Tuesday, February 21, 2012

Jeratan utang Glasgow Rangers & Portsmouth




Coba tanya ke Robin van Persie, top skor terbanyak sementara di Liga Inggris dengan 22 gol, siapa klub impiannya? jawabannya bukan Arsenal, klub yang diperkuatnya kini. Bukan pula Barcelona, AC Milan, Bayern Muenchen ataupun klub elit lainnya.

Van Persie ternyata begitu menyukai Glasgow Rangers, klub elit Skotlandia. Striker timnas Belanda itu pernah terpesona ketika bermain untuk Feyenoord Rotterdam dan menghadapi Rangers di kandang mereka di Ibrox Stadium.

Nama Glasgow Rangers menjadi buah bibir dalam sepekan terakhir karena krisis finansial. Dampaknya Rangers masuk dalam pengelolaan administratur dan parahnya terkena sanksi pengurangan 10 poin dari pencapaian di klasemen saat ini.

Akibatnya membuat klub yang berdiri pada 1872 tersebut tak bisa mempertahankan gelar juara yang diraih tahun lalu dan tak mampu mengejar Glasgow Celtics, rival sejatinya yang memimpin klasemen sementara Liga Skotlandia.

Soal duit pula yang membuat para fan Rangers meradang. Kekuatan finansial bagi mereka adalah mutlak jika ingin mempermalukan fan Celtics, klub sekota yang didirikan 1887, atau berselisih usia nyaris 15 tahun. Fan Rangers jelas tak ingin kehilangan muka di depan seteru mereka.

Permusuhan fan sekota itu memang sangat kental dan tak sekedar persaingan soal sepak bola. Isu sektarian dan agama juga mengemuka bila mengingat para Gers (suporter Rangers) yang mayoritas umat Kristen Protestan menghadapi fan Celtics yang identik dengan Katolik. Soal gelar, kedua tim juga bersaing ketat di mana Gers telah mengoleksi 51 kali juara liga, Celtic membayangi dengan 42 gelar liga.

Apalagi kala derby pertama di pertandingan persahabatan pada 1888, Celtics justru menang 5-2. Liga Skotlandia baru dimulai musim 1889/1890 dan publik selalu menyebut pertemuan kedua tim dengan istilah derby The Old Firm.

Kini, nasib Rangers memang boleh dikatakan apes. Selama 23 tahun terakhir, Gers sebenarnya mendapatkan banyak keuntungan dengan sentuhan midas David Murray.

Pada November 1988, David Murray yang baru berusia 37 tahun membeli Gers dengan nilai 6 juta pounds dari Lawrence Marlborough.

Sementara itu, seteru Gers, Glasgow Celtic pada 1994 justru yang nyaris pailit dan masuk pengawasan administrasi karena utang 7 juta pounds. Celtic beruntung, pebisnis Fergus McCann muncul sebagai malaikat dengan membeli 51 saham dan membawa klub melantai di London Stock Exchange.

Adapun Rangers di bawah kepemimpinan Murray kian mentereng dengan 15 gelar liga dan 26 piala termasuk pernah mengontrak megabintang seperti Brian Laudrup (Denmark) dan Paul "Gazza" Gascoigne, sang playmaker Inggris.

Pada 1998, Celtic mulai memutus dominasi Gers. Murray pun mulai gelagapan dan bertingkah di luar naluri bisnisnya dengan membeli pelatih dan pemain mahal. Dampaknya, utang klub menumpuk dan pada 2002, Gers berutang 80 juta pounds.

Pada 2004, Murray cukup cerdas dengan melakukan share issue dan meraup dana publik 51 juta pounds. Utang klub pun dimasukkan dalam pembukuan induk usaha Murray International Holdings (MIH). Pada 2006, utang klub tersisa 6 juta pounds.

Ambisi besar membawa konsekuensi dengan pelatih Paul Le Guen yang membeli pemain mahal dan utang klub kembali melenting menjadi 30 juta pounds. Pada 2010, utang induk usaha MIH menjadi 175 juta pounds.

April 2010, MIH mulai menghadapi sengketa dengan instansi pajak Inggris, Her Majesty's Revenue and Customs (HMRC). Hal itu karena Murray menggunakan skema Employee Benefit Trusts (EBT) dan mengalihkan kewajiban pajak perusahaan kepada pegawainya.

6 Mei 2011, Murray terpaksa menjual klub kepada Craig Whyte dengan nilai hanya 1 poundsterling. Angka tersebut karena klub masih memiliki utang belum terbayar sebesar 22 juta pounds ke kreditur, termasuk 18 juta pound kepada Lloyds Banking Group.

Akuisisi itu menyisakan kontroversi karena ada pihak-pihak yang menghendaki pemerintah dan otoritas liga mengklarifikasi adanya dugaan perjanjian finansial tertentu dalam proses pembelian saham.

Kasus pajak dan kekalahan pengadilan melawan HRMC membuat Rangers dikenai sanksi denda US$49 juta. Namun Paul Clark dan David Whitehouse, dua adminsitrator dari Duff and Phelps yang ditunjuk pengadilan, menilai masa depan Rangers masih cerah.

Krisis finansial tak hanya di Skotlandia, nyaris semua liga utama Eropa juga menghadapi bayang-bayang jeratan utang. Bulan lalu, Neuchatel Xamax (Swiss) mengajukan status pailit ke pengadilan karena sang pemilik Bulat Chagaev (pengusaha Chechnya) tak mampu membiayai operasional klub.

Di Spanyol, klub-klub papan tengah seperti Espanyol, Real Mallorca, dan bahka Real Zaragoza harus mampu melakukan financial engineering untuk menutupi tagihan utang 110 juta euronya.

Kasus teranyar pekan kedua Februari 2012 justru muncul dari tanah Inggris, di mana Portsmouth FC mengirim permohonan kepada Pengadilan Tinggi agar dimasukkan dalam pengawasan administrasi, dan itu mengulangi kisah kelam serupa pada 1998 dan 2009.

Portsmouth, klub yang pernah dilatih Terry Venables, Jim Smith hingga Harry Redknapp itu memang bermasalah sejak beberapa tahun terakhir, Nama-nama konglomerat keluar masuk menjadi pendonor seperti Milan Mandaric, Sulaiman Al Fahim, Ali Al-Faraj, Alexandre Gaydamak, dan Balram Chainrai.

Pada 2011, Vladimir Antonov sang pemilik baru lebih parah karena dua bank miliknya di Lithuania dan Latvia disita pemerintah. Dia bahkan ditangkap di London pada 29 November sebelum akhirnya bebas dengan dana jaminan. Kini Portsmouth menghadapi gugatan HMRC dengan nilai sengketa pajak 1,6 juta pounds.

Nasib klub di tengah krisis keuangan di Eropa bisa jadi ibarat telur di ujung tanduk. Mungkin para klub bisa keluar dari jeratan utang tetapi jelas membeli pemain mahal seperti Robin van Persie tak akan mudah bagi Rangers kala sehat nanti.

No comments: