Monday, February 6, 2012

Pesepakbola juga bisa pailit n bangkrut

Dunia sempat terkejut ketika tahu Eastman Kodak Corporation, perusahaan pelopor film fotografi dinyatakan pailit. Apa yang membuat kebangkrutan perusahaan raksasa tersebut?

Banyak sebab, tetapi pada masa perubahan yang begitu cepat, Kodak dinilai banyak pengamat terlalu cepat puas dengan hasil riset dan tak berani mengembangkan produk-produk teknologi baru seperti IBM dan Xerox Corp.

Cerita pailit dan bangkrut bisa terjadi kepada siapa saja dan di mana saja. Di sepak bola, kebangkrutan juga terjadi kepada para pemain bintang, seperti roda kehidupan yang menurun setelah mencapai titik kulminasi atas.

Anda kenal Lee Andrew Hendrie yang beken disapa LEE HENDRY? Para penikmat sepak bola Inggris setidaknya cukup akrab dengan pemain tengah yang lincah itu.

Pemain berusia 34 tahun itu pada pekan lalu dinyatakan berstatus pailit dan bangkrut dengan nilai utang sekitar 200.000 pounds. Pengajuan status bangkrut ini diajukan oleh HM Revenue and Customs pada 19 Desember 2011 dan ditetapkan oleh Pengadilan Tinggi London pada 28 Januari 2012.

Lee Hendrie merupakan mantan bintang Aston Villa selama 1995-2007 dengan 251 game dan 27 gol yang menghasilkan 2 trofi Piala Liga. Untuk timnas Three Lions Inggris, Hendrie mencatatkan 1 cap pada 1998 ketika dia masuk menggantikan Paul Merson.

Selama 2007-2010, Hendrie masih laku sebagai pemain pinjaman di Sheffield United, Leicester City, Blackpool, Derby County, Brighton & Hove ALbion dan Bradford City.

Awal 2011, Lee Hendrie sempat bikin geger Indonesia ketika bergabung dengan Bandung FC di Liga Primer Indonesia. Dia bahkan menjadi pemain asing dengan bayaran termahal sekaligus eks Premiere League pertama yang bermain di Indonesia.

Selama nyaris 6 bulan, dia digaji Bandung FC sebesar US$550.000 atau sekitar Rp4,95 miliar untuk menghibur para bobotoh di Kota Kembang Bandung.

Paruh kedua 2011, Hendrie masih sempat bermain untuk Daventry Town, lalu Kidderminster Harriers yang berada di liga Conference National, kompetisi yang berada empat tingkat di bawah Premiere League.

Kebiasaan berutang dan hidup mewah menjelang akhir keemasan karier membuat Lee Hendrie terjerat utang yang membesar.

Dampaknya Lee Hendrie mau tak mau harus menjual mansion-nya senilai 1,7 juta pound yang terletak di Rowington, Warwickshire Inggris untuk membayar utangnya yang kini menjadi tanggungan kurator yang ditunjuk pengadilan.

Lee Hendrie seakan mengulangi sejarah kelam pesepakbola yang bangkrut di ujung kariernya. Fans sepak bola tentu kenal George Best, pemain Irlandia Utara yang menjadi maha bintang di Manchester United (MU) selama 1963-1974.

George Best mungkin adalah raja MU yang paling dicintai, di atas Fergie Babes (didikan Sir Alex Ferguson) seperti Eric Cantona, David Beckham, Cristiano Ronaldo dan bahkan Wayne Rooney. Best membela MU selama 361 pertandingan dengan 137 gol.

Best mengantarkan MU juara Piala Champions pertama pada 1968 dan membuatnya meraih Ballon d'Or tahun itu dan sejumlah penghargaan lainnya termasuk masuk daftar Hall of Fame pemain terbaik sepanjang masa di Eropa.

Dia bermain sepak bola selama lebih dari 21 tahun dan sempat berlabuh di klub di Afrika Selatan dan Amerika Serikat. Namun, dia menghabiskan pendapatan selama kariernya sebesar US$100 juta sebagai seorang alkoholik, mobil mewah dan wanita. Dampaknya, kebangkrutan dan status pailit pun menjadi bagian dari sejarah sang legenda tersebut.

Tak hanya para pemain, klub sepak bola juga tak lepas dari intaian bangkrut dan jeratan pailit. Pada Desember 2011, klub sepak bola Swiss, Neuchatel Xamax mengajukan status pailit ke pengadilan agar tak dikejar-kejar bayaran utang.

Situasi keuangan yang parah sebenarnya terjadi sejak lama dan puncaknya ketika manajemen klub beralih ke pemilik baru. Pengusaha asal Chechnya, Bulat Chagaev membeli Xamax pada Mei 2011 dari Bernasconi Sylvio, dengan nilai 1,2 juta franc Swiss.

Namun kondisi ternyata makin parah karena Chagaev gagal untuk membayar pemainnya selama beberapa bulan dan tidak membayar pajak gaji.

Federasi sepak bola Swiss SFL pun memberikan sanksi denda dan pengurangan poin kepada Xamax. Bahkan Chagaev masih saja memalsukan dokumen bank terkait solvabilitas keuangan klub, saat dia disidang kepailitan.

Xamax pun harus menguburkan mimpinya sebagai klub papan atas Swiss dan sekaligus mengikuti jejak klub Servette yang juga harus kolaps karena utang yang membengkak pada 2005.

Krisis finansial Eropa juga sebenarnya menyengat tajam bagi klub-klub Eropa saat ini. Di La Liga Spanyol, nama besar Real Zaragoza dipertaruhkan dan terancam gulung tikar bila mantan klub striker David Villa itu tak mampu menyelesaikan utang 110 juta euronya.

Tak hanya Zaragoza, klub lainnya semacam Real Mallorca, Rayo Vallecano dan Espanyol juga menghadapi risiko kebangkrutan jika tak pandai-pandai menata utangnya.

Kekhawatiran akan utang yang berujung bangkrut juga menjadi hal yang diperhatikan klub-klub Inggris. Saat bursa transfer Januari 2012 (window transfer), menurut Deloitte, para jawara Inggris hanya menghabiskan 60 juta pounds atau anjlok 70% dibandingkan tahun lalu, untuk membeli pemain.

Bisa jadi klub sepak bola Eropa kini merancang strategi financial fair play yang diusung UEFA. Pada periode 2011-2014, klub dibatasi memiliki defisit neraca keuangan maksimal 45 juta euro. Tahap kedua 2014-2017, maksimal defisit ditekan menjadi 30 juta euro.

Pada tahap kedua, klub akan diwajibkan membereskan semua kerugian dengan cara peningkatan modal atau donasi dan tidak diperkenankan melalui cara pinjaman.

Tahap ketiga 2017-2018, klub hanya bisa mengeluarkan uang jika mendapatkan pemasukan yang menguntungkan. Kalau ternyata masih defisit juga, ya terpaksa nasib klub sepak bola bisa seperti Kodak yang pailit.

No comments: