Sunday, September 18, 2011

Sepak bola & krisis finansial Eropa, suatu paradoks?


Eropa bisa dikatakan sebagai kawasan yang tengah sakit. Negara negara di Benua Biru tersebut tengah menderita karena digerogoti krisis ekonomi yang amat sangat serius.

Yunani, negeri para dewa ditolong Uni Eropa dengan US$155 miliar, Portugal mendapatkan injeksi US$5,4 miliar dari dokter--kalau tidak bisa dikatakan dukun--IMF, Italia harus merayu China untuk membeli obligasi negaranya.

Kelesuan ekonomi bahkan membuat Inggris harus bermuram durja dengan kerusuhan London pekan pertama Agustus 2011.

Bahkan National Institute of Economic and Social Research per 7 September 2011 menyebutkan ekonomi Inggris hanya tumbuh 0,2% untuk masa 3 bulan terakhir.

Globalisasi, seperti kata Franklin Foer dalam buku How Soccer Explains the World, membuat sepak bola juga tak bisa dipisahkan dengan kondisi ekonomi global. Sport follow the economy! Lembaga akuntansi PKF (U.K.) LLP menyebutkan kelesuan ekonomi membuat mayoritas klub sepak bola di Inggris tak mampu menaikkan gaji pemain terkait dengan raihan penjualan tiket dan kostum pemain yang tak menggembirakan.

Fakta itu didapat PKF dari hasil survei yang dilakukan mereka terhadap para direktur keuangan dari 41 tim sepak bola di Inggris.

Sebanyak 51% dari klub yang disurvei menyebutkan angka penjualan tiket musim lalu tercatat turun dan 54% dari mereka mengatakan hasil penjualan kostum dan merchandise terpangkas. Para fans club kini terpaksa melihat kostum replika sebagai pajangan mewah ketimbang menjadi kebutuhan mereka.

Namun, 34% dari responden menyebutkan pendapatan dari sponsor justru naik dan hanya sedikit dari klub Liga Primer yang mampu merangkul sponsor korporasi besar.

Parahnya, kata Trevor Birch, salah satu pejabat PKF, kebanyakan klub justru menjual para pemain saat masa transfer sebelum musim 2011-2012 dimulai.

Musim ini, hanya lima klub dari responden yang mampu menaikkan gaji pemain tanpa menambah jumlah skuat.

Aturan Financial Fair Play yang dikembangkan UEFA dengan sanksi keikutsertaan di Liga Champions sebenarnya lumayan efektif diterapkan para klub. Sebanyak 67% dari responden survei PKF menyatakan akan mematuhi aturan itu, dan 75% klub a liga primer Skotlandia juga bersikap sama.

Pasar transfer Ironisnya, Premier League kini menjadi liga dengan jumlah total transfer tertinggi di dunia.

Lembaga keuangan Deloitte mencatat ada 485 juta pounds atau setara dengan Rp6,7 triliun yang dikeluarkan 20 klub di bursa transfer musim panas lalu.

Nilai itu naik 33% dibandingkan dengan hasil aktivitas yang dilakukan pada periode yang sama tahun lalu, yakni sebesar 120 juta pounds atau Rp1,6 triliun.

Klub-klub papan atas seperti Arsenal, Chelsea, Liverpool, Manchester City, dan Manchester United menjadi klub yang paling dominan dengan mengeluarkan dana lebih dari 50 juta pounds (Rp691 miliar) atau 66% dari nilai total transfer.

Hal yang menarik, para klub tersebut mengeluarkan 205 juta pounds atau setara dengan Rp2,8 triliun untuk membeli pemain internasional.

Jumlah itu hanya 42% dari total jumlah transfer, dan hal tersebut tercatat turun dibandingkan dengan musim lalu yang porsinya mencapai 75%.

Talenta pemain lokal kian diakui dan klub pun menggelontorkan 165 juta pounds (Rp2,2 triliun) untuk membeli pemain asli Inggris atau 34% dari total transfer.
Entah itu karena sekadar mematuhi aturan FA dan UEFA, atau memang pemain lokal lebih murah?
Lain lagi dengan cerita di Rusia. Kenaikan harga emas yang terus mendekati US$2.000 per troy ounce menguntungkan Anzhi Makhackala, klub kaya baru yang dimiliki Suleiman Kerimov.

Sang taipan menggelontorkan 100 juta euro (US$136 juta) untuk memborong para pemain bintang seperti Samuel Eto'o dari Inter Milan hingga Yuri Zhirkov dari Chelsea agar bermain di selatan Dagestan, kota yang masih diwarnai konflik separatis.

Kerimov yang memiliki kekayaan US$7,8 miliar, kata majalah Forbes, merupakan pemilik OAO Polyus Gold, produsen emas terbesar di Rusia dan dia mengendalikan OAO Uralkali, produsen bahan kimia terbesar dunia.

Dari semua fakta tersebut, teman saya tiba-tiba cuma bertanya “Apa kabar sepak bola Indonesia?“. Ah, silakan Anda jawab sendiri. (fahmi.achmad@ bisnis.co.id)

No comments: