Sunday, October 2, 2011

Dialektika imajinasi & pengetahuan di sepak bola


Dahulu orang begitu mengagungkan prinsip ipsa scientia potestas est (pengetahuan adalah kekuatan). Kalimat Francis Bacon itu diejawantahkan sebagai: kuasai pengetahuan dan Anda akan kuat dan berkuasa.

Zaman sekarang, pengetahuan ternyata tidaklah cukup alias obsolete. Mengembangkan ilmu pengetahuan tak lagi sekadar minat semata melainkan keharusan dengan tujuan menjadi bangsa yang unggul di dunia.

Di sepak bola juga demikian, menjadi yang kuat dan unggul adalah yang mengembangkan pengetahuannya untuk menang. Jerman jadi negara contoh sempurna bagaimana sistem sepak bola dibangun di akademi-akademi sejak usia dini dengan dasar teknik hasil penelitian para profesor olahraga.

Hasilnya Jerman juga menjadi negara yang tampil 17 kali dari 19 putaran final piala dunia. Pada ajang 1930 dan 1950, Jerman absen karena faktor perang dunia.

Negara yang dipimpin Kanselir Angela Merkel itu sanggup mencapai 12 kali babak semifinal dengan tiga kali juara dunia, empat kali runners-up, empat kali juara ketiga dan sekali juara keempat. Di Eropa, Jerman sanggup tiga kali juara dan tiga kali runners-up.

Di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, Jerman bahkan menjadi satu-satunya tim yang menggunakan fasilitas teknologi canggih Cisco Tele Presence buatan Cisco dan Deutsche Telekom.

Fasilitas itu membuat timnas Jerman selalu terhubungkan dengan markas DFB di Frankfurt, Berlin, Hamburg, Munich, Stuttgart, Dusseldorf, dan Bonn.

Stabilitas juga menjadi kata kunci dalam karakter pengetahuan Jerman. Pekan ini, Bayern Muen chen seperti mengajarkan sepak bola kasta Eropa kepada Manchester City, klub Inggris yang bertabur pemain bintang mahal.

Muenchen memang empat kali juara Liga Champions dan empat kali pula menjadi runners-up termasuk pada 2010 ketika dikalahkan Inter Milan di Madrid. Tak hanya soal gelar, kematangan manajemen dan arus kas klub yang positif jadi keunggulan tim Jerman.

Klub dengan presiden Uli Hoenes dan presiden kehormatan Franz Beckenbauer tersebut seperti tak gentar dengan kondisi Uni Eropa yang tengah repot dalam menangani krisis utang luar negeri.

Muenchen beruntung mengontrak Tom Fox, mantan tokoh NBA--liga basket AS--sebagai direktur komersial yang terbukti manjur membuat FC Hollywood bebas utang klub pada musim ini serta mencetak keuntungan transfer 30 juta euro.

Coba bandingkan dengan Man City yang justru berutang 75 juta pounds dengan utang ke klub lain yang mencapai 81 juta pounds.

Aturan keras Sebenarnya tak hanya Bayern Muenchen yang sehat finansial, DFB sebagai otoritas Bundesliga memang mensyaratkan aturan keras dengan hukuman degradasi bagi klub yang membukukan utang lebih besar dari pada pendapatan.

Klub-klub sepak bola Jerman juga dibatasi aturan lisensi mengenai lisensi yang terkait dengan kewajiban pelaporan likuiditas, integritas keuangan seperti proyeksi pendapatan per pertandingan, perolehan iklan, hasil transfer hingga proyeksi gaji dan laba rugi. Tanpa itu, lisensi tak keluar!

Tak hanya itu, manajemen klub juga punya kewajiban bikin proyeksi yang positif untuk 5 tahun ke depan dan meski te lah mengantongi lisensi, klub Jerman tetap harus menyetor 3 periode laporan keuangan ke Bundesliga.

Memang ada sedikit kompleks karena banyak klub Jerman yang terkait dengan kepemilikan korporasi. Dampaknya, laporan keuangan klub terkonsolidasi ke neraca korporasi induk.

Sebagian kepemilikan Muenchen dipegang Audi dan Adidas, Bayer Leverkusen dimiliki produsen kimia Bayer, ataupun Wolfsburg dengan Volkswagen.

Positifnya, hingga kini belum pernah ada dalam sejarah klub Jerman yang bangkrut atau gagal menyelesaikan kompetisi hanya karena krisis keuangan. Dan dengan teknologi, mereka mampu membangun 11 stadion elite UEFA dan itu terbanyak di Eropa.

Sayangnya, prestasi Jerman mungkin hanya bermuara di Bayern Muenchen dan sudah lama tak lagi kita mendengar kisah sukses duet Lembah Ruhr, Borussia Dortmund dan Schalke 04, Werder Bremen ataupun Vfb Stuttgart.

Mungkin Albert Einstein benar bahwa imajinasi justru lebih utama dari pengetahuan karena pengetahuan itu terbatas dan imajinasilah yang mendorong kreativitas unggul yang akan mendatangkan lompatan-lompatan besar peradaban.

Dan karena itu mungkin saja permainan imajinatif Brasil sebagai satu-satunya yang mampu mengikuti seluruh 19 putaran final FIFA World Cup dan juara dunia hingga lima kali. (fahmi.achmad@bisnis.co.id)

No comments: