Seberapa katrok elo?


Entah kenapa pagi ini ingin membahas soal pilihan orang menggunakan handphone (HP). Pemicunya karena omongan salah satu karyawan di salah satu kantor suatu perusahaan.

“Salah sendiri kenapa gak makai BB,” kata si karyawan sambil cengengesan kepada karyawan lainnya.

Si karyawan sebut saja, A, berceloteh soal HP Blackberry atau BB untuk menceritakan salah satu seniornya (sebut saja si B) yang tak sempat membuka milis kantor karena menggunakan HP jenis lain.

Tersenyum saya, tapi bukan untuk mengiyakan perkataan si A, justru sebaliknya.

Simpati saya justru diberikan kepada si B, karyawan yang jadi senior si A. Tentu juga aliran simpati saya bukan karena si B tak mampu membeli BB. Toh si A juga baru bisa punya BB karena berutang lewat kartu kredit.

Bagi saya, komentar si A tersebut boleh dikatakan sebagai ucapan lucu karena katrok dan kampungan. Apa pasal? Banyak faktorlah yang membuat saya tersenyum sinis.

Di pikiran saya, apa salahnya si B tak memiliki BB? Bukankah ini bicara pilihan dan bukan itu kewajiban dia untuk memiliki BB hanya agar dapat melihat informasi dari jaringan milis kantor?

Si B tentu sangat waras untuk tidak terkena sindrom “wajib terhubung dengan kantor” dalam sepekan hari kerja. Si B punya kehidupan sendiri, dia punya keluarga yang diurus, dan tentu saja ngapain setiap menit harus ngecek e-mail?

Saya jadi ingat bagaimana 2 kawan saya yang jadi manager di kantor masing-masing begitu gelisah karena kehidupannya terganggu dengan BB. Kok bisa?

Soalnya mereka diberikan BB oleh kantor dengan fasilitas bebas pulsa karena dibayarkan kantor. Tentu saja, fasilitas tersebut membuat mereka ‘tak sebebas merpati’…

Nah dalam konteks itulah, saya sinis dengan ucapan si A. Bahkan saya coba bandingkankan dengan di kantor saya bekerja, tak ada kewajiban punya BB. Bolak-balik baca Perjanjian Kerja Bersama (PKB) pun tak akan dapat pasal itu.

Beberapa tahun lalu, kantor saya pernah memberikan tawaran fasilitas SIM Card dengan handphone. Fasilitasnya diberikan subsidi pembayaran pula postpaid.

Namun, saya dan hampir semua orang jadi kecele. Fasilitas itu hanya berlaku dua tahun dan selebihnya bayar sendiri. Dan yang bikin kesal, handset nokia yang diberikan ‘Jadul punya’. Mau kirim SMS aja harus 9 langkah baru terkirim? Onde mande….

Sejak itu, saya pikir-pikir dengan tawaran fasilitas kantor. Saat ini sejumlah karyawan di tempat saya bekerja mendapatkan fasilitas netbook dengan kartu koneksi Internet yang sudah dibayarkan pulsanya untuk setahun. Lumayan bukan?

Nah, kalau udah pakai netbook kantor tentu saja mereka wajib untuk memonitor arus informasi lewat Internet.

Namun, kembali soal BB, rasanya tak perlu cengengesan menyela orang lain kalau diri masih katrok bukan? Aah untung saya bukan siapa-siapa.

Comments

Popular posts from this blog

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Ini syarat menjadi pemain sepak bola