Monday, October 24, 2011

Eropa, emas, kejayaan & masa perulangan


L'histoire se repete, se jarah selalu berulang dan Eropa selalu merupakan sejarah yang penuh per ulangan mulai dari masa Romawi hingga keunggulan negara zona euro saat ini.

Eropa sejak beberapa abad terakhir seakan begitu dominan memimpin peradaban dunia, tak terkecuali di olah raga. Siapa yang tak kenal dengan tim nasional sepak bola Spanyol? Mereka matador yang selalu mendapatkan standing ovation dan applaus penuh bangga.

Dulu, Eropa boleh saja menepuk dada karena era keemasan peradaban saat dunia memiliki Charle magne, Alfred the Great, Frederick II.

Namun, masa perang salib dan wabah Bubonik membuat Benua Biru dalam zaman kegelapan nyaris 150 tahun.

Sejarah pencerahan renaissance dimulai pertengahan abad 15, keluarga Medici membuat Italia mulai dominan dengan gilda-gilda perdagangan di Venezia, Pisa, Florence, dan Genoa yang membikin iri orang Arab dan China. Para jenius dunia ada di sana, sebut nama Michael Angelo, Leonardo da Vinci hingga Galileo Galilei.

Di Perugia, ada pelukis hebat Bernardino di Betto alias Pintoricchio atau Pinturicchio. Nama itu kini disematkan kepada Alessandro Del Piero sang pangeran klub Juventus. Kejayaan Italia kala itu boleh disamakan dengan kejayaan sepak bola Serie-A dekade 1990-an yang begitu perkasa dengan AC Milan dan Juventus.

Namun kejayaan itu tak lama, Florence menjadi kota pusat judi Eropa, pemberontakan dan kehancuran melanda Italia. Mirip dengan situasi klub Italia yang kian ka lah pamor di kancah Eropa.

Era itu lalu berganti dengan kedatangan Spanyol dan Portugis. Gold, Glory dan Gospel dibalut teknologi hasil renaissance menjadi mantra sakti para pelaut Portugis yang dipimpin Henry the Navigator (1394-1460).

Jika dulu Portugal memiliki Alfonso de Albuquerque, Magellan, Bartholomeu Diaz dan Vasco da Gama, kini mereka masih memiliki tokoh sepak bola terbaik dunia Cristiano Ronaldo dan Jose Mourinho yang mengikuti jejak emas Eusebio, Luis Figo, dan Rui Costa.

Di sisi lain, Spanyol juga tak mau kalah. Kemenangan pasukan asuhan Vicente del Bosque pada final Piala Eropa 2008 di Wina Austria serasa seperti Columbus menemukan Benua Amerika dan menguasai emas dan komoditas agrobisnis Amerika Latin.

Lima kali juara Era Real Madrid yang menguasai sepak bola melalui lima kali juara Piala Champions 1956-1960 diwarnai petualangan Alfredo di Stefano dan Ferenc Puskas, mungkin sama pula dengan kisah Hernando Cortez dan Fransisco Pizarro.

Mereka adalah conquistadores, datang dan menguasai wilayah. Hernando Cortez terkenal karena membawa Spanyol menaklukkan bangsa Aztec. Pada 1521, Cortez dan mengalahkan raja Aztec Montezuma dan Meksiko pun luluh lantak serta emasnya dikuasai orang-orang Spanyol.

Pada 1532, Francisco Pizarro berhasil menaklukkan peradaban Inca di wilayah Peru yang lebih kayak dari Aztec. Penguasa Inca Atahualpa dengan ribuan pasukan dikalahkan Pizarro yang hanya membawa 200 orang Spanyol.

Sejak itu Spanyol menjadi negara terkaya di Eropa bahkan di dunia. Kerajaan bekas Andalusia itu memiliki kapal Galleon yang memboyong harta jajahan. Mereka dikenal sebagai Spanish Treasure Fleet, armada harta karun Spanyol.

Kejayaan Spanyol tak hanya di benua Amerika semata, pengaruhnya juga menyaingi Portugis hingga Afrika, Filipina, Maluku, dan China.

Afrika Selatan juga menjadi tempat bagi cerita sukses Spanyol yang akhirnya menjadi juara Piala Dunia 2010 setelah 16 kali mengikuti kompetisi supremasi sepak bola sejagat tersebut.

Namun, tak ada yang abadi. Ekonomi Spanyol yang hanya mengandalkan harta jarahan dari wilayah jajahan tak bertahan lama karena digerogoti bajak laut Karibia, armada Inggris, Belanda dan Prancis, serta keganasan samudera.

Saat ini, cerita itu seperti berulang. Portugal, Spanyol, Yunani, Italia tak mampu mengendalikan ekonominya yang terpapar krisis utang luar negeri. Lembaga pemeringkat Moody's dan Standard & Poor's telah memangkas peringkat utang mereka.

Hanya sepak bola yang mungkin membuat Italia, Spanyol, Yunani masih bisa mengangkat dagu.

Mereka menatap harapan di Euro 2012 dan Piala Dunia 2014, mencoba lepas dari bidikan negara sesama Eropa dan tentu saja bekas wilayah jajahan di Amerika latin seperti Brasil, Argentina dan Uruguay. Setidaknya kita diingatkan akan pepatah bahwa setiap masa memang ada orangnya dan setiap orang ada masanya.

No comments: