai transfer jutaan pounds mulai terdengar dekade 1970-an. Giuseppe Savoldi menjadi pemain termahal pertama dalam bilangan tujuh digit alias jutaan pounds ketika ditransfer Napoli dari Bologna dengan harga 1,2 juta pounds pada 1975.

Striker Prancis, Jean-Pierre Papin mencatatkan namanya menjadi pemain termahal pertama untuk kelas 8 digit ketika AC Milan memboyongnya dari Olympique Marseille dengan mahar senilai 10 juta pounds pada 1992.

Di era milenium, harga pemain kian melambung, para pemodal lebih berani bertaruh untuk alat produksinya. Bagi miliuner pemilik klub, mega transfer dengan pemain bintang adalah bicara gengsi. Lagipula high profile di industri sepak bola modern adalah suatu kebutuhan.

Nama striker Argentina Hernan Crespo terekam dalam sejarah transfer ketika dipinang SS Lazio dari AC Parma dengan nilai 35 juta pounds pada 2000. Namun tahun itu, Crespo bukanlah pemain dengan barcode termahal di jagad bumi.

Miliuner Spanyol Florentino Perez memiliki ambisi mengejar gengsi tertinggi di dunia dengan aksi membajak playmaker Portugal Luis Figo dari Barcelona ke Real Madrid dengan rekor 37 juta poundsterling, beberapa pekan setelah transfer Crespo.

Nama Florentino Perez jelas akan menjadi mastermind dalam sejarah perpindahan pemain. 2001, Real Madrid menjadi Galacticos, klub penuh bintang ketika pemain seperti Ronaldo de Lima, roberto Carlos, Claude Makalele Steve MacManaman dibeli dengan harga tinggi.

Seakan tak puas, Perez kembali memboyong Zinedine Yazid Zidane dari Juventus dengan rekor 53 juta pounds. Harga itu boleh saja wajar karena Zidane pemain terbaik dunia sejak membawa Prancis juara dunia 1998 dan Juara Eropa 2000.

Investasi Perez boleh jadi menghasilkan return yang tak sedikit. Pendapatan klub dari hak siar dan sponsor melonjak, apalagi duet Zidane dan Luis Figo membuat Real Madrid menjadi juara Champions 2002.

Kedatangan David Beckham kemudian juga mendatangkan fulus jutaan pounds untuk penjualan kostum Madrid. Tiga tahun lalu, Perez kembali memimpin Madrid dan langsung merekrut Cristiano Ronaldo dari Manchester United dengan rekor 80 juta pounds, sekitar Rp1,3 triliun.

Investasi terhadap Ronaldo, bintang Portugal itu, bahkan dipagari pula dengan asuransi yang bernilai pertanggungan Rp1,4 triliun. Dampaknya, sepak bola seakan monoton, juaranya itu-itu juga, dan faktanya hanya klub dengan bintang mahal bisa jadi juara di Eropa.

UEFA dan sang ketua Michel Platini pun mengeluarkan regulasi Financial Fair Play (FFP) yang mau tak mau membatasi transfer cap. Sebenarnya sih klub boleh saja membeli pemain dengan harga selangit asalkan neraca keuangannya sehat dan tentunya defisit tak membengkak.

Januari 2012 ini mungkin menjadi waktu yang tepat bagi Roberto Mancini, sang manajer Manchester City untuk diet finansial. Pemain bintang dengan gaji selangit membuat klub penguasa klasemen sementara liga Inggris itu mencatatkan defisit besar.

Musim lalu, klub Eastland itu mencatatkan kerugian 195 juta pounds (Rp 2,7 triliun). Aturan FFP memaksa City harus menekan kerugian secara drastus paling tidak hingga 45 juta pounds hingga 2014.

Dengan postur defisit yang gemuk, City bisa saja terancam tak bisa bermain di Liga Champions Eropa. Menjual sejumlah pemain bintang pun menjadi alternatif solusi diet finansial yang efektif bagi Mancini.

Nama-nama seperti Nedum Onouha, Wayne Bridge, dan Carlos Tevez adalah pemain yang berpotensi dijual, apalgi ketiga pemain itu sudah tidak masuk rencana Roberto Mancini musim ini.

Mantan juara Serie A Italia, Inter Milan pun demikian. Musim lalu, klub itu defisit 69 juta pounds karena pengeluaran klub mencapai 407 juta pounds padahal pendapatan klub hanya 250,6 juta pounds dan hasil penjualan pemain seperti Samuel Etoo hanya mendatangkan uang 72,9 juta pounds.

Kini Inter Milan mulai bersiap-siap menjual bintang-bintangnya. Playmaker Wesley Sneijder bisa saja dilego, dan juga para pemain-pemain tua seperti Diego Milito dkk.

Di Indonesia, transfer pemain jarang ada yang transparan soal harga. Asalkan jangan sampai pemain pindah klub hanya karena diancam atau diintimidasi oleh pengurus federasi. (fahmi.achmad@bisnis.co.id)

No comments: