Monday, October 10, 2011

Stan Kroenke & zero sum game sepak bola?


Stan Kroenke mungkin tenang tapi jelas tak bisa menahan kegundahan. Dua dari sejumlah klub olah raga miliknya kini menjadi masalah yang kalau dibiarkan bisa memusingkan dan mengurangi pendapatan jaringan bisnisnya tahun ini.

Kroenke merupakan menantu Bud Walton salah satu co-founder Wal Mart, korporasi nomor 18 terbesar dunia. Dia memiliki kekayaan US$3,2 miliar per September 2011 menurut Forbes. Di sepak bola dia dikenal karena menjadi bigboss klub Arsenal- Inggris, tim sepak bola papan atas Eropa.

Kroenke Sports Enterprises adalah pemilik dari Denver Nuggets, klub basket NBA, tim Colorado Rapids (klub sepak bola di kompetisi Major League Soccer), klub hockey Colorado Avalanche di kompetisi NHL, Colorado Mammoth di National Lacrosse League, dan klub St. Louis Rams peserta kompetisi sepak bola Amerika NFL.

Di Arsenal, Kroenke menjadi pemegang saham mayoritas 62,89%. Pada 10 April 2011, Kroenke resmi membeli kepemilikan saham Arsenal milik Danny Fiszman dan Lady Nina Bracewell-Smith, serta langsung menawarkan tender offer 11,75 pounds per lembar dengan total 731 juta pounds.

Arsenal pula menjadi salah satu klub yang membikin galau. Musim ini, klub itu telah kalah empat dari tujuh kekalahan atau terburuk dalam 14 musim karier Arsene Wenger sebagai pelatih The Gunners. Robin van Persie dkk dihajar Manchester United dengan skor mencolok 8-2, lalu tak berdaya saat menghadapi Liverpool, Blackburn Rovers dan Tottenham Hotspur.

Ivan Gazidis, orang kepercayaan Kroenke yang ditempatkan sebagai CEO Arsenal mengatakan sang bos tetap tenang dan Arsene Wenger tak akan kehilangan pekerjaannya.

"Dia telah memiliki banyak pengalaman di olahraga sebagai pemilik klub dan dia mengerti bahwa anda jangan sampai panik karena itu akan merugikan klub," katanya.

Sang pelatih tetap dipertahankan karena laporan keuangan Arsenal per tahun fiskal 31 Mei 2011 memperlihatkan klub mencatatkan pendapatan 255 juta pounds dan laba 50,5 juta pounds. Meskipun klub London itu masih punya utang bersih 97 juta pounds dari sisa utang lama, Arsenal memiliki kas tunai 115 juta pounds di bank.

Namun, Kroenke tetap saja gundah karena mainnya yang lain, klub basket Denver Nuggets tak bisa bermain disebabkan kompetisi NBA dibekukan alias lockout terkait dengan gagalnya kesepakatan pemain dengan pemilik klub soal pembayaran dan gaji.

Kroenke dan para pemilik klub meminta aturan porsi pendapatan dari tiket, iklan dan sponsor diubah menjadi 50:50 karena selama ini pemain mendapatkan bagian terbesar 57%. Lagipula pemain NBA rata-rata memiliki gaji US$5,15 juta per tahun atau di atas Rp230 miliar per tahun (kurs Rp9.000).

Gaji pemain NBA memang tertinggi untuk profesi olah raga. Bandingkan dengan pemain termahal dunia Cristiano Ronaldo yang mendapatkan 11,3 juta pound atau Rp165 miliar per tahunnya.

Kondisi lockout NBA yang berlarut-larut sejak 1 Juli jelas tidak akan menguntungkan Kroenke, meski dia pernah mampu keluar dari situasi serupa bersama Colorado Avalanche di liga hockey NHL pada 2005. Dampaknya, point guart Denver Nuggets Ty Lawson mempertimbangkan kemungkinan bermain di luar negeri karena sudah jengah menunggu kepastian kapan lockout berakhir.

Para bintang NBA seperti Kobe Bryan dikabarkan merapat ke klub basket Bologna Italia. Bahkan pemain seperti Kenyon Martin, JR Smith, dan Wilson Chandler memutuskan untuk bermain di China. Jelas bukan zero sum game bagi pemain dan pemilik klub.

Di sepak bola, soal gaji dan pendapatan pula yang membuat liga Spanyol tertunda satu pekan dan liga Italia nyaris tak bisa dinikmati jutaan fans AC Milan, Juventus dan Inter Milan di Indonesia.

Kondisi Eropa yang tengah krisis finansial karena utang luar negeri membuat salah satu kawan saya melontarkan fantasinya, apakah liga sepak bola di Eropa bisa seperti NBA? Berhenti, dan pemainnya hijrah ke liga Asia, seperti Indonesia misalnya?

Semua jawaban bisa muncul dari kegalauan dan angan melihat pemain bintang sepak bola Eropa di liga Indonesia dapat terwujud kalau jadwal kompetisinya jelas dan tentu saja menenangkan hati pemilik klub seperti Kroenke.

No comments: