Tuesday, March 27, 2012

Big Ben, GMT, Flemming, Pembagian zona waktu

Saya mungkin beruntung bisa melihat langsung Big Ben di London maupun Little Ben di Bukittinggi. Menikmati Big Ben di London memang suatu kemewahan. Maklum London adalah kota yang menjadi tuan rumah bagi alat tolak ukur waktu di seluruh dunia.


Di London kita tahu ada patokan GMT. Namun sebenarnya apa sih Greenwich Mean Time (GMT)?

GMT disusun berdasarkan jalan lintasan Matahari pada garis nol meridian di Greenwich Obeservatory di tenggara Kota London yang kemudian ditetapkan menjadi standar waktu dunia pada pertemuan di Washington, AS pada 1884.


Ketika itu, Prancis telah melobi supaya Paris Mean Time (PMT) yang diakui.

Kemudian pada 1972 GMT diganti Universal Co-ordinated Time (UTC), meski sebenarnya dasarnya sama. UTC berbasis dari 400 jam atom yang berada di laboratorium di seluruh dunia, namun kemudian terkoreksi “lompatan detik” karena harus menyamakan dengan kecepatan rotasi bumi yang berubah-ubah.

GMT yang diperkenalkan sejak 1675 di pinggiran kota London, tak lebih dari sekadar monumen standar waktu Greenwich untuk konsumsi para turis lanjut usia.

Dan seiring abad baru yang menyingsing, globalisasi telah melupakan nama Sir Standford Fleming (1827-1915), seorang Kanada yang merumuskan pembagian zona waktu dunia pada 1878.

Berdasarkan fakta astronomis bahwa bumi menyelesaikan rotasinya setiap 24 jam, bagai membelah jeruk Fleming membagi 360 derajat bola dunia menjadi 24 zona waktu.

Itu berarti, setiap wilayah selebar bujur 15 derajat sama dengan satu jam. Dengan asumsi bahwa Greenwich berada di garis bujur 0 derajat, belahan dunia di sebelah barat memiliki zona waktu –1 sampai –12.

Sedangkan belahan dunia di sebelah timur memiliki zona waktu +1 sampai +12. Pembagian zona waktu memungkinkan posisi matahari pada pukul 12 siang di suatu wilayah terlihat tidak jauh dari titik puncak (zenith).

Zona waktu Fleming berhasil mengompromikan waktu matahari berbagai negeri (waktu setempat) yang dulu membingungkan para pelancong, pengelola kereta api transnasional, dan pelaut.

Mengikuti aturan Fleming, Rusia yang selebar 165 derajat memiliki paling banyak, yaitu 11 zona waktu, mencakup Kaliningrad di Laut Baltik. Amerika Serikat terbagi dalam sembilan zona waktu; enam di negara bagian dan tiga di teritori lainnya. Kanada punya enam.

Di belahan bumi lain, sejumlah negara sengaja mengesampingkan aturan. Republik Rakyat Cina selebar 65 derajat yang semestinya terbagi dalam lima zona waktu, mengadopsi satu (single time, GMT+8); menyesuaikan New York, Chicago, Denver, dan Los Angeles (GMT-8). India merupakan negara besar kedua yang menganut satu zona waktu (GMT+5:30).

Penerapan satu zona waktu di China menciptakan “keajaiban dunia” kedua setelah Tembok China. Di ujung barat China, matahari di atas kepala akan terlihat pada pukul 15:00 dan pukul 11:00 di ujung timur.

Perbedaan ekstrem terasa ketika berada di perbatasan China dan Afganistan. Dalam jarak hanya 76 km, kedua negara tersebut berselisih waktu tiga jam 30 menit! Sepanjang tahun 1912-1949, Xinjiang dan Tibet memilih GMT+6.

Menyusul Partai Komunis China berkuasa sejak 1949, pemerintah mengubahnya menjadi GMT+8. Kalau kebetulan berbisnis di Xinjiang atau berlibur di Tibet, biasakan melihat warga setempat melakukan urusan mereka dua jam lebih telat dari biasanya. Makan siang mulai pukul 14:00, jam pulang kerja pukul 19:00.

Demi uang, kota-kota bisnis seperti Kunming, Chengdu dan Chongqing rela “berbohong” dengan menyatakan mereka berada di GMT+8 (semestinya +7) agar sama dengan Hong Kong.

Secara geografis, Seoul di Korea Selatan berada di zona +8. Ketika Jepang menganeksasi Semenanjung Korea pada 1910, zona waktu Seoul bergeser ke +9 atau sama dengan Tokyo hingga sekarang.

Ketidakwajaran zona waktu China justru mengilhami ketidakwajaran baru. Melalui Perserikatan Bangsa-bangsa, pada 20 Mei 2003 Presiden George Walker Bush telah mengajukan proposal penyatuan zona waktu dunia yang disebut Single Universal Time Zone.

Di Asia Tenggara, kelompok negara berbendera Association of South East Nations (ASEAN), sejak Desember 1995 bahkan terlebih dahulu terobsesi menyatukan zona waktu seluruh ibu kota negara anggota yang disebut Asean Common Time (ACT).

Sembilan bulan berselang, sidang kelompok kerja Asean bertemu di Jakarta dengan tidak menghasilkan apa-apa soal ACT.

Semua ibukota negara Asean berada di empat zona waktu: +6, 7, 8, 9. Mayoritas di antaranya berada di zona +7 dan +8; satu di +6. Cuma Rangoon di Myanmar (GMT+6:30) yang paling mendekati zona waktu seharusnya.

Singapura dan Malaysia merupakan dua contoh negara di zona waktu barat yang bergeser ke timur. Bayangkan, Singapura yang terletak lebih barat daripada Pulau Jawa (waktu Indonesia barat/WIB), sejak 1982 malah memilih zona +8 atau sama dengan waktu Indonesia tengah (WITa).

Ini yang menjelaskan mengapa matahari terbit di Singapura (07:00 SST/Singapore Standard Time) terlihat kesiangan daripada di Jakarta (05:35 WIB).

Matahari di Singapura seolah-olah terbenam satu jam lebih lambat (19:03 SST) daripada di Jakarta (18:04 WIB). Di balik itu, Singapura sebetulnya sedang mengoptimalkan manfaat sinar matahari bagi aktivitas kehidupan warganya.

Nyatanya, ACT gagal diwujudkan. Ahli geografi mana pun akan menyatakan, bujur seluruh negara Asean terlalu lebar (51 derajat), sehingga mustahil mengadopsi hanya satu tolak waktu (tapi di China kemustahilan ini dikecualikan).

Jadi? aah biarlah waktu di dunia berbeda-beda...