Thursday, January 26, 2012

Ada nasabah gadai emas Rp105 miliar, keren!!!


Investasi gadai emas berbasis syariah memang mengiurkan saat tren harga komoditas itu naik. Bahkan, dengan bermodal sekitar Rp10 miliar salah satu nasabah dapat memiliki portofolio hingga Rp105 miliar.

Direktur Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia Mulya E. Siregar mengatakan salah satu nasabah melakukan gadai emas syariah secara bertingkat hingga mendapatkan portofolio sampai sepuluh kalilipat, padahal modalnya hanya 10%.

“Itu sudah tidak benar, karena gadai syariah hanya dipakai investasi spekulasi. Hanya mengandalkan kenaikan harga emas,” katanya di Jakarta, 20 Januari 2012.

Iskandar, salah satu Pengawas Bank Syariah Bank Indonesia, mengungkapkan salah satu nasabah yang memiliki portofolio gadai emas mencapai Rp105 miliar melakukan skema gadai secara kombinasi, yakni ‘berkebun emas’ atau ‘angsa emas’.

Namun, dia enggan menyebutkan siapakah nasabah tersebut. “Investasinya menggelembung sampai 10 kali lipat dari modalnya yang hanya 10%,” tuturnya.

Berkebun emas adalah skema gadai dengan memberikan pinjaman dana sekitar 90%--100% dari nilai emas itu sendiri. Kemudian uang yang didapat dari bank dibelikan emas lagi dan digadaikan kepada bank. Skema itu berulang hingga terjadi sampai beberapa tingkat.

Adapun skema angsa emas, nasabah membeli emas dengan cara meminjam dana kepada bank. Bahkan emas terkadang disediakan langsung oleh bank dengan harga yang berkembang saat itu. Hal ini juga menimbulkan blunder saat harga emas turun.

BI akan melakukan batas maksimum nilai gadai emas untuk menghindari spekulasi dari transaksi itu. Salah satu opsi angka maksimum gadai sebesar Rp100 juta.

Berdasarkan data Bank Indonesia per akhir 2011, jumlah nasabah gadai emas syariah mencapai 104.863 nasabah dari total portofolio Rp6,1 triliun.

Dari jumlah tersebut sebanyak 4% atau 4.194 nasabah menguasai Rp3,6 triliun atau sekitar 60% dengan minimum gadai Rp100 juta. Adapun 96% atau 100.669 nasabah menguasai Rp2,5 triliun dengan nilai gadai di bawah Rp100 juta.

No comments: